World in Her Lens

image by : http://www.indiaeducation.net


“I fell in love with your eyes, with your smile, with your gestures, with the you whom love your camera as if it was your whole life, with the world you’ve seen through your lens, with your sadness and joy, with everything that makes you yourself. ”

Riuh tidak mampu diredam oleh lagu Sheila On 7 yang diputar lewat speaker kecil di ujung ruangan berukuran tiga meter kali tiga meter itu. Dinding yang dicat biru muda tertutup oleh berbagai potret dari event-event yang pernah mereka datangi. Di ujung ruangan, sebuah lemari hitam diletakkan merapat ke dinding. Berisi album dari foto-foto yang dirasa tidak cukup layak ditempel di dinding. Juga beberapa piala dengan nama pemenang yang berbeda-beda. Di sisi lemari, ada dispenser yang sedang menyala. Juga beberapa boks sereal dan kopi instan siap seduh yang jadi teman anggota klub fotografi menghabiskan waktu.

Di tengah ruangan, tiga orang duduk dikelilingi yang lain. Haru merebak. Dan satu-satunya hal yang ingin Daniel lakukan sekarang hanyalah keluar dari ruangan ini sehingga ia bisa menghirup udara segar sebanyak yang ia mau.

Dua jam yang lalu, kepala sekolah baru saja selesai memberikan ceramah panjang di depan lapangan. Upacara pertama dimulainya semester dua. Tidak akan sepanjang itu kalau saja kepala sekolah mereka, Pak Subandi, tidak menambahkan agenda tentang Ujian Nasional dalam pidatonya yang sudah sepanjang jembatan Tiajin.

Semester dua di Garnus berarti berhentinya kegiatan ekstrakulikuler bagi semua kelas dua belas. Baik itu OSIS maupun kegiatan klub lainnya. Dan dampaknya bisa dilihat sekarang, saat Daniel sedang memutar otak tentang bagaimana caranya ia bisa kabur dari adegan mengharukan melepasnya tiga seniornya di klub fotografi.

“Pengumuman Open Recruitment udah dipasang?” tanya Herman, ketua fotografi yang baru saja dilantik tahun baru kemarin. Adis menoleh ke arah cowok itu, mencoba menunjukkan lewat tatapan matanya kalau Herman baru saja merusak suasana haru yang terjalin di antara mereka.

“Udah tadi sama Yuli,” jawab Jerry, diiringi anggukan Yuli yang masih sesekali sesegukan.

Ekstrakulikuler fotografi bukan ekskul besar semacam Pramuka atau Pasbara yang tiap tahun saingan nyumbang piala. Di mata Daniel, ekskul fotografi adalah tempatnya menyalurkan hobi. Klub kecil mereka (Daniel lebih senang menyebutnya klub ketimbang ekskul) hanya beranggotakan dua puluh orang. Sepuluh orang kelas sepuluh termasuk dirinya, tujuh orang kelas sebelas dan tiga orang kelas dua belas yang sedang mengadakan upacara perpisahan kecil-kecilan sekarang.

“Gue titip semuanya sama lo ya, Man,” kata Farid, mantan ketua sebelumnya yang masih kelihatan terharu.

“Tenang aja A. Saya jagain, kok.”

Daniel memutar matanya. Sampai kapan pula drama ini akan terus berlanjut, pikirnya. Ia belum tidur sehabis main PS sampai pagi lawan Gending tadi malam. Ia lupa sarapan karena kesiangan (bersama Gending, tentunya) dan harus bertahan dengan upacara perpisahan menyebalkan ini selama dua jam. Cowok itu ingin izin ke kantin, tapi malas mendengarkan ceramah Adis yang bisa mengalahkan pidato kepala sekolah tadi pagi.

“Permisi,” sebuah suara menginterupsi, menarik atensi hampir semua orang di dalam ruangan. Tak terkecuali Daniel.

Di depan pintu yang memang dibiarkan terbuka agar tidak pengap, seorang gadis berdiri tegap. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, juga tidak masuk kategori sedang. Rambutnya hitam dikuncir kuda dan matanya besar sampai Daniel berani taruhan, cewek itu tidak bisa menutup mata secara total saat tidur. Di lehernya, menggantung kamera Sony keluaran lama yang Daniel lupa seri berapa. Kesan pertama untuk cewek itu: dia manis.

“Iya?” Herman, berperan sebagai ketua yang baik dan ramah, menimpali.

“Saya mau daftar jadi anggota, bisa?” tanya gadis itu tanpa basa-basi. Kesan kedua: dia straight-forward abis.

Mata Herman seketika berbinar. Senang dapat adik kelas manis. “Bisa banget! Udah ambil formulirnya di depan ruang OSIS?”

Cewek itu mengangguk. Beberapa helai poni belah sampingnya turun menutupi dahi sebelum ia kembali menyematkannya di belakang telinga. Cewek itu menyerahkan formulir yang sudah diisinya tanpa basa-basi ke arah Herman.

Kesan ketiga: dia kalem. Dan di hadapan cewek ini, entah kenapa, Daniel terpesona.

“Namanya siapa, Neng?” tanya Yuli, sok berperan sebagai kakak kelas yang perhatian. Daniel mendecih pelan, tapi cukup keras untuk mencapai telinga Yuli. Cewek itu mendelik.

“Koko,” jawab si pendaftar, masih dengan intonasi datar yang sama. Beberapa orang bertukar pandang, heran.

“Cewek, kan?” Ismail, anggota klub yang satu angkatan dengan Daniel, bertanya. Cowok itu kedengaran ragu. Entah pada pendengarannya atau pada nama panggilan cewek di depan pintu itu.

Koko mengangguk.

“Kok namanya Koko, sih?” komentar Yuli.

“Aslinya Aiko, Téh.”

Seluruh anggota, termasuk Damian, ber-oh ria sebelum Herman buka suara lagi. “Nanti isi absen di Teteh yang ini ya, Ko,” katanya, menunjuk Yuli.

Koko mengangguk lagi.

“Lo kelas berapa?” untuk pertama kalinya Damian angkat bicara.

Cewek bernama Koko itu menatap Daniel tepat di mata. Iris coklat muda Koko yang hangat bersinggungan dengan mata Daniel yang punya semburat hijau. Untuk sejenak, membuat cowok itu lupa berpijak.

“X MIA-2.”

***

Sejak datangnya Koko ke klub mereka, semester dua Daniel terasa tidak berjalan dengan membosankan. Cowok itu jadi lebih jarang bolos kumpulan ekskul dan lebih memilih ikut hunting foto ketimbang menemani Gending main PS di rumahnya. Seperti sekarang, saat ia dan delapan anggota yang lain sibuk kesana-kemari di jalan Asia-Afrika demi bisa mendapat foto bagus.

Rombongan mereka memutuskan berjalan kaki dari depan gedung Bank Mandiri sampai ke alun-alun dalam dua baris rapi. Di depan, Herman dan Adis sedang bertengkar. Sesekali rebutan kamera sambil membandingkan hasil foto siapa yang lebih baik. Di belakang mereka, Yuli, Ismail dan Jerry berjalan kalem sambil sesekali menggunakan kamera mereka. Di barisan ketiga, ada Daniel dan Wildan yang sibuk mengobrol tentang pertandingan bola antara Arsenal dan Real Madrid semalam, diikuti Koko yang asyik foto-foto sendirian.

“Pokoknya jangan sampai misah, ya. Abis ini kan kita mau jajan dulu di Pasbar. Sekalian nih cewek-cewek pada mau belanja,” kata Herman tanpa menoleh. Masih sibuk memelototi Adis.

“Yah pasti lama, deh, kalo pada belanja. Gue mau balik aja,” kata Jerry malas. Daniel mengangguk setuju.

“Jadi kalian tega ninggalin gue sama Yuli belanja berdua?” tanya Adis, matanya menyalak galak. “Eh, Koko mana?”

“Ini di bela—lho?” Daniel menoleh ke belakang tubuhnya, tempat dimana gadis itu seharusnya berada. Nihil. Gadis berperawakan kecil dan tidak banyak bicara itu tidak disana.

“Aduh, baru juga gue bilangin,” keluh Herman.

“Lo pada duluan aja, deh. Gue aja yang nyariin dia,” kata Daniel spontan.

Sebelah alis Wildan terangkat. “Maneh?” tanyanya, tak percaya. Daniel mengangguk.

“Yaudah, deh. Ketemuan di alun-alun aja ya, Dan,” potong Ismail cepat.

Daniel mengangguk lagi sebelum melangkah cepat menyusuri jalan. Dalam hati cowok itu bersyukur tidak perlu ikut menemani kakak-kakak kelasnya belanja. Ia akan menyusun alasan untuk kabur nanti, setelah menemukan Koko. Di sisi lain, cowok itu bertanya-tanya kapan si anggota baru menghilang? Padahal tadi saat ia tak sengaja (ia benar-benar tak sengaja, kok!) melirik ke belakang, cewek itu masih mengikuti rombongan mereka.

“Itu cewek kok kayak jurig. Perasaan tadi masih ada di belakang, deh,” keluh Daniel. Cowok itu melirik jam tangannya. Sudah pukul tiga sore. Matahari masih cukup tinggi dan Daniel malah harus panas-panasan mencari orang hilang. Bagaimana kalau Koko ternyata diculik sindikat penjualan organ dalam? Atau bagaimana kalau gadis itu tertabrak sesuatu, atau tersesat di tengah kota dan tidak punya uang untuk pulang? Daniel mulai memikirkan skenario mengerikan yang parahnya malah membuat dirinya makin khawatir.

Seingatnya, cewek itu memakai ripped jumpsuit biru tua, kaos polos putih setengah lengan dan topi biru tua. Terima kasih pada otaknya yang cerdas, ia bisa mengingat penampilan Koko dengan sangat baik. Tinggal bagaimana caranya menemukan—

“Lo ngapain?” sebuah suara datar menghentikan langkah Daniel. Koko, berdiri dua meter di depannya, dengan tatapan datar yang sama dan kamera menggantung di leher. Cewek itu menatap lurus ke mata Daniel. Kebiasaan yang tidak Daniel sukai karena Koko seolah-olah sedang menelanjanginya. Tidak dalam arti sebenarnya, well.

“Lo kemana aja, sih!? Gak tau apa kita pada bingung gara-gara lo ilang!?” nada suara Daniel meninggi. Memperlihatkan kejengkelan pemiliknya secara terang-terangan. Tidak peduli kalau mereka sudah jadi tontonan orang-orang di kendaraan yang lalu-lalang.

Salah satu alis Koko meninggi, sebelum kemudian kembali pada ekspresi datarnya yang biasa. “Gue abis kesana,” Koko menunjuk jalan kecil di belakangnya.

“Beli telor gulung,” lanjutnya lagi, mengacungkan plastik kecil berisi tiga stik telur gulung yang ia beli tadi.

Daniel membuang nafasnya kasar. Jengkel karena ia sudah khawatir begitu rupa demi gadis tidak peka ini. “Ngomong dulu, kek. Biar gue nggak panik.”

“Gue gak minta lo panik juga, kok,” sahut Koko cuek. “Dan gue juga bukannya nggak bisa balik sendiri kalau ditinggalin.”

Rahang Daniel jatuh, kehilangan kata-kata. Detik berikutnya, cowok itu terus memaki diri sendiri dalam hati karena sudah benar-benar khawatir untuk cewek di depannya.

“Ayo susul yang lain,” ajaknya, menarik tangan Koko.

Koko menepis tangan Daniel. “Bisa jalan sendiri,” katanya sebelum melengos mendahului Daniel.

Gue juga gak mau pegang-pegang elu, cewek ngeselin, batin Daniel. Kalau Daniel hidup di dunia anime yang sering Arya tonton, sudah ada background petir dan awan gelap di belakang tubuhnya.

***

“Eh, Dan. Itu foto jepretan lu ya yang dipajang di mading?” Gending, dengan satu cup jus mangga dan seplastik batagor kering menarik kursi di samping Daniel yang kebetulan kosong.

“Bukan,” jawab Daniel cuek. Asyik berkutat dengan soal-soal Fisika yang sebenarnya pekerjaan rumah untuk minggu depan.

“Emang foto apaan, Ding?” tanya Arya, tidak sama sekali mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“Foto—eh buju buset, Ya. Lu kira-kira napa. Buka ecchi tengari bolong begini,” komentar Gending, ditambah suntrungan pelan di kepala Arya.

“Foto apaan, anjing. Jawab dulu kenapa?” kata Daniel, tidak sabar. Ia menutup buku Fisikanya, menyisakan tiga soal yang berniat ia kerjakan sesampainya di rumah nanti. “Btw, Damian mana?”

“Lu liat sendiri aja, dah. Gua susah ngegambarinnya. Tapi bagus, makanya gua pikir itu jepretan lu,” jawab Gending, menyedot jusnya. “Damian lagi ke ruangan Bu Tami. Biasalah, dia kena masalah lagi sama Matematika.”

“Ah itu bocah,” Arya mem-pause anime yang ditontonnya. Memutuskan ikut nimbrung. “Kena mulu sama si ninja.”

“Lagian Damian juga belegug. Dia ngitung duit aja jago. Ngitung kurva gak bisa,” timpal Daniel.

“Iye, dah. Gua tau lu udah master di matematika,” cibir Gending. Daniel mengangkat bahu sebelum bangkit dari kursinya.

Rek kamana maneh?” tanya Arya.

“Ke mading dulu. Penasaran gue,” jawab Daniel.

Kaki-kaki Daniel melangkah lebar keluar, menuju mading yang terletak tak jauh dari kelasnya. Beberapa siswi perempuan menyapanya ramah dengan wajah malu-malu yang ditanggapi Daniel seramah ia bisa. Beberapa cowok menegurnya, mengajaknya bicara soal futsal kelas mereka yang direncanakan jadi lawan sparring kelas sebelas sebelum Daniel pamit duluan. Ada perlu, katanya. Padahal ia hanya penasaran pada mading sekolah.

Beberapa siswa tampak melihat mading, bicara sesuatu sebelum pergi saat Daniel sampai disana. Orang-orang yang masih betah memandangi papan sterofoam itu memilih membuka jalan untuknya, segan entah kenapa.

Disana, di bawah cerpen yang minggu lalu dibuat oleh seorang cewek bernama Dwi, terpampang foto hitam putih seorang laki-laki tua tanpa kaki yang sedang duduk di trotoar jalan. Mungkin dekat pasar baru, Daniel tidak bisa memastikan. Wajah pria itu begitu kuyu dan bahunya kelihatan sangat lemah seolah beban hidupnya jauh lebih berat dibanding bobot tubuhnya. Kopiah kumalnya terpasang rapi di kepala, jadi satu-satunya benda yang bersih yang menempel di tubuhnya yang ringkih. Di depannya, ada rak agar-agar kecil yang Daniel tebak jadi sumber penghasilan kakek itu sehari-hari. Ada dua rak yang dibawa si kakek. Satunya berisi agar-agar dan agak buram. Satunya berisi buku-buku yang entah untuk apa si kakek bawa.

Saat melihat foto itu, hati Daniel tergerak. Cowok itu miris melihat keadaan si objek foto, sekaligus memuji si fotografer karena berhasil memotret foto itu dengan sepenuh hati. Atau setidaknya, begitulah yang Daniel rasakan. Di bawah foto itu, seperti selazimnya foto yang dipajang di media, ada sebuah caption. Ditulis dengan tulisan tangan yang cukup rapi.

Udin (72), penjual agar-agar di daerah Pasar Baru yang menolak menghabiskan waktu tuanya dengan meminta-minta ini berniat menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca bagi semua orang. Dengan gerobak kecil tuanya, Kakek Udin membawa buku-buku yang dia punya untuk dibaca pembeli agar-agar jualannya secara gratis.

Caption yang tidak sempurna, memang. Tapi foto yang dihasilkan orang itu sarat akan makna.

“Ini siapa yang jepret?” tanya Daniel pada cewek di sebelahnya.

Si cewek megap-megap. Bingung harus menjawab apa saat ditanya cowok ganteng sekelas Daniel. “A-anu… i-ini di bawah foto ad-ada inisialnya,” cewek itu menunjuk sudut foto. Delfiya, ditulis dengan tinta hitam yang nyaris tidak terlihat.

Delfiya? Siapa Delfiya?

***

Bel pulang sekolah hari Jumat itu jadi penanda tak resmi bahwa ujian kenaikan kelas sudah berakhir. Beberapa siswa di ruangan ujian Daniel masih sibuk berkutat dengan kertas jawaban mereka. Sibuk memberi tanda apa saja pada pilihan jawaban mereka yang masih kosong sementara pengawas sudah berkeliling menarik satu persatu lembar jawaban. Daniel sudah menyelesaikan ujiannya sejak—setidaknya, lima belas menit yang lalu. Dan selama lima belas menit itu, yang ada di pikiran Daniel hanyalah bagaimana caranya ia menemukan orang berinisial Delfiya itu secepat mungkin.

“Kamu sudah selesai, Daniel?” tanya Pak Sidi, guru Kimia yang mengajar di kelas Daniel. Daniel mengangguk.

“Kalau begitu silahkan keluar,” ujar pria tua itu sopan. Daniel menurut. Ia mengambil alat tulisnya yang sangat seadanya, menyampirkan tas sebelum berjalan keluar dari ruangan.

“Daniel!” sebuah suara cempreng memaksa Daniel menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal.

Adis berlari kecil ke arah adik kelasnya sambil nyengir lebar. “Kumpul dulu bentar di ruang klub, ya? Kita mau ngomongin program makrab, nih.”

“Makrab?” Daniel mengangkat satu alisnya.

“Iya, makrab,” kata Adis cepat sambil menganggukkan kepala. “Kan minggu lalu si Herman udah ngebahas. Lo gak dengerin ya?”

“Oh iya, lupa. Yaudah, deh. Gue ke kantin dulu beli minum.”

“Oke, jangan sampe telat, ya!”

Makrab atau malam keakraban adalah acara rutinan klub yang diadakan setahun sekali. Tidak hanya fotografi, ada beberapa klub yang juga melaksanakan kegiatan ini. Klub jurnalistik, ekskul basket, futsal, taekwondo dan musik contohnya. Khusus fotografi, kegiatan ini biasa dilakukan di setiap libur semester genap. Kata Herman, selain karena senior sebentar lagi naik ke kelas dua belas, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mencari kandidat ketua klub yang baru.

Daniel menyedot es kopi yang dibelinya di kantin tadi sambil mendengarkan penuturan Herman. Beberapa anggota lain memutuskan mencatat sementara Daniel sendiri memilih mengandalkan kemampuan memorinya.

“Jadi kita kumpul tangga 25 di depan gerbang sekolah. Pake baju bebas, bikini juga boleh,” cewek-cewek menyoraki Herman, hanya Koko yang diam saja. “Berhubung semua cowok disini punya kendaraan, gue bagi-bagi aja ya siapa sama siapa.”

Semua kepala mengangguk, setuju. Tidak mau repot juga kalau nanti ada yang tidak terangkut. Mendapat persetujuan begitu, Herman bergegas menyebutkan nama demi nama.

“Adis sama gue.”

“Lho? Kok gue sama lo sih? Nggak ada yang lain, apa?” Adis protes. Dia dan Herman, kan, sudah seperti kucing dan anjing. Sekarang Herman malah mau bareng Adis. Meski harus ia akui, jarak dari sekolah mereka ke villa di daerah Cilengkrang tidak terlalu jauh juga.

“Si Herman punya agenda terselubung euy. Geus kanyahoan ku urang mah,” timpal Jerry diikuti siulan menggoda.

Wajah Adis memerah, malu. “Yaudah, deh.”

Alah maneh mah, Dis, malu-malu anjing,” ledek Wildan.

“Heh! Wildan ngomongnya kasar,” omel Yuli. Cewek ini memang paling anti kalimat-kalimat kasar.

“Wildan,” Koko, yang sedari tadi diam, angkat bicara. “Kalo ngomong mulutnya suka kayak sampah.”

Seketika, ruangan menjadi hening. Daniel sendiri harus mengakui kalau ia agak kaget. Pertama, Koko tidak biasanya bicara dalam forum saat mereka sedang kumpul begini. Kedua, ia tidak mengira cewek itu akan mendengarkan obrolan tidak penting mereka. Ketiga, mulutnya itu, lebih dingin dari kulkas, rupanya!

“Buset, Koko. Kalo ngomong suka right to my kokoro,” timpal Wildan, bersikap lebay dengan memegang jantungnya dan pura-pura tertusuk sesuatu.

“Ah alay lu,” maki Daniel, menyuntrung pelan kepala Wildan yang kebetulan duduk di sebelahnya.

“Gak di kelas, gak di sini, si Koko sekalinya ngomong tetep aja nyelekit,” kekeh Tirta, anggota baru yang kebetulan sekelas dengan gadis bermulut tajam itu. Koko mengangkat bahunya, tidak peduli. Cewek itu kembali mengutak-atik kameranya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Daniel sama Koko.”

Mendengar pengumuman Herman (yang rupanya masih belum selesai) itu, Daniel otomatis langsung menoleh. Matanya melotot, tidak terima. Ia harus menghabiskan waktu setengah jam membonceng cewek aneh itu selama berangkat. Juga, harus mengambil resiko mengantar Koko sampai rumah setelah acara selesai? Ogah.

“Lo kenapa, Dan? Jarang-jarang gue kasih cewek manis begitu sama lo,” tanya Herman.

Daniel mendengus. “Gak apa-apa,” jawabnya. Memutuskan untuk menelan protesnya bulat-bulat. Daripada dikira ada apa-apa sama tuh orang, mending diem deh, batin Daniel.

“Gue sama Ismail aja,” kata Koko, lagi-lagi mengejutkan semua orang termasuk Daniel.

“Lah, kenapa?” tanya Herman heran.

“Lebih enak sama dia naik motornya.”

“Wah, Daniel ditolak,” ledek Fadhli.

“Atit nda kokoronya Mas Dan?” tanya Wildan, meraba dada Daniel yang langsung ditepis cowok itu.

“Daniel kalah sama Ismail, Bung,” timpal Jerry, mengusap dagunya meniru ekspresi detektif saat berhasil memecahkan kasus.

Ismail, yang namanya disebut, jelas kaget. Kapan pula dirinya membonceng Koko sampai cewek itu bisa bilang begitu? Ah, tapi mana mungkin rezeki membonceng cewek manis tapi misterius itu ia lewatkan begitu saja, kan?

“Koko sama urang aja, Kang,” tambah Ismail. Sok pengertian, padahal hanya ingin mengambil kesempatan.

Herman mengangkat bahu. “Yaudah. Daniel sama Yeni aja.”

Daniel benar-benar mau protes sekarang. Seluruh siswa di Garnus tahu kalau Yeni sudah lama menyukai Daniel. Mungkin tidak akan jadi masalah kalau saja gadis itu bersikap seperti kebanyakan penggemar rahasianya, tidak merepotkan dan memilih menyukai Daniel dalam diam. Masalahnya, Yeni tidak sekalem itu.

“Yey! Aku sama kamu, Dan!” yang dibicarakan nyaris memekik saking senangnya.

“Ha ha,” sudut bibir Daniel tertarik ke atas. Entah tertawa atau meringis, tak ada bedanya.

Mata Daniel melirik Koko tajam, menyiratkan ketidak sukaan. Ia tidak suka, gara-gara cewek itu dirinya harus terjebak bersama Yeni selama perjalanan. Dan di atas itu semua, Daniel tidak suka pada Koko yang terang-terangan menolaknya. Menolak Daniel! Ia jelas tidak terima!

***

Kalau bukan karena Adis mengancam akan menyebarkan foto menggelikan Daniel yang cewek itu ambil saat Daniel ketiduran di ruang klub berbulan-bulan lalu, Daniel tidak akan mau ikut kegiatan makrab. Tidak setelah Herman memutuskan kalau ia harus berbagi jok motor dengan Yeni. Tidak setelah si anggota baru yang mirip patung itu menolaknya terang-terangan di depan semua anggota klub.

“Ini tinggal nungguin si Yeni sama si Koko aja, ya,” kata Adis, mengecek jumlah anggota yang sudah sampai di lokasi janjian mereka.

“Tinggalin aja udah,” ketus Daniel. Wajahnya sudah ditekuk-tekuk, malas membayangkan perjalanannya nanti.

“Lo jangan jahat gitu kenapa, Dan,” tegur Yuli. “Segitu gak maunya bonceng si Yeni.”

“Yaelah, Téh, ntar kalo gue gangguan pernafasan gara-gara saluran hidung gue tersumbat sama bedaknya, Teteh mau tanggung jawab?” kata Daniel hiperbolis.

“Alah lebay lu,” timpal Herman, memukul pelan kepala Danie dengan buku catatan tipis miliknya. “Eh, itu si Koko.”

Aiko hari itu memakai sebuah overall warna hitam, berpadu dengan kaos pendek abu-abu dan sepatu converse warna hitam. Rambutnya yang biasa diikat kuda kini dicepol asal di belakang kepala, menyisakan anak-anak rambutnya mengikal di sisi telinga. Cewek itu memakai kacamata bulat tanpa minus. Kata mamanya, biar matanya tidak kemasukan sesuatu saat naik motor nanti.

“Gue kok baru sadar si Koko manis banget, ya,” celetuk Wildan saat yang dibicarakan masih berjalan santai seratus meter di depan rombongan.

“Tapi judes,” kata Herman.

“Terus lempeng banget anaknya. Datar mulu ekspresinya,” kali ini Jerry yang bicara.

“Gue pernah kok, liat dia ketawa-ketawa,” kata Ismail. Ketiga orang lainnya langsung menoleh ke arah cowok itu.

“Ah masa?”

“Iya, beneran. Lucu banget kalo dia lagi ketawa,” Ismail mengangkat kedua jarinya, membentuk tanda swear. “Tanya nih si Tirta.”

Tirta, yang merasa namanya disebut, menoleh. “Iya bener,” jawabnya singkat.

“Lu kok bisa tau?” Herman bertanya pada Ismail.

“Waktu gue abis benerin kamera si Tirta, gue kan ke kelas dia, A. Nah kebetulan si Koko lagi kumpul sama temen-temennya, ketawa-tawa gitu.”

Adis berdecak. Gerah juga mendengar cowok-cowok rumpi di sebelahnya. “Kalian pada gak penting banget deh, ngomonginnya.”

“Iya, rumpi banget lo pada,” kata Daniel sinis.

“Alah bilang aja lu sirik. Abis ditolak Koko kemaren,” ledek Herman, disusul tawa tiga orang lainnya.

“Udah pada lengkap?” baru saja Daniel akan menyuarakan keberatan, Koko menginterupsinya.

“Tinggal nunggu si Yeni nih, Ko,” kata Adis, tersenyum ramah. “Lo bawa kamera?” ia melirik kamera yang menggantung di leher Koko.

Koko mengangguk. “Boleh, kan? Gue sekalian mau cari-cari foto bagus disana, nanti.”

“Boleh, kok. Asal jangan sendirian ya biar gak nyasar,” kata Adis.

“Gue bilang juga tinggalin aja tuh nenek lampir,” Daniel mendengus kesal. Malas membuang waktu berharganya demi menunggu seorang saja.

“Yaudah lu jemput sana ke rumahnya. Biar gak lama,” kata Jerry.

“Gak usah. Tuh orangnya udah datang,” Yuli mengedikkan dagunya, menunjuk gadis yang berlari kecil menghampiri mereka.

“Aduh, aduh. Maafin aku ya. Telat ya?” Yeni nyerocos panjang dengan nafasnya yang tinggal satu-satu. Daniel memaki dalam hati. Baru lari segitu aja udah kayak orang asma.

“Berangkat sekarang aja, yuk. Udah mulai panas, nih,” kata Daniel. Cowok itu buru-buru berjalan ke arah motornya, diikuti Yeni yang masih kelihatan lelah. Moodnya jadi buruk, sekarang. Dan semuanya bermula dari cewek patung itu, si Koko!

***

Villa yang mereka tempati adalah bangunan berlantai satu yang cukup luas dengan dinding kayu gelondongan berwarna coklat tua dan atap genting. Ada lima kamar tidur dengan kasur empuk dan selimut hangat, dua kamar mandi, satu ruang tengah dengan TV dan satu dapur. Halaman villa yang ditumbuhi berbagai tanaman hias juga cukup luas untuk menampung motor mereka dan jadi lokasi api unggun di malam harinya.

Jam di tangan Daniel sudah menunjuk angka sembilan saat semua anggota memutuskan untuk masuk ke dalam villa dan menonton TV. Menyudahi kegiatan api unggun mereka setelah memaksa Herman dan Adis duet diiringi permainan gitar Ismail. Daniel sendiri, jadi korban dengan harus bernyanyi solo dan main gitar. Alhasil, cowok itu membawakan lagu Desember dari Efek Rumah Kaca. Seluruh anggota klub malam itu setuju kalau Daniel tidak boleh dibiarkan menyanyi lagi, dan bahwa tidak ada manusia flawless yang bisa jadi juara tiga sekolah, menguasai karate, jago memotret, pintar debat dan bisa menyanyi sekaligus.

“Bosen, ah. Sinetron mulu,” keluh Adis, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. “Main Truth or Dare, yuk!”

“Ah mainan itu. Udah punya feeling deh gue, bakal ada yang ngusul main itu,” keluh Ismail.

“Perasaan tahun kemarin usulan lo juga itu deh, Dis,” kata Herman, melirik Adis dengan tatapan malas.

“Iya tapi ditolak usulannya sama A Farid,” bibir Adis mengerucut sebal. “Ayo, dong. Kan biar akrab.”

Daniel membuang nafas malas. Ia paling anti main jujur-jujuran atau berani-beranian begini. Cowok itu percaya kalau some things are better left unsaid, dan ia juga tidak mau melakukan hal konyol seperti memakan mie tanpa alat makan dan sebagainya. Kekanakan dan tidak berguna, pikir Daniel.

“Yang setuju main Truth or Dare angkat tangan. Kalau suaranya setengah lebih satu, kita main!” Adis berseru dengan semangat empat lima.

Dari delapan belas orang yang ikut serta, sekitar dua belas orang mengangkat tangan. Yuli, Adis, Jerry, Wildan, Retno, Ismail, Luthfi, Thea, Yeni, Lia, Gumilang dan Rizka adalah orang-orang yang setuju. Sementara Herman, Yoga, Koko, Daniel, Tirta dan Fadhli adalah orang yang diam saja.

“Sip, dua belas berarti jalan, ya!” kata Adis gembira. “Ayo, ayo, bikin lingkaran!”

Mau tidak mau, seluruh anggota bergerak membuat lingkaran yang cukup besar. Herman, Jerry, Daniel dan Tirta mengangkat sofa, memindahkan benda itu merapat ke dinding untuk memperluas ruang kosong tempat mereka bermain. Entah takdir atau bukan, satu-satunya tempat kosong yang tersisa bagi Daniel adalah di sisi Koko. Cowok itu duduk, memutuskan bersikap cool dan dewasa dengan menyudahi acara sebal-sebalannya.

Alat penentu yang digunakan Adis adalah sebuah botol kaca kecil bekas minuman vitamin yang tadi dibeli Yuli. Cewek itu meletakkan botol di tengah ruangan, memutarnya, lalu dengan sabar menunggu sampai benda itu menunjuk seseorang.

“Herman!” pekiknya saat mulut botol mengarah pada tempat Herman duduk. Herman mendesah kecewa.

Truth or dare?” tanya Adis, yang entah kenapa berperan sebagai admin dalam permainan ini alias orang yang tidak akan kena pertanyaan alias si pemutar botol.

Truth.”

“Ah payah lu, man,” ejek Jerry.

“Bacot lu,” Herman membalas. Kelihatan tidak cukup senang jadi target ToD.

Adis memutar botol lagi, berupaya mencari siapapun yang akan menanyai Herman. Botol berhenti dengan mulut mengarah pada Ismail.

“Gue?” cowok itu menunjuk dirinya sendiri.

Adis mengangguk semangat.

Dahi Ismail berkerut-kerut saat cowok itu berpikir keras tentang apa yang akan ditanyakannya pada Herman. “Dua bulan lalu, katanya A Herman dipanggil ke ruang guru abis razia. Itu ngapain?”

Mata Herman melotot. Tidak percaya Ismail akan menanyakan hal itu padanya. “Ah kampret lu, Mail,” ujarnya. Yang dimaki malah cengar-cengir tidak jelas.

“Jawab jujur, Man. Lu kan laki,” kata Yoga, nyengir kuda.

“Gue dipanggil gara-gara…” Herman menelan ludah, “ketauan melihara bokep di HP.”

“WAH HERMAN PARAH,” teriak Daniel heboh.

“Anjir geli gue sama lo,” Adis ikut-ikutan. Sok-sok bergidik ngeri.

“Parah lo, Man. Ngeres ternyata otak lo,” komentar Jerry.

“Heh. Laki wajar kali melihara gituan di HP. Lu kayak gak pernah aja, Jer,” Herman mendengus tak terima. “Gue tau lu sering ke warnet downloadin video Miyabi.”

“Heh enak aja. Lu kali tuh, penerus Kakek Sugheo!” Jerry memekikkan protes.

Tawa meledak seketika, mentertawakan aib-aib yang terbuka dan wajah lucu Jerry saat rahasianya dibeberkan. Tak terkecuali Koko. Cewek itu sudah tertawa kencang sambil memegangi perutnya, tidak mengira kalau anggota klub yang ia masuki bisa segila ini kadang-kadang.

“Yaila Daniel,” suara Retno yang duduk tepat di sebelah Daniel menginterupsi kegiatan cowok itu memandangi Koko.

“Biasa aja kali liatin si Kokonya. Mupeng banget muka lo,” lanjut Retno lagi.

“Apaan sih Teh,” elak Daniel.

“Sok-sokan malu-malu anjing lo, Cumi.”

Daniel tidak menjawab karena Adis sudah kembali memutar botol. Ia punya firasat buruk saat melihat putaran botol itu memelan. Dan sesuai dugaannya, mulut botol kaca itu tepat mengarah padanya.

“Wah Daniel kebagian, wah,” ledek Tirta, nyengir lebar ke arah Daniel.

“Ah sialan banget tuh botol,” maki Daniel pelan. “Gue dare aja, dare.”

“Widih, beranian nih Mas Dan,” giliran Wildan yang meledeknya.

“Emangnya Daniel cemen kayak yang tadi,” Adis ikut-ikutan, meski ledekan cewek itu lebih ditujukan untuk Herman yang sudah sok-sokan tidak dengar. Botol berputar lagi. Kali ini giliran Jerry.

“Jer, kasih yang susah Jer!” Herman mengompori.

“Suruh striptis aja,” usul Yoga.

“Heh, sembarangan. Mata gue masih suci dan gue gak niat menghapus kesuciannya dalam waktu dekat, ya,” kata Retno.

“Suruh goyang aja, A,” kali ini Lia yang usul. Daniel melotot.

“Jer, lu ngasih gue yang aneh-aneh awas aja,” ancam Daniel sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Jerry.

Menghabiskan beberapa detik berpikir, Jerry akhirnya angkat bicara. “Gue mau Daniel nembak cewek yang dia anggap paling cantik disini.”

“Whooooooo,” hampir seluruh anggota menyoraki dare yang dibuat Jerry.

“Aduh gue males deh kalo udah asmara-asmaraan begini,” keluh Rizka.

“Basi banget,” komentar Koko. Sedikit takut juga kalau ia nanti diberi tantangan semacam itu.

“Ah bodo amat kan suka-suka gue,” kata Jerry, acuh. “Ayo buruan, Dan. Masa’ kita harus nunggu sampe besok cuman buat lu doang.”

“Yang ditembak jangan baper ya,” kata Herman. “Gue tau si Daniel banyak fansnya. Tapi tolong gausah alay,” matanya melirik Yeni yang sudah mupeng.

Daniel meneguk ludahnya sendiri. Matanya menyusuri satu persatu wajah anggota perempuan. Berpikir mana di antara mereka yang akan jadi objek nembaknya. Daniel mana pernah berpikir kalau cewek ini lebih manis dari cewek ini dan tetek bengeknya. Dan kenapa pula menentukan siapa yang paling manis lebih sulit ketimbang menyelesaikan soal trigonometri Bu Tami!?

“Ganti aja deh, darenya,” keluh Daniel. “Lu gitu sama gue, Jer. Jahat amat.”

“Daripada gue suruh lu goyang itik disini, mau?”

Daniel mendecih. Tepat saat itu, satu buah nama muncul di kepalanya. Dia pasti sudah gila kalau memutuskan nembak cewek itu. Tapi bagaimana lagi? Hanya nama itu yang terlintas dipikirannya, dan seperti kata Jerry tadi, ia tak bisa membuang waktu.

Inget, Dan. Ini mainan doang, batinnya.

“Ko,” Daniel memutar posisi duduknya, menghadap Koko, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya lembut. Senyuman lembut terbit di wajahnya, bersiap melelehkan siapapun yang ada di hadapannya kali ini, termasuk Koko.

Mari kita liat lo bisa nolak gue nggak, kali ini.

I fell in love with your laughs, with your eyes, with your rude-mouth, with your gestures, with everything that makes you as you are right now. And I don’t mind repeat it again and again, everyday, in the rest of my life. So would you mind, falling for me so I’m not falling alone?

Jeritan dan sorakan membahana saat Daniel selesai mengucapkan kalimat manis yang bisa membuat gadis manapun diabetes itu. Ditambah tatapan teduh yang jarang sekali mampir di kedua mata cowok itu, menambah kesan romantis yang sesaat melingkupi dirinya dan Koko.

Adis bergumam panjang. Retno, Yuli dan Thea sudah sibuk menyoraki keduanya bersama anggota lain kecuali Yeni, yang gigit jari ingin bertukar tempat dengan Koko saat itu juga. Hampir semua anggota bersorak, dan semua gadis merasa hampir lumer. Tapi Koko tidak. Mata cewek itu hanya melebar sebentar sebelum kembali pada ekspresi datarnya yang biasa. Seolah kata-kata manis Daniel tidak berefek apa-apa pada dirinya. Dan entah kedua orang itu sadari atau tidak, kedua mata mereka masih saling menatap.

“Jadi cewek yang menurut Daniel paling cantik disini itu, Koko,” kata Fadhli, menggoda.

“Alah padahal tadi siang kesel banget gara-gara ditolak,” kali ini giliran Herman meledek.

“Jawab dong, Ko!” Adis berseru.

“Jawab! Jawab! Jawab!”

Koko menarik nafas panjang, menutup matanya guna mengakhiri kontak mata dengan Daniel yang mendadak jadi gugup. Ini kan becandaan doang, Dan, batin Daniel, berupaya mengingatkan dirinya sendiri.

Di sisi lain, Koko benci main-main begini. Apalagi kalau dirinya jadi korban. Cewek itu membuang nafasnya kasar sebelum berkata: “Then, don’t fall for me.”

“ANJIR DANIEL DITOLAK LAGI SAUDARA-SAUDARA,” Herman nyaris berteriak saking hebohnya.

Tawa meledak kembali, menertawakan Daniel yang masih cengo sehabis ditolak Koko. Oke, cowok itu kaget. Dia tidak berharap Koko akan menerimanya, karena bagaimanapun, ia percaya cewek itu cukup pintar untuk menganggap kalau semua pengakuan Daniel hanya rekayasa belaka. Tapi masa’ dia sampai tidak blushing atau salah tingkah sama sekali. Ini Daniel! Daniel Putra Kusumaatmadja yang baru saja nembak dia!

“Yah, sorry not sorry nih, Dan,” Adis menepuk bahu Daniel, berusaha menahan tawa. “Pesona lo kayaknya gak mempan deh sama si Koko.”

“Yah, turun pamor deh pangeran kita,” ledek Retno di sela-sela tawanya.

Daniel mendengus, berusaha bersikap seolah ia tidak terganggu meski pada faktanya dia benar-benar malu. Dua kali! Dua kali cewek berwajah datar itu berhasil mempermalukan Daniel di depan anggota klub mereka.

Saat itu, Daniel bersumpah akan meletakkan nama Koko di daftar hitamnya.

***

Foto itu ada lagi. Kali ini menampilkan seorang anak kecil yang membantu nenek-nenek menyebrang jalan, entah dimana. Mungkin di daerah Soekarno-Hatta, karena jalanannya cukup lebar dan mobil yang berlalu lalang cukup banyak. Foto diambil lanskap, masih dengan efek hitam putih. Daniel menebak, siapapun Delfiya ini, ia pasti sering menghabiskan waktu berjalan sendiri sambil menenteng kamera.

Tak bisa dipungkiri, Daniel merasa penasaran pada sosok bernama Delfiya ini. Setelah secara sengaja bertanya pada ketua setiap angkatan, hampir semua orang yang ia tanyai mengaku tidak pernah bertemu sosok bernama Delfiya di sekolah mereka. Ia ingin tahu, sosok macam apa yang sudah merekam sudut-sudut kehidupan seperti ini di Bandung dalam selembar foto.

“Si Delfiya ini, gue penasaran deh siapa,” kata Daniel suatu siang saat ia, Gending, Arya dan Damian menghabiskan waktu istirahat di warung Teh Yuli.

“Lo udah tanya sama ketua angkatan?” Damian bertanya sambil menggulung mie rebus miliknya.

“Udah,” jawab Daniel lesu. “Tapi gak ada yang tau.”

“Udah nanya anak mading?” tanya Arya, masih setia menatap layar ponselnya sambil makan mie rebus.

“Udah juga. Mereka bilang itu kan spot bebas. Jadi siapa aja bisa nempel, jadi mereka gak tau.”

“Dih,” Gending mendecih. “Buat apa ada klub mading kalo itu ada yang nempel gak ketauan. Ntar kalo ditempel gambar Miyabi lagi ena-ena, gimana?”

“Heh, lu,” Damian menggetok kepala Gending dengan sendok. “Sembarangan aja kalo ngomong. Gak disaring dulu.”

“Yakali, Dam, gue harus bawa-bawa saringan depan mulut kaya gini,” Gending mempraktekkan ucapannya seolah-olah ia sedang menggenggam sesuatu di depan mulut.

“Bacot, ah. Lu pada gak ngebantu gue sama sekali,” dengus Daniel.

“Lagian emang mau lo apain kalo udah ketemu?” tanya Damian, mengangkat sebelah alisnya.

“Gak diapa-apain.”

Gending mendengus. “Terus buat apa lu capek-capek nyariin itu orang?”

“Ya pengen tau aja,” jawab Daniel sambil mengangkat bahu. “Fotonya dia tuh, somehow, bikin gue ngerasa tergerak gitu, Ding. Nggak cuman lembaran foto doang, tapi punya makna.”

“Kenapa nggak lo dateng lebih pagi tiap Selasa? Lo bilang dia udah dua kali nempel foto pas hari Selasa, kan?” usul Arya.

Saran sobatnya itu bisa diterima juga, pikir Daniel. Sosok bernama Delfiya ini pasti akan menempelnya lima hari dari sekarang, tepat Selasa pagi. Jadi kalau dirinya benar-benar penasaran, kenapa Daniel tidak coba menghadangnya sebelum foto ditempel saja?

***

Selasa pagi. Bandung masih berkabut saat Daniel keluar dari pintu rumahnya di kawasan Kiara Condong. Setelah memanaskan motornya, cowok yang sudah berstatus sebagai siswa Garnus kelas sebelas itu berangkat ke sekolah. Empat puluh lima menit lebih awal dibanding jam berangkatnya yang biasa. Ia sampai harus meyakinkan adiknya, Tere, berkali-kali kalau Daniel tidak sedang setengah sadar saat sarapan. Ia juga harus merelakan nasi goreng kunyit Mamanya yang belum masak dan sarapan hanya dengan roti isi keju.

Kegilaan pagi ini disponsori oleh rasa penasaran Daniel pada orang bernama Delfiya. Pokoknya hari ini, Daniel harus tahu siapa orang itu. Harus!

Pintu gerbang sudah terbuka saat Daniel sampai di sekolah. Sekitar jam enam lewat lima. Masih terlalu pagi untuk siapapun kecuali satpam dan petugas kebersihan berlalu-lalang di sekolah.

A Daniel geuning tos angkat ka sakola jam sakieu,” kata Pak Deden, satpam Garnus. “Biasana langganan telat wae, A.”

“He he. Kesambet setan rajin, Pak,” timpal Daniel sekenanya. “Ti payun, Pak!”

’Nya, A. Mangga.”

Selesai memarkir motor, Daniel berjalan cepat menuju lorong lantai dua, tempat dimana mading tempat Delfiya menempel foto berada. Jantungnya tidak bisa berhenti berdebar-debar, tak sabar ingin mengetahui sosok dibalik nama Delfiya yang sebenarnya. Daniel menaiki tangga dua-dua, ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuan.

Lorong masih sepi saat ia sampai di sekolah. Mading juga masih memasang foto yang sama dengan yang minggu lalu Daniel lihat. Cowok itu sampai pada kesimpulan bahwa Delfiya mungkin belum sampai. Lagipula, masih pukul enam lewat tujuh. Terlalu pagi untuk siapapun berkeliaran di sekolah.

“Kalo dia ternyata libur nempel hari ini, gimana?” Daniel bergumam sendiri.

Cowok itu buru-buru menggeleng. Ia harus menunggu, pikirnya. Untuk itu Daniel memutuskan duduk di kursi besi yang diletakkan di depan kelas X MIA-5. Kalaupun Delfiya tidak menempel foto hari ini, Daniel sudah memutuskan ia akan menunggu setiap hari sampai ia tahu siapa Delfiya sebenarnya.

Wah, Daniel mendadak merasa dirinya seperti Sherlock Holmes.

Lima menit berlalu. Sudah pukul enam lewat dua belas saat suara langkah kaki di tangga membuat Daniel kembali gugup. Mata coklatnya melirik ke arah mading, menunggu siapapun mendekati area itu. Lebih baiknya lagi, kalau ada yang mengganti foto di mading, yang pasti akan dilakukan siapapun Delfiya sebenarnya.

Seseorang muncul dengan wajah kentara sekali masih mengantuk. Rambutnya diikat asal, sedikit berantakan tapi masih bisa ditolerir. Tas punggung hitamnya disampirkan di bahu kanan. Rok yang dia pakai membuat Daniel yakin kalau orang itu berjenis kelamin perempuan. Sesekali, orang itu akan mengucek matanya sambil menguap. Semua gerakan itu, tidak luput dari mata Daniel.

Tiba di depan mading, orang itu merogoh ke dalam tas, mengeluarkan sebuah buku agenda kecil tebal bersampul hitam. Tidak perlu menebak dua kali untuk tahu apa yang cewek itu keluarkan dari sana, sebuah foto. Si cewek mengibas-ngibaskan fotonya sebelum mengeluarkan sebuah selotip. Seperti yang Daniel duga juga, dia mengganti foto di mading!

“Woi!” tidak sabar, Daniel berjalan cepat menghampiri si cewek. Hanya tinggal lima langkah tersisa saat gadis itu memutar tubuh, menghadap orang yang memanggilnya.

Dan rahang Daniel jatuh. Ekspresi terkejut dan tidak percaya terpampang jelas di wajahnya saat ia menatap wajah Delfiya. Orang yang selama ini memukaunya lewat foto. Orang yang selama ini mengusik rasa ingin tahunya ternyata orang yang sama yang mengusik harga dirinya berminggu-minggu lalu.

Delfiya adalah Koko. Dan Koko adalah Delfiya. Kenyataan sederhana itu, entah kenapa sulit diterima akal sehat Daniel.

“Koko?” Daniel mengucap nama Koko seolah ia tidak mau percaya cewek itu berdiri di depannya.

“Hm,” Koko menggumam singkat sebagai jawaban.

“Lho? Ta-tapi masa iya… lo orang yang masang foto di mading?”

Koko mengangguk.

Jadi kira-kira begini singkatnya. Daniel tidak menyukai Koko. Lebih tepatnya, cowok itu merasa terganggu terhadap kehadiran Koko. Pertama, karena Koko sudah menolaknya. Dua kali, kalau boleh ditambahkan. Kedua, karena cewek itu tidak normal. Bagaimana bisa dia tidak tunduk pada Daniel sebagaimana lazimnya cewek-cewek lain? Apalagi setelah Daniel nembak dia dengan sangat sangat sangat manis.

Dan Daniel mengagumi Delfiya. Ia sangat menyukai jepretan orang itu yang tampak berisi di matanya. Karena foto Delfiya mengandung pesan yang seolah-olah ingin fotografernya sampaikan ke orang-orang lewat karyanya. Ada unsur empati yang tinggi dari potret sudut-sudut Bandung yang orang itu ambil.

Dan Koko adalah Delfiya. Delfiya adalah Koko. Bagaimana bisa Daniel mengagumi sekaligus tidak menyukai orang yang sama di saat yang sama!?

“Lo mau ngomong sama gue?” Koko bicara. “Jangan megap-megap kayak ikan lohan, deh.”

TUH, KAN! Masa iya Koko itu Delfiya! Orang dengan common sense nol ini punya empati yang tinggi? Nggak mungkin banget!

“Beneran Delfiya itu lo?” Daniel bertanya lagi, memastikan.

“Iya,” Koko menjawab dengan baik kali ini karena entah kenapa, ia punya firasat kalau Daniel tidak akan puas kalau ia tak bicara.

“Kok bisa!?”

“Ya bisa, lah,” Koko memutar bola matanya.

“Nama lo siapa?”

“Aiko.”

Daniel berdecak. “Nama lengkap.”

“Aiko Fidelya Engrasia.”

Fidelya.

F-i-d-e-l-y-a. D-e-l-f-i-y-a.

Daniel rasanya mau membenturkan kepalanya ke tembok sekarang juga.

***

[END]

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s