Cerita Cinta Lama

(pict of: www.lovesove.com)

“We accept the love we think we deserve.”

Agasthya menghembuskan nafasnya keras-keras. Berlembar-lembar tugas Analisis Investasi di hadapannya terlihat rapi, belum tersentuh sama sekali. Lembarnya masih bersih, putih, kontras dengan isi kepalanya yang bising dan berantakan. Di atas meja belajar, cangkir kedua kopinya sudah hampir tandas setengah. Aga, panggilan cowok itu, menyesap isinya sekali lagi. Berharap setelah itu ia akan kembali fokus dan menyelesaikan perannya sebagai mahasiswa dengan cepat. Tapi tidak. Bahkan setelah menandaskan sisa kopinya, Aga masih resah seperti tadi.

Sudah satu tahun lewat setengah berlalu sejak gadis itu pergi meninggalkannya dan Aga masih terkurung dalam lingkaran masa lalu yang sama. Rivailla Aletta Dalbert adalah semua aspek dalam hidup yang Aga inginkan. Atau setidaknya, ia berpikir begitu selama bertahun-tahun ke belakang. Ia masih tidak beranjak pergi. Bukan karena Aga tidak bisa, tapi ia tidak mau. Gadis itu sempurna. Dan kesempurnaannya itulah yang Aga idam-idamkan seumur hidupnya.

Aga kembali menghela nafas. Entah sudah ke berapa kalinya hari ini. Punggungnya menyandar lelah di sandaran kursi. Matanya menerawang, memandang apa-apa yang bisa dipandang sambil kepalanya memutar kembali momen-momen indah antara dirinya dan Rivailla yang rasanya sudah berabad-abad berlalu. Ia rindu. Dan Aga tidak bisa apa-apa soal itu.

***

Five years ago

“Aga, kenalkan ini anak teman Papa,” Rudi Muryada mendorong pelan bahu seorang gadis ke hadapan Aga yang masih asyik dengan PSP barunya. Aga melirik, tampak tidak tertarik.

“Namanya Rivailla. Nanti kamu ajak dia main, ya,” Rudi kembali melanjutkan sebelum meninggalkan Aga dan gadis bernama Rivailla itu di ruang keluarga. Selang beberapa detik kemudian, para orang tua sudah terlibat percakapan serius perihal bisnis dan tetek bengeknya sementara Aga duduk canggung bersama gadis asing yang namanya baru ia ketahui beberapa waktu lalu.

Rupanya Rivailla yang disebut Papanya juga orang yang pendiam. Gadis itu hanya duduk di ujung sofa sambil memelintir pinggiran gaunnya. Sesekali melirik takut ke arah Aga, atau melempar pandangan pada perabot ruang keluarga Muryada. Kentara sekali, gadis itu kelihatan bosan. Tapi terlalu takut memulai sebuah percakapan.

“Sekolah dimana?” tanya Aga, masih memandang layar PSPnya.

Disemprot pertanyaan dadakan begitu, jelas Rivailla kaget. Tapi gadis itu selalu belajar untuk mengendalikan diri. Jadi, ia tersenyum lantas menjawab lugas; “SMP 2.”

“Oh, elit, ya?” komentarnya lugas, melirik Rivailla kali ini.

“Kamu sendiri dimana?” kata Rivailla, balik bertanya.

“14.”

Aga tidak berkata apapun lagi. Ia sedang berusaha naik level dan bicara dengan Rivailla ternyata membuyarkan konsentrasinya. Rivailla, juga, tidak bertanya lagi setelah lawan bicaranya menjawab begitu singkat. Mereka diam lama sekali dan keheningan itu baru berhenti saat ayah Rivailla mengajak gadis itu pulang.

***

Semestinya Aga tahu kalau ia harus melewatkan makan malam hari ini seperti rencananya semula. Meja makan mereka terasa dingin saat Papa dan Mamanya tidak mengobrol seperti biasa. Sebagai anak sulung di keluarganya, ia sudah cukup besar untuk mengerti masalah apa yang membelit kedua orang tuanya.

“Bagaimana Rivailla menurut kamu, Ga?” Papanya buka suara. Tidak biasanya. Rudi tidak suka ada orang yang bicara saat sedang makan. Tapi tentu Papanya merasa punya otoritas untuk melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.

Aga mengangkat sebelah alisnya. “Biasa saja.”

Rudi tampak tidak puas mendengar penuturan anaknya. “Hanya segitu? Papa kira Rivailla nggak buruk.”

Mengerti maksud Papanya, Aga memilih untuk tidak menggubris pendapat Rudi. Ia menatap piringnya tanpa minat. Nafsu makannya sudah sepenuhnya hilang sekarang.

“Aga masih muda, Rud. Biarkan dia menikmati masa remajanya dulu, dong,” protes Mega, Mamanya. Mega adalah orang yang selalu berdiri di sisinya saat Ayahnya mulai menuntut Aga ini-itu. Mungkin, Mamanya itu orang paling manusiawi yang kejatuhan sial harus terlibat dengan keluarga Muryada. Ia begitu hidup, begitu bebas. Sikap yang kemudian Aga sesali.

“Tahu apa sih, kamu? Saya begini juga kan demi anak saya!” suara Rudi meninggi. Matanya yang hitam memandang Mega penuh sorot ketidak sukaan.

Mega mengernyit tak suka. “Anakmu ya anak saya juga!”

Aga melirik Razakki, yang tampak kesal di tempatnya duduk. Matanya lantas beralih pada Rayan. Adik terkecilnya itu menatap orang tua mereka penuh sorot ketakutan. Lain dengan Aga yang sudah bisa menyikapi pertengkaran Rudi dan Mega dengan tenang, kedua adiknya masih terlalu kecil untuk mengerti.

“Rayan, Zakki, ikut abang main game di atas yuk?” ajaknya, memberi senyum paling menenangkan yang bisa dibentuk bibirnya saat ini.

***

Upaya Rudi untuk terus menjodohkan Aga dan Rivailla rupanya tak berhenti sampai disitu. Pria itu muncul dengan si gadis di akhir pekan. Mereka duduk manis di ruang tamu dengan secangkir teh dan setoples kukis coklat saat Aga turun dengan pakaian rapi. Siap pergi.

“Mau kemana kamu?” Rudi bertanya. “Rivailla datang kok malah pergi.”

Aga memutar bola matanya bosan. “Ke toko buku,” jawabnya ringkas. Tanpa menunggu jawaban dari Papanya, Aga langsung melengos pergi.

“Ajak Rivailla sekalian,” kata Rudi lagi sebelum punggung Aga hilang di pintu depan. Nadanya santai, tapi Aga bisa mengerti betul kalau Papanya tidak sedang dalam mood yang baik untuk dibantah setelah semalam bertengkar hebat dengan sang Mama.

Aga berdecak, tidak bisa membantah. Di belakangnya, Rivailla berjalan cepat mengekor. Sejujurnya, gadis itu malas terjebak bersama Aga yang jutek dan irit bicara. Tapi apa mau dikata. Ayahnya sendiri bersikeras sekali ingin dirinya mengakrabkan diri dengan cowok dingin itu.

Sejujurnya hari ini Aga ingin menghabiskan sepanjang hari di luar rumah dibanding harus melihat pertengkaran Papa dan Mamanya lagi. Jadi setelah selesai membeli buku, cowok itu berencana mampir ke rumah Bagas dulu untuk main play station atau menonton F1 nanti sore. Tapi gadis bernama Rivailla ini sukses menghancurkan hampir separuh jadwal yang ia buat. Dan tentu saja, Aga tidak mengapresiasi hal itu.

“Kamu mau beli buku apa?” tanya Rivailla saat mereka sudah duduk di kursi belakang taksi. Aga tidak suka naik taksi. Buang-buang uang, pikirnya. Tapi tentu saja gadis seperti Rivailla tidak mungkin diajak naik Damri, atau panas-panasan naik ojek.

“Latihan soal,” jawab Aga, lagi-lagi seringkas yang ia bisa.

“Maaf ya,” tiba-tiba Rivailla menunduk. Wajahnya tampak jelas seperti merasa bersalah.

“Gara-gara aku datang kamu jadi harus pergi sama aku,” lanjutnya lagi dengan suara pelan.

Sial, Aga jadi tidak tega.

“Nggak apa-apa,” ujarnya sembari menghela nafas. “Karena udah terlanjur, jadi sekalian aja jalan-jalan. Kamu mau beli buku?”

Mendengar jawaban bersahabat dari Aga, Rivailla kembali ceria seperti sedia kala. Gadis itu tersenyum lebar, kemudian mengangguk. “Aku nggak kepikiran, sih. Tapi nanti pasti beli.”

“Buku apa?” tanya Aga, berupaya agar Rivailla tidak merasa diabaikan lagi.

Not literally a book. Aku mau beli majalah, sih. Paling CosmoGirl atau HET.”

Aga menggumam panjang, tidak tahu majalah yang disebut Rivailla. Ia selalu mampir di comic corner, novel corner atau rak buku pelajaran kalau mampir ke toko buku. Jadi rasanya wajar saja kalau judul-judul tadi asing di telinganya.

“Itu majalah fashion?” tanya Aga, lagi-lagi ingin menyambung percakapan.

Rivailla terkekeh. “Nggak juga, sih. Ya, majalah remaja gitu deh. Ada fashion, ulasan make-upinfotainment news dan kadang ada juga ulasan soal tips-tips bermanfaat gitu. Banyak, deh.”

“Kamu tertarik sama gitu-gituan?”

Mendengar Aga mengategorikan hal-hal yang disukainya sebagai ‘gitu-gituan’ membuat Rivailla mengerutkan dahi. Tapi gadis itu tidak protes. “Aku kepingin banget jadi designer. Jadi ya harus melek fashion. Masih lama, sih. Tapi kan nggak ada salahnya dimulai dari sekarang,” tuturnya ditutup kekehan kecil.

Aga selalu menganggap perempuan perlu bersikap sangat feminin untuk mempertahankan kodrat mereka sebagai wanita. Karena itu, meski tidak mengerti hampir sembilan puluh persen hal yang dibicarakan Rivailla, Aga tidak membencinya. Mendengar gadis itu bercerita jadi hiburan tersendiri baginya dalam perjalanan menuju toko buku.

Mungkin kali ini Papanya benar. Rivailla tidak seburuk yang ia pikir.

***

Berawal dari perjalanan singkat itu, Rivailla hadir hampir dalam setiap fase hidupnya. Gadis itu ada saat dirinya terpuruk karena perceraian kedua orang tuanya. Gadis itu menemaninya saat Aga mencetak berbagai sejarah penting di masa putih abu-abunya. Gadis itu selalu ada sampai Aga terlalu nyaman tinggal dengan keberadaannya. Ditambah pikiran tentang betapa ideal Rivailla bersama dengannya, Aga sungguh tak bisa melupakan gadis itu.

Pintu di belakang punggungnya mengayun terbuka, memperlihatkan Razakki dalam balutan santai di baliknya. Adiknya itu pasti belum mandi.

“Papa bilang jangan lupa datang ke bakti sosial hari ini. Kita kan sponsor,” kata Zakki, sapaan akrab putra kedua Rudi Muryada.

Aga mendengus. Ia memutar tubuh, kembali memandang tugas-tugasnya yang masih kosong. Cowok itu menghela nafas, menarik jaket bomber miliknya sebelum meninggalkan kamar.

Aga harus melupakan Rivailla, dan kesibukan jadi solusinya. Hari itu, Aga menyesap dua cangkir kopi paginya sambil memikirkan Rivailla. Ia membawa mobil miliknya sambil memikirkan Rivailla. Ia bertahan tiga jam di bakti sosial yang diadakan SMA 20 sambil bernostalgia tentang Rivailla. Ia memikirkan Rivailla terus, kemudian bertemu Tika.

[END]


This is a prequel from Secangkir Kopi dan Sepotong Hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s