Setangkai Dandelion

Image by: www.tiki-toki.com

“Sometimes you don’t see that the best thing that’s ever happened to you is sitting there, right under your nose.”

Buat gue, cinta-cintaan itu masalah basi. Bukannya berhati batu, atau sok keren, atau sebagainya. Dari pengalaman, gue belajar kalau masalah hati kadang bikin sebagian besar orang kehilangan akal sehat. Seolah otak mereka gak bisa dipake untuk memikirkan sesuatu secara lebih rasional lagi. Semua takarannya berubah jadi sesuai hati. Sebagai orang yang masih waras, gue jelas menolak ketidakrasionalitasan ini. Jatuh cinta bikin kebanyakan temen gue tidak lagi punya banyak quality time dengan orang terdekat mereka. Bahkan dengan diri mereka sendiri.

Heri, contohnya, tidak pernah bisa ikut main playstation 3 di rumah Rangga setiap malam minggu karena harus secara rutin datang ke rumah pacarnya Intan. Gue tidak mengerti kenapa semua cewek minta malam minggu mereka dihabiskan bersama pacar. Apalagi dalam kasus Heri dan Intan. Maksud gue, mereka bertemu setiap hari di sekolah, dengan bangku yang berjarak kurang dari lima meter dan masih merasa belum cukup juga?

Lalu ada Tito, yang setiap hari minggu tidak pernah bisa diajak futsal. Hari minggu adalah jadwal nontonnya bersama Farah, pacarnya yang sedikit genit dan kelewat manja. Tipe cewek macam Farah adalah tipe terakhir yang akan gue jadikan pacar kalau suatu saat gagasan itu lewat di kepala gue. Buat apa punya pacar cantik dan lucu kalau bisanya cuma ngabisin duit doang setiap minggu? Nope. Gue lebih memilih beli Gundam dibanding harus jalan dan keluar uang tiap weekend.

Intinya, jatuh cinta itu merepotkan.

Dan gue menolak direpotkan.

“Put, minggu ke Gramedia, yuk. Gue mau beli komik Nakayoshi edisi bulan ini.”

Itu, yang barusan bicara sama gue, adalah si nenek lampir k.a Hayan Habibi Azhar. Cewek yang selama 3 tahun gue di SMA 20 jadi orang paling dekat gue dengan gender berbeda. Rambut hitam Hayan yang agak kemerahan dan diikat asal berbentuk ekor kuda bergoyang-goyang saat cewek itu ambil posisi di samping gue. Di sisi lain, gue masih sibuk memegangi ponsel, main game sambil sesekali melirik ke arahnya.

Kalau sedang duduk berdua seperti ini, tidak jarang gue berpikir, kenapa cewek tipe Hayan cocok bersama gue yang notabene sedikit–oke, banyak–aneh. Cewek itu sibuk mengipas-ngipas salah satu buku catatan gue demi mengusir gerah. Hayan adalah tipe cewek yang biasa ditemukan sedang duduk di ruang OSIS bareng beberapa anak eskul lain atau berjemur di lapangan untuk latihan Paskibraka. Indeed, dia adalah jenis cewek aktif yang ikut banyak kegiatan sekolah. Berkebalikan sekali dengan gue yang jelas-jelas lebih memilih tidur di kamar dibanding harus datang ke pensi sekolah.

“Lo kan punya kaki dua, punya duit, punya mata, anggota badan masih utuh, bisa kali pergi sendiri,” cerocos gue, bentuk protes secara tidak langsung.

Hayan mendengus keras, jenis perilaku yang tidak akan gue temukan di cewek-cewek lain. “Yaelah, nganterin doang lo banyak protes. Ntar gue traktir creepes di kantin belakang, deh.”

Harus gue akui, Hayan memang paling jago nyogok orang.

“Oke.”

Deal, then,” lalu dia pergi sambil nyengir. Diam-diam gue mengamati pergerakan Hayan. Badannya bagus, sebenarnya. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Dia juga tidak gemuk. Bagi gue, Hayan seperti setangkai dandelion. Liar, tapi punya keindahannya sendiri. Gue punya semacam firasat, kalau saja Hayan tidak tomboy dan tidak terlalu sering berjemur di lapangan, dia bisa saja kelihatan secantik Eva.

Tunggu. Apa?

***

“Jadi, OSIS rencananya bakal ngadain prom night gitu setelah upacara kelulusan. Dress codenya black and white. Tapi kalian wajib pake topeng,” Wahyu, dengan muka malasnya mengumumkan pagelaran pesta perpisahan sekolah di depan kelas. Entah kenapa, setiap ngeliat Wahyu gue mendadak ingat Shikamaru di anime Naruto. They really look alike.

“Itu namanya pesta topeng dong, bukan prom night,” kata Anwar. Gue mengiyakan dalam hati.

Kebanyakan anak kelas (terutama cewek) kelihatan kelewat semangat mendengarkan pengumuman Wahyu yang–sejujurnya–bikin gue ngantuk setengah mampus. Gue melirik ke meja di sebelah kiri gue, tepat ke meja Heri dan Intan. Heri mungkin lagi modus megangin tangan pacarnya di bawah meja sekarang. Lirik lagi, ke meja Juni. Cewek genit itu tidak berhenti bicara (lebih tepatnya, kayak orase) kalau siapa tahu Jovan mau ngajak dia ke prom. Gue mendengus. Semua anak eskul futsal tahu Jovan sudah naksir sama Amanda dari dulu. Gue salah satunya by the way.

Gue melirik ke beberapa meja secara random. Findi, Valen, Avantika, Helen, Oliv dan Hayan. Setidaknya ada cewek seperti Tika dan Hayan yang nggak lebay menanggapi pengumuman ini.

Wahyu sudah kembali lagi ke tempatnya, kursi di samping gue saat gue memutuskan untuk meletakkan kepala di atas meja dan tidur. Gue tidak benar-benar tidur, sebenarnya. Harus gue akui agak sulit tidur di kelas berisi cewek bermulut berisik macam Juni dan cowok-cowok yang sibuk taruhan siapa yang bisa ngajak Amanda ke prom.

We talked about Amanda Palma Muryada, anyway.

Amanda, seperti kebanyakan Muryada yang lainnya, masuk jajaran cewek paling beken di sekolah sejak dia pertama kali masuk 20. Rambut coklat tua, mata hijau dan muka bule cukup jadi modal untuk membuat setengah dari populasi cowok di 20 menggila. Harus gue akui, dia memang gorgeous. Bahkan cowok sekelas Jovan saja dibuat minder. Dan supernya lagi, gue bukan tipe cowok yang akan menyukai cewek seperti dia.

Gue lebih suka tipe cewek seperti Yunia. Supel, asik, tidak banyak gaya dan enak diajak ngobrol. Oke. I have a crush on her.

Bel pulang berbunyi tepat saat gue mulai merasa mengantuk.

***

Suara teriakan anak-anak Paskibraka sudah jadi makanan sehari-hari semua anak 20 setiap sabtu sore. Biasanya, mereka akan latihan di lapangan tiga karena lapangan satu dan dua sudah di booking Basket dan Futsal. Itu pun kalau mereka bisa menang debat bareng anak Pramuka yang kadang ikut latihan di lapangan juga. Perdebatan mereka–kata Hayan–terjadi setiap rapat perwakilan eskul. Sebulan sekali. Di rapat itulah ditentukan siapa yang berhak pakai lapangan tiga setiap sabtu sore selama sebulan ke depan.

Gue bukan anak OSIS, pun anak eskul yang sering hadir rapat. Jadi gue cuma tahu dari cerita Hayan saja.

Hari ini sesuai perjanjian, gue harus menemani Hayan ke Gramedia di seberang BIP (Bandung Indah Plaza). Cewek itu jadi agak beringas kalau sudah menyangkut komik kesukaannya dan melihat Hayan jadi beringas adalah hal terakhir yang gue inginkan terjadi dalam hidup gue.

Baru beberapa menit duduk di pinggir lapangan, harus gue akui, gue mulai bosan. Apalagi Hayan kelihatan terlalu asyik ‘main’ di lapangan sehingga tidak sempat bahkan untuk menoleh melihat gue. Dering ponsel rasanya jadi melodi paling indah yang berhasil membunuh kebosanan gue di sore panjang ini.

[Yunia R.]

Putra?

Untuk beberapa detik setelahnya, gue menahan nafas. Kalau tidak ada masalah pada mata gue (dan gue yakin seratus persen memang tidak ada), pesan yang barusan gue baca di aplikasi LINE ponsel gue memang berasal dari Yunia.

Yeah, Yunia yang itu.

Jari gue mengetik cepat di atas layar ponsel. Sebisa mungkin tidak membuat cewek itu menunggu. Eh, atau sebaiknya membiarkan dia menunggu biar gue terkesan cuek? Ah, masa bodoh soal itu. Gue terlalu senang untuk menunda balasan.

[Putra Julian]

Kenapa yun?

Tidak sampai tiga menit, Yunia kembali membalas.

[Yunia R.]

Anter gue ke butik, yuk. Bentar lagi kan prom. Gue minta anter Kak Dion, dia ga bisa

[Putra Julian]

Boleh. Kapan?

[Yunia R.]

Sekarang. Lo lg dimana?

[Putra Julian]

Sekolah. Bentar lg gw jemput

Mungkin ini yang namanya keberuntungan, pikir gue. LINE singkat dari Yunia seketika membuat mood gue kembali baik. Apalagi, hari ini cewek itu menghubungi gue khusus untuk menemani dia ke butik. Segera setelah meletakkan ponsel gue di saku tas, gue menarik jaket biru tua gue dan segera menghampiri Hayan. Beruntung cewek itu sedang dalam sesi istirahat meski masih harus duduk di tengah lapangan, di dalam barisannya.

“Yan,” gue memanggil namanya. Membuat Hayan langsung menoleh.

“Eh, Put. Sabar, ya. Gue bentar lagi sele–”

Gue menggeleng pelan. Masih tidak bisa melunturkan senyuman gila di wajah gue. Efek LINE Yunia tadi. “Gue gak bisa, nih. Next time aja, ya. Atau lo bisa minta anter Lukas.”

Lukas adalah anak Basket yang juga tetangga Hayan. Biasanya, kalau gue mendadak tidak bisa menemani cewek itu, Lukas lah yang dia cari. Harus gue akui, Hayan memang bergantung pada kami berdua sejak kakak kandungnya meninggal dalam kecelakaan motor.

“Yunia lagi?” Hayan mengelap peluh di dahinya menggunakan pinggiran baju olahraga. Meninggalkan noda kecoklatan di baju berwarna biru muda itu. “Ini udah entah-ke-berapa kalinya lo batalin janji sama gue buat nemenin Yunia, lho, Put.”

“Iya,” jawab gue, mendadak dingin. Entah kenapa gue tidak suka menangkap nada Hayan yang terdengar tidak suka. Gue bukan orang yang senang mengingkari janji. Tapi kadang ada satu atau beberapa hal yang harus diutamakan karena punya skala prioritas yang lebih tinggi. “Lo tau kan, gue lagi–”

“Masa PDKT sama Yunia. Yeah, I get that. Mending lo pergi sekarang aja, deh. Gue bisa minta temenin Lukas.”

Gue menepuk kepalanya. “Thanks, Yan!”

“Dan, Put…” gue menghentikan langkah saat Hayan memanggil nama gue lagi. Saat gue menoleh, entah kenapa gue punya firasat yang buruk tentang cewek itu. “…nggak akan ada lain kali.”

Gue tidak mengerti maksudnya, jadi gue memutuskan mengangkat bahu dan kembali berjalan.

***

Prom sudah tinggal menghitung hari. Sekolah gue sedang dihebohkan dengan kabar jadiannya Tika dan Guntur. Wajar, sih. Guntur termasuk aktivis yang punya banyak penggemar rahasia. Terlebih, dia juga mantan kapten futsal dua tahun berturut-turut. Di sisi lain, Tika justru cewek yang biasa-biasa saja. Manis, sih. Dan pernah ditembak dua orang kakak kelas sewaktu kelas sepuluh dan sebelas dulu. Tapi cewek itu lebih tertarik sama isu kebakaran nasional atau korupsi dibanding ngurusin pacar. Jadi semua orang–termasuk gue–bingung kenapa mereka bisa jadian.

Cowok-cowok di eskul basket belakangan ini selalu nangkring di kelas gue. Apa lagi kalau bukan mencoba mengajak Amanda ke prom. Tapi dari delapan orang yang mengajaknya, sejauh ini semuanya ditolak.

Belakangan ini, Hayan tidak lagi merecoki gue dengan cerita-cerita tidak pentingnya. Atau memaksa gue mengantarnya kesana kemari seperti gojek langganan. Cewek itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Lukas atau teman-teman ceweknya yang lain dan tidak lagi mengajak gue bicara. Bahkan saat berpapasan di koridor atau lapangan sekolah, dia cuma akan menepuk bahu gue sambil berkata: “Woi, Put!” lalu berlalu.

Gue bohong kalau gue bilang tidak ada yang hilang.

Hayan dan gue (ditambah Lukas juga) adalah tiga sekawan yang sudah bersama sejak kecil. Sejak gue masih ngompol di celana dan sejak Hayan masih berebut lollipop sama Lukas. Gue paling tahu kalau Hayan tidak suka makan nasi sewaktu kecil, kalau Lukas pernah hampir makan kotoran ayam dan mereka paling tahu kalau gue pernah suka menjilati ujung obeng.

Jadi berjauhan begini rasanya agak aneh. Ralat, sangat aneh.

“Put!” tepukan pelan di bahu menyadarkan gue dari lamunan sialan yang belakangan ini sering mampir. Rupanya Jovan. Cowok itu menenggak minuman isotonik yang dibawanya sebelum duduk di samping gue. “Udah nemu pasangan yang mau lo bawa ke prom?”

Gue menggeleng. “Gue rencananya mau ngajak Hayan.”

Salah satu alis Jovan terangkat. “Bukannya lo lagi deket sama–siapa, itu? Yunia?”

Mendengar nama Yunia keluar dari mulut Jovan mau tak mau membuat gue meringis pelan. “Tadinya gue mau ngajak dia,” tukas gue, menggaruk tengkuk gue yang tidak gatal sama sekali.

“Terus kenapa lo nggak ngajak dia aja?” tanya Jovan lagi. Kelihatan tertarik.

“Cuma nggak tertarik aja. Gue rasa dia bukan teman yang pas buat diajak ke prom.”

“Dan menurut lo, Hayan pas?” ada nada menggoda dalam suara Jovan yang ditangkap telinga gue.

Gue tidak menjawab.

Sebenarnya, alasan kenapa gue tidak mengajak Yunia adalah karena cewek itu meminta bantuan gue agar Jovan mengajaknya ke prom. Which is impossible mengingat Jovan sudah pasti pasang badan untuk mengajak Amanda. Cowok itu sudah diceramahi berminggu-minggu oleh Lukas tentang ‘lo akan menyesal kalau nggak start sekarang’ dan sebagainya. Dan saat Yunia mengutarakan niatnya itu, gue baru sadar kalau selama ini gue tidak pernah benar-benar kasat di matanya.

Secara tiba-tiba gue ingat kata-kata Hayan beberapa minggu lalu. Saat gue dengan entengnya kembali membatalkan janji karena mengurus Yunia.

“Nggak akan ada lain kali.

Gue terkesiap, menggelindingkan bola basket ke tengah lapangan sebelum buru-buru meraih tas punggung. “Van, gue duluan, ya!”

Tanpa menunggu jawaban Jovan, gue langsung berlari pergi.

***

Hayan sedang ada di meja yang sama dengan Tika, Findi, Amanda, Oliv dan Valen. Minus Helen yang biasanya ngumpul bareng mereka. Sesekali gue bisa mendengar nama Jovan dan Guntur keluar dari mulut mereka dan Tika dan Amanda akan pura-pura menulis atau memalingkan wajah mereka ke arah lain. Sikap salah tingkah yang cukup keren, menurut gue.

Gue berjalan santai menghampiri cewek-cewek itu. Sedikit deg-degan, padahal gue hanya mau mengajak Hayan ke prom bareng. Beberapa langkah sebelum benar-benar sampai di meja itu, Hayan menoleh, menatap gue dengan tatapan heran.

“Putra?” nada heran keluar dari mulut Hayan saat cewek itu memanggil nama gue.

“Boleh gue pinjem Hayannya sebentar?” tanya gue, menggaruk tengkuk karena gugup.

Amanda mengangkat bahunya sementara sisa cewek lainnya (kecuali Hayan) berkata ‘Boleh,’ sambil menganggukkan kepala. Mendapat persetujuan, gue menarik tangan Hayan dan membawanya keluar kelas. Berdiri di koridor yang cukup sepi.

“Ada apa, Put? Tumbenan amat lo nyariin gue,” tukas Hayan sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Gue mau ngajak lo ke prom. Mau, gak?” tanya gue dalam satu tarikan nafas.

Untuk beberapa detik selanjutnya, Hayan cuma memandang gue dalam-dalam. Gue baru sadar sudah lama sekali rasanya sejak gue tidak melihat mata hitam Hayan. Atau kulit kecoklatannya yang belakangan ini mulai kelihatan lebih bersih. Pada dasarnya, Hayan memang punya kulit yang sawo matang dan sangat bersih. Hanya saja, keseringan berdiri di bawah terik membuat kulitnya sedikit kusam.

Gue baru ingat fakta kecil itu.

“Sori, Put…” dua patah kata dari Hayan sukses membuat gue merasa jadi cowok paling tolol di seantero SMA 20. “Gue udah diajak orang lain.”

Rasanya tenggorokan gue tercekat. “Siapa?”

Entah hanya bayangan gue saja atau wajah Hayan sedikit tersipu. “Lukas,” jawabnya. Sukses membuat gue menganga.

“Lo sama Lukas dari kapan?”

“Kapan apanya?” alis Hayan bertaut bingung.

“Jadian.”

Hayan tertawa kencang. “Gue nggak jadian sama Lukas, Put. Jangan ngaco, ah. Lagian kenapa lo nggak ajak Yunia aja? Bukannya selama ini lo ngejar-ngejar dia, ya?”

Gue tidak menjawab.

“Gue tau Yunia cuma manfaatin lo aja. Keliatan sih dari mukanya. Lagian, dia selalu ngeliatin Jovan kalau anak basket latihan. Ya iyalah, ya. Anak pramuka kan suka pada nongkrong gak jelas gitu di samping lapangan basket,” Hayan mulai nyerocos. “Tapi lo keliatan semangat banget pas lagi suka sama dia. Gue jadi gak tega ngomongnya. Apalagi nggak ada jaminan lo bakal percaya sama gue kalo gue ngomong.”

Hayan benar. Sudah seberapa buta gue sewaktu Yunia berkali-kali manfaatin gue demi kepentingan dia sendiri. Tanpa gue sadari, gue dijadikan ojek dan teman saat dia bete. And after all of that, dia ternyata cuma liat Jovan seorang dan gue tidak lebih dari seorang teman. Yang paling gue sesali dari semua itu, adalah saat dimana gue harus mengorbankan waktu berharga gue bersama sahabat-sahabat gue.

Sialan. Tanpa sadar gue jadi manusia bodoh yang sesungguhnya. Lebih bodoh dari Heri atau Tito.

Hayan mengangkat kedua bahunya. “Tapi setidaknya lo udah belajar sesuatu,” pungkasnya sebelum dia berjalan memasuki kelas lagi.

Saat melewati pintu, dia menoleh, menatap gue sambil tersenyum teduh.

“Lo tau, gak, Put?” katanya. “Kalau lo ngajak gue seminggu lebih awal, gue mungkin bilang iya.”

Dan Hayan meninggalkan gue yang masih sibuk mencerna apa maksud kalimatnya barusan.

***

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s