Kesempatan Kedua

(pict by: www.viewbug.com)

“I have had enough. Maybe the word ‘happiness’ didn’t match with us.”

Tasya Ilyas Mahardika mengusap pinggiran gelas Ice Cafe Latte miliknya. Matanya menatap lurus, nyalang dan penuh luka. Beberapa kali air matanya menggenang, dan Tasya menyesap lagi kopi pahit itu untuk mengalihkan kesedihannya. Lidahnya mengkerut. Ia tidak suka kopi, tapi minuman pahit itu menemaninya di saat-saat terburuk dalam hidupnya.

Di depan sana, Darryl sibuk memainkan rambut Martha, membuat gadis blasteran Indonesia-Australia itu berkali-kali tersipu malu.

Ya, Darryl Muhammad. Kekasihnya.

Ini bukan pertama kalinya Tasya memergoki Darryl duduk di cafe dengan Martha. Kebanyakan merupakan ketidak sengajaan yang menurutnya agak gila. Dua bulan lalu, saat mamanya meminta ditemani ke salon, Tasya bertemu mereka. Darryl dan Martha tampak sedang memesan dua gelas kopi tepat di seberang salon tujuannya. Dua minggu kemudian, saat Tika memaksanya ke Gramedia demi berburu novel serial kesukaannya, ia bertemu mereka lagi. Saat itu Darryl malah kepergok sedang mencium pelipis Martha penuh sayang.

Tepukan di bahu Tasya membuyarkan lamunan gadis itu, memaksa air matanya melesak keluar dan membuat jejak di pipi kanannya. Avantika, partner-in-crime nya, menarik kursi empuk tepat di depan Tasya. Alis gadis itu mengerut memandang jejak air mata di pipi Tasya; yang tidak keburu ia hapus.

“Tas? Lo kenapa?” tanya Tika, menyentuh lengan Tasya lembut. Tasya menggeleng.

“Tas..”

“Gue gak apa-apa, Tik.”

Tika tidak percaya, tentu saja. Ada banyak arti dalam kalimat ‘tidak apa-apa’ yang Tasya lontarkan dan instingnya bilang, apapun itu, bukan hal yang baik. Tika menoleh, menatap arah seratus delapan puluh derajat dari posisinya dan mendapati Darryl sedang terkekeh geli, bersama Martha.

“Bangke!” maki Tika, beranjak dari kursinya berniat membuat perhitungan dengan cowok brengsek itu.

Tasya menyambar salah satu tangan Tika, menggeleng kuat-kuat sambil menggigit bibir. “Jangan, Tik. Ini tempat umum!”

Tika menatap Tasya dengan tatapan tidak percaya. “Tas! Ini udah ketiga kalinya lo mergokin mereka berdua! Selama ini lo diem aja, terus aja percaya kalau Darryl cuma khilaf, khilaf. Ini namanya kebablasan!”

Seruan Tika tanpa sadar malah menarik perhatian nyaris semua pengunjung cafe kecil itu. Termasuk Darryl dan Martha yang kemesraannya terganggu; setidaknya begitulah pikiran Tasya. Ia memiringkan kepalanya, memandang kedua orang yang berjarak dua kursi dari mereka itu dengan tatapan terluka. Wajah Tasya pucat pasi, kontras sekali dengan matanya yang sembab dan memerah. Mungkin Tika benar. Mungkin diam kadang bukan aksi yang tepat. Tidak akan pernah ada perubahan apapun selama dirinya masih diam saja.

“Sekarang lo kesana, ngomong sama Darryl kalo kalian udah cukup sampai disini aja. For God’s sake, Tasya! You deserves somenone’s better than that jerk!

Tasya mengangguk. Setelah dua bulan mengabaikan koar-koar Tika soal hubungannya yang sudah hancur sejak lama, Tasya akhirnya setuju. Ia akhirnya memutuskan berjalan maju ketimbang terus berdiri memandang Darryl yang jelas-jelas sudah meninggalkannya.

Dada Tasya naik, tanda ia sedang menarik nafas panjang demi menenangkan dirinya sendiri. Siapkah dia melepas Darryl sekarang? Setelah tiga tahun hubungan mereka yang jatuh bangun? Setelah perjuangannya yang tidak bisa dibilang main-main?

Tasya harus bisa. Dengan langkah mantap, ia berjalan ke arah dua orang yang selama dua bulan ini menjadi penghias mimpi-mimpi buruknya. Suara ketukan langkah sepatu Tasya terdengar seperti genderang kematian di telinga Darryl. Ia tidak pernah mengira Tasya akan memergoki perselingkuhannya seperti ini, secepat ini.

“Halo, Dar,” sapa Tasya diiringi senyuman pahit yang mati-matian ia sunggingkan. “Halo juga Mar.”

“Tas…aku bisa jelasin ini…” Darryl bangkit dari kursinya, melepaskan pelukan Martha di lengannya.

Alis Tasya terangkat sebelah. “Jelasin apa lagi, Dar? Mataku masih berfungsi dengan baik. Memang ada bedanya kalau aku dengar penjelasan kamu?”

Darryl panas dingin.

For your information, aku sudah tahu hubungan kalian sejak dua bulan yang lalu. Waktu kamu nganter Martha ke salon lalu mampir ke d’Lotéire setelahnya,” Tasya mengangkat bahu. “Padahal kukira kamu beneran mau latihan futsal waktu itu.”

Mata Tasya melirik Martha yang seolah mengekerut di kursinya. “Mar, kamu cantik banget, sih,” pujinya tulus. “Sayangnya suka sama cowok orang, ya?”

Ketiga orang itu, tanpa sadar jadi tontonan semua pengunjung cafe. Tasya tidak peduli. Ia ingin urusannya disini segera selesai agar ia bisa menangis di bahu Tika sepuasnya saat sampai di rumah nanti.

“Kita sampai sini aja, ya, Dar. I’m too good for a jerk like you.”

Tasya langsung berbalik dan berjalan menjauh. Tidak berniat sama sekali memandang Darryl yang terpaku di belakangnya. Mungkin setelah ini ia akan memaksa Tika menemaninya menonton He’s Just Not That Into You sambil menangis sesegukan, meski yakin air matanya tidak ditujukan untuk film yang dia tonton. Mungkin untuk sementara, Tasya tutup rapat dulu saja hatinya sambil membersihkan kotoran yang Darryl tinggalkan dan menyembukan luka yang mantan pacarnya itu torehkan.

***

Tasya sibuk merapikan buku-bukunya, menyusunnya dengan rapi di dalam tas sambil mendengarkan gerutuan Tika yang tidak berujung. Sahabatnya itu baru saja kena damprat Oktaluki, senior mereka yang juga senior Tika di UKM majalah kampus. Tasya menimpali sesekali, menekankan kalau Okta hanya ingin menarik perhatian gadis itu. Senior normal mana yang akan terus-terusan memarahi junior yang sama setiap minggu?

Kedua sahabat itu baru saja akan keluar dari kelas saat Darryl berjalan masuk. Cowok dari Fakultas Psikologi itu kelihatan kacau dengan janggut yang mulai panjang, berewok acak-acakan dan rambut lepek. Kantung matanya lebih hitam dibanding terakhir kali Tasya bertemu dengannya, di cafe, saat mereka putus secara resmi. Ia berusaha mengusir gagasan kalau mungkin saja Darryl kacau karena mereka putus.

Kedengarannya lucu.

“Tas, aku mau ngomong…”

“Eh, cowok brengsek. Lo gak ngerti arti dari kata putus, ya? Itu artinya ‘never show your fucking face in front of me again’,” Tika mendengus keras sambil menatap Darryl sengit. Tasya berusaha menahan tawanya.

“Mau ngomong apa?” Tasya menatap Darryl datar. Ada luka yang terbuka di hati Darryl saat melihat tatapan gadis itu.

“Aku…khilaf, Tas. Aku udah nggak berhubungan lagi sama Martha sekarang. Aku mau kita ngulang semuanya dari awal lagi…”

Kediaman Tasya, harus ia akui, membuat Darryl menahan nafas.

“Dar, kamu itu buku yang udah selesai aku baca. Kalaupun aku baca ulang, endingnya akan tetap sama. Mungkin…” Tasya menarik nafas. “…mungkin kata bahagia memang nggak pernah ada buat kita, Dar. It was over.”

“Kasih aku kesempatan kedua..”

“Kesempatan kedua kamu datang di masa dua bulan kediamanku, Dar. Dan kamu menyia-nyiakannya.”

Setelah mengucapkan itu, Tasya berjalan begitu saja melewati Darryl. Meninggalkan semua kenangan mereka di belakang. Ia sudah memutuskan untuk berjalan maju. Darryl adalah masa lalu yang patut ia hargai, Tasya mengakui itu. Tapi kesempatan kedua selalu datang pada mereka yang memang layak mendapatkannya, dan Darryl bukan salah satunya.

***

END

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s