Sekelam Malam

“The pain of love is the pain of being alive.”

Dua bulan, bagi Tika berjalan terlalu cepat. Sebenarnya waktu-waktu yang ia lewati bersama Guntur memang selalu terasa begitu cepat. Tapi anehnya, semua kenangan dan momen yang sudah mereka lewati bersama seolah melekat erat dalam memorinya. Tika tidak berniat melupakannya, juga tidak berniat mengabadikannya. Baginya, momen indah selalu terasa berharga saat dikenang sendiri. Ada harga yang tak bisa diganti saat ia sadar, kenangan-kenangan itu tidak bisa lagi diulang.

Tika ingat dengan jelas wangi Guntur yang seperti lemon bercampur dengan mint. Mereka duduk di kursi bioskop sore itu, menunggu pemutaran film Transfrmers 4: Age of Extinction yang sudah masuk dalam list EXTREMELY-MUST-TO-WATCH nya sejak lama. Beberapa tetes air hujan yang sempat mengguyur mereka di jalan masih menggantung di ujung rambut Guntur yang lurus dan sedikit kaku. Entah mendapat dorongan dari mana, Tika mengeluarkan beberapa lembar tisu dan menarik kepala itu mendekat, menggosok rambutnya dengan lembut dan hati-hati.

Guntur tersenyum, puas karena diperhatikan begitu rupa. Tika sendiri malah sibuk menebak wangi apa yang lagi-lagi menguar dari tubuh cowok itu, pacarnya, selain lemon dan mint. Selesai menggosok, Tika sadar kalau Guntur memakai sampo yang sama dengan ayahnya. Sampo berbau mentol. Dan ia suka.

Kenangan-kenangan mereka berputar lagi seperti gasing. Memusingkan, mendebarkan, juga membuatnya rindu. Dua bulan terakhir yang ia habiskan dengan Guntur terasa begitu indah sampai Tika mengira semuanya hanya mimpi. Mereka bergandengan tangan, tersenyum, tertawa karena hal konyol dan menonton film bersama. Tidak ada yang salah kecuali kebahagiaan yang datang bertubi-tubi.

Tika menggulingkan tubuhnya ke kanan, telentang di atas ranjangnya. Tangan kanannya menjangkau ponsel yang tergeletak di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya. Ia harus; lagi-lagi; mendesah kecewa karena tidak menemukan notifikasi apapun dari ponsel pintar itu. Sudah seminggu. Ya, sudah seminggu Guntur menghilang tanpa pemberitahuan apapun. Tidak meneleponnya, tidak muncul di rumahnya, bahkan tidak memberinya satu katapun dalam pesan. Ia menghilang, seperti mimpi musim semi yang tiba-tiba menguap di musim panas selanjutnya.

“Jangan ingat-ingat, Tik. Dia aja mungkin gak inget sama lo,” bisiknya pada dirinya sendiri. Tika tahu dirinya tidak bisa menutup mata. Kalau mengabaikan Guntur begitu mudah, ia sudah melakukannya sejak dulu.

***

“Hari ini kamu kondangan ke Pak Ruben, ya. Papa males kesana. Mamamu kebetulan lagi di rumah Tante Vera, baru lahiran kemarin soalnya,” ajak Bambang pada anak keduanya yang sejak tadi sibuk mengunyah keripik kentang di depan televisi.

Tika mengerutkan kening. Kenapa dirinya tiba-tiba terjebak dalam tanggung jawab menghadiri pesta kondangan orang tua?

“Lha, Pak Ruben? Papanya Findi? Emang Mamanya kenapa Pa? Kok udah nikah lagi aja?!” Tika heboh sendiri. Pak Ruben yang dimaksud Papanya adalah teman beliau sewaktu PKL dulu. Keluarga mereka menetap di Bandung sudah sejak lama. Siapa sangka pula Tika dan anaknya, Findi, bisa bersahabat sangat dekat sejak keduanya menginjakkan kaki di SMA Mandala.

“Hush, ngawur kamu!” Bambang mendesis. “Itu anaknya ada yang tunangan katanya.”

Tika mengangguk-angguk. Seingatnya, Findi memang punya seorang kakak laki-kaki. Bang Alpen, begitu ia biasanya menyebut cowok itu. Dan seingatnya juga, Alpen memang sudah punya pacar. Jadi mungkin Alpen lah yang dijodohkan dalam kasus ini mengingat ia juga sudah punya pacar.

“Terus aku datang sendiri? Dih ogah banget. Berasa jones banget, Pa!”

Bambang terkekeh pelan. “Sama Arya aja, gih. Daripada dia duduk terus di depan PS, mending kamu ajak.”

Tika mengangguk lagi. Mengajak Arya berarti harus menyediakan sogokan banyak. Seperti makan siang di Double Steak atau ngopi di Coffee and Dan’s Jalan Naripan, mungkin. Tika mengankat bahu tidak peduli. Ini, kan, permintaan Papanya. Jadi beliau juga harus menanggung biayanya.

“Nanti Papa kasih uang buat ngopi, deh,” kata Bambang seakan mengerti isi kepala anaknya.

Tika nyengir lebar.

***

Malamnya Tika sudah siap dengan sebuah kaos rajut panjang putih gading dan celana batik dengan potongan sempit di pinggang dan melebar sampai kakinya yang dibungkus sandal kulit bertali dengan model santai yang tetap feminin. Rambut hitamnya diikat kuda di belakang kepala, menyisakan poni menyamping rapinya yang ia selipkan di belakang telinga. Khusus hari ini, Bambang mengizinkan anak bungsunya, Arya, mengendarai mobil meski usianya masih 14 tahun. Dan bisa ditebak, Arya langsung menyetujui permintaan sang Papa tanpa mendebat apapun lagi.

“Untung yang ke pesta sama gue itu lo,” kata Arya santai sambil mengendarai mobilnya. “Kalo Kak Alka, duh gila. Bisa berjamur gue nunggu dia dandan doang.”

Tika tergelak. “Ngatain kakak sendiri, dosa lo!”

“Emang bener, kan?” timpal Arya, tidak mau kalah. “Ngomong-ngomong Pak Ruben ini bukannya bokapnya temen lo, ya? Siapa itu namanya?”

“Findi.”

“Nah, iya. Dia.”

Tika mengangguk. “Gue ngesms dia tadi pagi, tapi dia gak bales. Ribet ngurusin tunangan kakaknya kali, ya?”

“Emang kakaknya yang tunangan?” tanya Arya lagi.

Tika termenung sebentar. “Kalo bukan Bang Alpen, terus siapa, dong? Pak Ruben?”

“Ya bisa aja si Findi itu,” timpal Arya ringan.

Tawa Tika mendadak terlantun. “Masa iya! Dia punya pacar aja nggak! Taksiran sih, ada. Tapi gue gak dikasih tau siapa namanya.”

“Ya gue bilang kan bisa aja,” Arya misuh-misuh sendiri. Kebiasaan Tika kalau sudah bicara, tidak akan berhenti. Sepanjang jalan kakaknya itu tidak berhenti bercerita; lebih tepatnya mendumel; tentang pacarnya yang sudah beberapa hari tidak memberinya kabar. Arya berusaha sekuat tenaga menahan dorongan dalam dirinya sendiri untuk menginjak rem dan menghantamkan kepala Tika ke dasbor mobil. Beruntung, mereka sampai beberapa menit kemudian. Minimal, Arya sudah berhasil mencegah dirinya sendiri menjadi kriminal atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap kakaknya.

Konsep pesta pertunangan yang diadakan adalah sebuah Garden Party sederhana yang tetap kelihatan elegan. Arya berjalan santai dengan setelan formalnya, tidak sadar kalau dirinya sudah mengundang beberapa tatapan penasaran dari para gadis yang hadir. Tika mendecih dalam hati. Dirinya mau tidak mau harus mengakui kalau adiknya memang tampan, sih.

Setelah mengambil dua gelas pouch, Tika berniat langsung menghampiri Arya ketika suara nyaring dari mikrofon di atas panggung menarik perhatiannya. Ruben, sang tuan rumah, berdiri disana dengan senyum sumringah. Di sisi panggung, Tika bisa melihat Alpen berdiri bersama kekasihnya, menatap sang ayah dengan tatapan bahagia.

“Selamat malam, hadirin sekalian,” sapa Ruben sopan. Tika mengurungkan niatnya menghampiri Arya yang berada tak jauh darinya. Tika menggerakkan jari, menyuruh adiknya itu mendekat sementara ia sendiri memasang telinga baik-baik, mendengar pengumuman Ruben.

“Saya sangat tersanjung atas ketersediaan kalian semua hadir di acara keluarga kami malam ini. Dengan bahagia, saya, Ruben Ruri Tanjung mengumumkan bahwa hari ini putri saya, Findi Fahasya Tanjung akan melangsungkan pertunangan!”

Terdengar suara tepuk tangan di berbagai arah. Tika sendiri tak bisa menahan keterkejutannya. Findi bertunangan dan ia tidak memberitahu Tika? Bukankah mereka sahabat?

Findi berjalan sambil tersenyum manis ke atas panggung. Ia jelas sekali merasa bahagia. Tubuhnya dibalut gaun pendek berbahan sutra berwarna putih susu dengan kerah berlipat dan tanpa lengan. Rambutnya disanggul rapi ke atas, menyisakan anak rambutnya mengikal di kedua sisi wajahnya. Ia cantik, tapi Tika tidak punya waktu memuji kecantikannya sekarang. Pertanyaan tentang kenapa Findi bertunangan tanpa memberinya kabar lebih dulu cukup mengejutkannya.

“Baiklah, saya mengerti anda semua pasti sudah mengenal calon tunangannya. Putra dari Bapak Jovan Gumilang..”

Arya sampai di sisi Tika ketika kakaknya itu mendadak limbung, menjatuhkan gelas pouch yang dibawanya ke rumput hijau di bawah kaki mereka. Beruntung, ia cukup sigap menahan punggung gadis itu agar tidak menghantam meja.

“Kak, lo kenapa?” tanyanya khawatir. Meski sempat merencanakan pembunuhan; yang tentu saja tidak serius; terhadap kakaknya tadi, Arya tetap saja adik manis yang khawatiran.

“…Guntur Gumilang!” iris coklat susu Tika mengawasi pergerakan cowok itu, masih sambil berusaha mengontrol emosinya. Cowok yang beberapa menit lalu masih ia ketahui berstatus sebagai pacarnya. Dan detik ini berubah menjadi tunangan dari sahabatnya sendiri. Tika tidak habis pikir dunia bisa sedrama ini.

“Lho, Kak. Guntur itu bukannya…” Arya menggantungkan kelimatnya saat melihat tatapan membunuh Tika, yang begitu kontras dipadukan dengan wajah pucat pasinya.

“Anter gue pulang, Ya,” pinta Tika, nyaris seperti bisikan angin.

Arya mengangguk, tidak bertanya apapun lagi. Ia meraih pinggang Tika, merapatkan gadis itu di dekatnya berniat menjaga keseimbangan sang kakak. Tapi tangan Tika menahannya, sorot matanya masih tajam. Dari gerakan tubuhnya, Tika seolah menyiratkan kalau Arya harus menunggu dulu. Tapi menunggu apa?

Tika menatap lurus pada mata Guntur, yang sibuk mengawasi gerak-gerik malu-malu dari Findi yang berjarak beberapa meter darinya, hanya dibatasi tubuh Ruben yang cukup gempal. Ia ingin Guntur melihatnya. Ia ingin cowok itu tahu kalau dirinya ada disini, dengan mata dan telinga yang masih berfungsi sempurna, menangkap dan mencerna semua kejadian dengan cepat.

Harapan Tika bersambut. Mata hitam Guntur melebar saat menangkap sosok Tika berdiri dalam rangkulan Arya, menatapnya dengan tatapan sengit bercampur luka. Ia mundur selangkah, menjaga keseimbangannya. Kata-kata yang terlontar dari mulut Ruben tak lagi bisa ia cerna dengan baik. Tika disana, berdiri memandangnya.

“Ayo, Ya,” Tika memalingkan wajah, tak sanggup bertatapan lebih lama lagi dengan mata hitam milik pengkhianat itu. Tangannya meremas lengan jas yang Arya pakai, pelampiasan dari air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Tika akan pergi, batin Guntur. Ia benar-benar pergi sekarang.

Guntur muak dengan semua ini. Tanpa menghiraukan apapun atau siapapun, ia berlari menuruni panggung, mengejar Tika yang masih berusaha berjalan secepat ia bisa.

“TIKA!” panggilnya saat gadis itu sudah berada di gerbang depan.

Tika tidak menoleh, tapi ia berhenti berjalan. Tangannya dengan lembut melepaskan rangkulan Arya dan menyuruh adiknya itu mengambil mobil.

“Yakin?” tanya Arya.

Tika mengangguk. Ia membalikkan tubuhnya saat Arya pergi. Tidak ada air mata yang turun, karena ia tidak akan membiarkan Guntur dan Findi menang. Ia tersenyum tipis, menyembunyikan kegetirannya.

“Hai, Tur,” sapanya sopan. “Bukannya lo mau tuker cincin, ya? Kok disini?”

Guntur merasa ada sesuatu yang menghantam dadanya saat Tika tidak lagi memanggilnya Lang seperti dulu.

“Tik, gue bisa jelasin…”

“Lang!” sebuah suara menginterupsi kalimatnya. Findi, terengah-engah di belakang cowok itu. “Kamu kenapa…Tika?”

“Hai, Fin. Maaf ya, bokap gue gak bisa datang. Dia galau ditinggal nyokap di rumah Tante Vera. Dia titip salam, selamat katanya,” Tika nyengir lebar, menertawakan dirinya sendiri. Mungkin setelah ini ia harus ikut audisi pemain film. Aktingnya bagus sekali.

“Tik, gue…” Findi kelihatan merasa bersalah.

“Santai aja,” Tika mengangkat bahu. “Gue sibuk banget tadi mikir kenapa lo tunangan dan nggak ngabarin gue sama sekali. Eh taunya…” Tika melirik Guntur.

“Sama Guntur, rupanya,” ia terkekeh.

Guntur merasa dunianya runtuh saat itu juga. Ia lebih baik melihat Tika menangis dan memakinya ketimbang menatap wajah riang gadis itu. Ia tahu Tika bohong, tapi perasaan terbuang dan bersalah ini terus mengganggunya. Kenapa Tika begitu ahli berbohong? Bahkan matanya…matanya begitu kosong seolah ia memang tidak masalah mendapati Guntur siap bertunangan dengan Findi sekarang.

TIN TIN!

Klakson mobil membuyarkan lamunan Tika. Ia menoleh ke belakang, Arya sudah berdiri di samping mobil, menunggunya.

“Eh, gue harus cabut sekarang. Sekali lagi selamat, ya! Have a very long lasting relationship!”

Setelah Tika mengucapkan itu, ia berbalik dan berjalan santai menuju mobil. Guntur diam, terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak mengira Tika akan tahu kebenarannya secepat ini. Di belakangnya, Findi malah sudah tidak bisa membendung tangis. Satu sisi dalam dirinya merasa begitu bersalah pada Tika. Sahabatnya yang selama tiga tahun ini mengisi hari-harinya dengan berbagai emosi. Sisi lainnya, kekeuh ingin memiliki Guntur bagaimanapun caranya. Sudah cukup ia mengalah pada Tika perihal cowok itu selama ini.

“Lang…”

“Jangan panggil gue dengan nama itu!”

Dan air mata Findi makin deras saat Guntur berjalan melewatinya begitu saja tanpa melirik.

Di dalam mobil, Tika memejamkan matanya dan cairan bening itu meluncur turun dengan indahnya. Makin lama makin deras. Tika mengigit bibir, menahan isakannya. Arya paham kakaknya memang tidak mau terlihat lemah, jadi ia memutuskan untuk mengencangkan volume radio.

“Nangis aja, Tik. Gue bakal menanggap semua ini tidak pernah terjadi,” kata Arya sebelum mengencangkan volume, menelan mereka dalam melodi sendu The Carpenters.

Tika mengisak, ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan terus menangis. Ia harus menangis untuk menghapus Guntur dari memorinya. Ia harus menangis untuk melupakan kalau dirinya pernah begitu mencintai cowok itu sampai merasa tergila-gila. Ia harus menangis untuk mencoret nama Findi dari daftar sahabatnya. Ia harus menangis untuk melegakan hatinya yang sesak.

Tika menangis dan terus menangis. Menghapus semua memori masa lalu indahnya yang hancur dalam semalam.

***

END

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s