World in Her Lens

image by : http://www.indiaeducation.net


“I fell in love with your eyes, with your smile, with your gestures, with the you whom love your camera as if it was your whole life, with the world you’ve seen through your lens, with your sadness and joy, with everything that makes you yourself. ”

Riuh tidak mampu diredam oleh lagu Sheila On 7 yang diputar lewat speaker kecil di ujung ruangan berukuran tiga meter kali tiga meter itu. Dinding yang dicat biru muda tertutup oleh berbagai potret dari event-event yang pernah mereka datangi. Di ujung ruangan, sebuah lemari hitam diletakkan merapat ke dinding. Berisi album dari foto-foto yang dirasa tidak cukup layak ditempel di dinding. Juga beberapa piala dengan nama pemenang yang berbeda-beda. Di sisi lemari, ada dispenser yang sedang menyala. Juga beberapa boks sereal dan kopi instan siap seduh yang jadi teman anggota klub fotografi menghabiskan waktu.

Di tengah ruangan, tiga orang duduk dikelilingi yang lain. Haru merebak. Dan satu-satunya hal yang ingin Daniel lakukan sekarang hanyalah keluar dari ruangan ini sehingga ia bisa menghirup udara segar sebanyak yang ia mau.

Dua jam yang lalu, kepala sekolah baru saja selesai memberikan ceramah panjang di depan lapangan. Upacara pertama dimulainya semester dua. Tidak akan sepanjang itu kalau saja kepala sekolah mereka, Pak Subandi, tidak menambahkan agenda tentang Ujian Nasional dalam pidatonya yang sudah sepanjang jembatan Tiajin.

Semester dua di Garnus berarti berhentinya kegiatan ekstrakulikuler bagi semua kelas dua belas. Baik itu OSIS maupun kegiatan klub lainnya. Dan dampaknya bisa dilihat sekarang, saat Daniel sedang memutar otak tentang bagaimana caranya ia bisa kabur dari adegan mengharukan melepasnya tiga seniornya di klub fotografi.

“Pengumuman Open Recruitment udah dipasang?” tanya Herman, ketua fotografi yang baru saja dilantik tahun baru kemarin. Adis menoleh ke arah cowok itu, mencoba menunjukkan lewat tatapan matanya kalau Herman baru saja merusak suasana haru yang terjalin di antara mereka.

“Udah tadi sama Yuli,” jawab Jerry, diiringi anggukan Yuli yang masih sesekali sesegukan.

Ekstrakulikuler fotografi bukan ekskul besar semacam Pramuka atau Pasbara yang tiap tahun saingan nyumbang piala. Di mata Daniel, ekskul fotografi adalah tempatnya menyalurkan hobi. Klub kecil mereka (Daniel lebih senang menyebutnya klub ketimbang ekskul) hanya beranggotakan dua puluh orang. Sepuluh orang kelas sepuluh termasuk dirinya, tujuh orang kelas sebelas dan tiga orang kelas dua belas yang sedang mengadakan upacara perpisahan kecil-kecilan sekarang.

“Gue titip semuanya sama lo ya, Man,” kata Farid, mantan ketua sebelumnya yang masih kelihatan terharu.

“Tenang aja A. Saya jagain, kok.”

Daniel memutar matanya. Sampai kapan pula drama ini akan terus berlanjut, pikirnya. Ia belum tidur sehabis main PS sampai pagi lawan Gending tadi malam. Ia lupa sarapan karena kesiangan (bersama Gending, tentunya) dan harus bertahan dengan upacara perpisahan menyebalkan ini selama dua jam. Cowok itu ingin izin ke kantin, tapi malas mendengarkan ceramah Adis yang bisa mengalahkan pidato kepala sekolah tadi pagi.

“Permisi,” sebuah suara menginterupsi, menarik atensi hampir semua orang di dalam ruangan. Tak terkecuali Daniel.

Di depan pintu yang memang dibiarkan terbuka agar tidak pengap, seorang gadis berdiri tegap. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, juga tidak masuk kategori sedang. Rambutnya hitam dikuncir kuda dan matanya besar sampai Daniel berani taruhan, cewek itu tidak bisa menutup mata secara total saat tidur. Di lehernya, menggantung kamera Sony keluaran lama yang Daniel lupa seri berapa. Kesan pertama untuk cewek itu: dia manis.

“Iya?” Herman, berperan sebagai ketua yang baik dan ramah, menimpali.

“Saya mau daftar jadi anggota, bisa?” tanya gadis itu tanpa basa-basi. Kesan kedua: dia straight-forward abis.

Mata Herman seketika berbinar. Senang dapat adik kelas manis. “Bisa banget! Udah ambil formulirnya di depan ruang OSIS?”

Cewek itu mengangguk. Beberapa helai poni belah sampingnya turun menutupi dahi sebelum ia kembali menyematkannya di belakang telinga. Cewek itu menyerahkan formulir yang sudah diisinya tanpa basa-basi ke arah Herman.

Kesan ketiga: dia kalem. Dan di hadapan cewek ini, entah kenapa, Daniel terpesona.

“Namanya siapa, Neng?” tanya Yuli, sok berperan sebagai kakak kelas yang perhatian. Daniel mendecih pelan, tapi cukup keras untuk mencapai telinga Yuli. Cewek itu mendelik.

“Koko,” jawab si pendaftar, masih dengan intonasi datar yang sama. Beberapa orang bertukar pandang, heran.

“Cewek, kan?” Ismail, anggota klub yang satu angkatan dengan Daniel, bertanya. Cowok itu kedengaran ragu. Entah pada pendengarannya atau pada nama panggilan cewek di depan pintu itu.

Koko mengangguk.

“Kok namanya Koko, sih?” komentar Yuli.

“Aslinya Aiko, Téh.”

Seluruh anggota, termasuk Damian, ber-oh ria sebelum Herman buka suara lagi. “Nanti isi absen di Teteh yang ini ya, Ko,” katanya, menunjuk Yuli.

Koko mengangguk lagi.

“Lo kelas berapa?” untuk pertama kalinya Damian angkat bicara.

Cewek bernama Koko itu menatap Daniel tepat di mata. Iris coklat muda Koko yang hangat bersinggungan dengan mata Daniel yang punya semburat hijau. Untuk sejenak, membuat cowok itu lupa berpijak.

“X MIA-2.”

***

Sejak datangnya Koko ke klub mereka, semester dua Daniel terasa tidak berjalan dengan membosankan. Cowok itu jadi lebih jarang bolos kumpulan ekskul dan lebih memilih ikut hunting foto ketimbang menemani Gending main PS di rumahnya. Seperti sekarang, saat ia dan delapan anggota yang lain sibuk kesana-kemari di jalan Asia-Afrika demi bisa mendapat foto bagus.

Rombongan mereka memutuskan berjalan kaki dari depan gedung Bank Mandiri sampai ke alun-alun dalam dua baris rapi. Di depan, Herman dan Adis sedang bertengkar. Sesekali rebutan kamera sambil membandingkan hasil foto siapa yang lebih baik. Di belakang mereka, Yuli, Ismail dan Jerry berjalan kalem sambil sesekali menggunakan kamera mereka. Di barisan ketiga, ada Daniel dan Wildan yang sibuk mengobrol tentang pertandingan bola antara Arsenal dan Real Madrid semalam, diikuti Koko yang asyik foto-foto sendirian.

“Pokoknya jangan sampai misah, ya. Abis ini kan kita mau jajan dulu di Pasbar. Sekalian nih cewek-cewek pada mau belanja,” kata Herman tanpa menoleh. Masih sibuk memelototi Adis.

“Yah pasti lama, deh, kalo pada belanja. Gue mau balik aja,” kata Jerry malas. Daniel mengangguk setuju.

“Jadi kalian tega ninggalin gue sama Yuli belanja berdua?” tanya Adis, matanya menyalak galak. “Eh, Koko mana?”

“Ini di bela—lho?” Daniel menoleh ke belakang tubuhnya, tempat dimana gadis itu seharusnya berada. Nihil. Gadis berperawakan kecil dan tidak banyak bicara itu tidak disana.

“Aduh, baru juga gue bilangin,” keluh Herman.

“Lo pada duluan aja, deh. Gue aja yang nyariin dia,” kata Daniel spontan.

Sebelah alis Wildan terangkat. “Maneh?” tanyanya, tak percaya. Daniel mengangguk.

“Yaudah, deh. Ketemuan di alun-alun aja ya, Dan,” potong Ismail cepat.

Daniel mengangguk lagi sebelum melangkah cepat menyusuri jalan. Dalam hati cowok itu bersyukur tidak perlu ikut menemani kakak-kakak kelasnya belanja. Ia akan menyusun alasan untuk kabur nanti, setelah menemukan Koko. Di sisi lain, cowok itu bertanya-tanya kapan si anggota baru menghilang? Padahal tadi saat ia tak sengaja (ia benar-benar tak sengaja, kok!) melirik ke belakang, cewek itu masih mengikuti rombongan mereka.

“Itu cewek kok kayak jurig. Perasaan tadi masih ada di belakang, deh,” keluh Daniel. Cowok itu melirik jam tangannya. Sudah pukul tiga sore. Matahari masih cukup tinggi dan Daniel malah harus panas-panasan mencari orang hilang. Bagaimana kalau Koko ternyata diculik sindikat penjualan organ dalam? Atau bagaimana kalau gadis itu tertabrak sesuatu, atau tersesat di tengah kota dan tidak punya uang untuk pulang? Daniel mulai memikirkan skenario mengerikan yang parahnya malah membuat dirinya makin khawatir.

Seingatnya, cewek itu memakai ripped jumpsuit biru tua, kaos polos putih setengah lengan dan topi biru tua. Terima kasih pada otaknya yang cerdas, ia bisa mengingat penampilan Koko dengan sangat baik. Tinggal bagaimana caranya menemukan—

“Lo ngapain?” sebuah suara datar menghentikan langkah Daniel. Koko, berdiri dua meter di depannya, dengan tatapan datar yang sama dan kamera menggantung di leher. Cewek itu menatap lurus ke mata Daniel. Kebiasaan yang tidak Daniel sukai karena Koko seolah-olah sedang menelanjanginya. Tidak dalam arti sebenarnya, well.

“Lo kemana aja, sih!? Gak tau apa kita pada bingung gara-gara lo ilang!?” nada suara Daniel meninggi. Memperlihatkan kejengkelan pemiliknya secara terang-terangan. Tidak peduli kalau mereka sudah jadi tontonan orang-orang di kendaraan yang lalu-lalang.

Salah satu alis Koko meninggi, sebelum kemudian kembali pada ekspresi datarnya yang biasa. “Gue abis kesana,” Koko menunjuk jalan kecil di belakangnya.

“Beli telor gulung,” lanjutnya lagi, mengacungkan plastik kecil berisi tiga stik telur gulung yang ia beli tadi.

Daniel membuang nafasnya kasar. Jengkel karena ia sudah khawatir begitu rupa demi gadis tidak peka ini. “Ngomong dulu, kek. Biar gue nggak panik.”

“Gue gak minta lo panik juga, kok,” sahut Koko cuek. “Dan gue juga bukannya nggak bisa balik sendiri kalau ditinggalin.”

Rahang Daniel jatuh, kehilangan kata-kata. Detik berikutnya, cowok itu terus memaki diri sendiri dalam hati karena sudah benar-benar khawatir untuk cewek di depannya.

“Ayo susul yang lain,” ajaknya, menarik tangan Koko.

Koko menepis tangan Daniel. “Bisa jalan sendiri,” katanya sebelum melengos mendahului Daniel.

Gue juga gak mau pegang-pegang elu, cewek ngeselin, batin Daniel. Kalau Daniel hidup di dunia anime yang sering Arya tonton, sudah ada background petir dan awan gelap di belakang tubuhnya.

***

“Eh, Dan. Itu foto jepretan lu ya yang dipajang di mading?” Gending, dengan satu cup jus mangga dan seplastik batagor kering menarik kursi di samping Daniel yang kebetulan kosong.

“Bukan,” jawab Daniel cuek. Asyik berkutat dengan soal-soal Fisika yang sebenarnya pekerjaan rumah untuk minggu depan.

“Emang foto apaan, Ding?” tanya Arya, tidak sama sekali mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“Foto—eh buju buset, Ya. Lu kira-kira napa. Buka ecchi tengari bolong begini,” komentar Gending, ditambah suntrungan pelan di kepala Arya.

“Foto apaan, anjing. Jawab dulu kenapa?” kata Daniel, tidak sabar. Ia menutup buku Fisikanya, menyisakan tiga soal yang berniat ia kerjakan sesampainya di rumah nanti. “Btw, Damian mana?”

“Lu liat sendiri aja, dah. Gua susah ngegambarinnya. Tapi bagus, makanya gua pikir itu jepretan lu,” jawab Gending, menyedot jusnya. “Damian lagi ke ruangan Bu Tami. Biasalah, dia kena masalah lagi sama Matematika.”

“Ah itu bocah,” Arya mem-pause anime yang ditontonnya. Memutuskan ikut nimbrung. “Kena mulu sama si ninja.”

“Lagian Damian juga belegug. Dia ngitung duit aja jago. Ngitung kurva gak bisa,” timpal Daniel.

“Iye, dah. Gua tau lu udah master di matematika,” cibir Gending. Daniel mengangkat bahu sebelum bangkit dari kursinya.

Rek kamana maneh?” tanya Arya.

“Ke mading dulu. Penasaran gue,” jawab Daniel.

Kaki-kaki Daniel melangkah lebar keluar, menuju mading yang terletak tak jauh dari kelasnya. Beberapa siswi perempuan menyapanya ramah dengan wajah malu-malu yang ditanggapi Daniel seramah ia bisa. Beberapa cowok menegurnya, mengajaknya bicara soal futsal kelas mereka yang direncanakan jadi lawan sparring kelas sebelas sebelum Daniel pamit duluan. Ada perlu, katanya. Padahal ia hanya penasaran pada mading sekolah.

Beberapa siswa tampak melihat mading, bicara sesuatu sebelum pergi saat Daniel sampai disana. Orang-orang yang masih betah memandangi papan sterofoam itu memilih membuka jalan untuknya, segan entah kenapa.

Disana, di bawah cerpen yang minggu lalu dibuat oleh seorang cewek bernama Dwi, terpampang foto hitam putih seorang laki-laki tua tanpa kaki yang sedang duduk di trotoar jalan. Mungkin dekat pasar baru, Daniel tidak bisa memastikan. Wajah pria itu begitu kuyu dan bahunya kelihatan sangat lemah seolah beban hidupnya jauh lebih berat dibanding bobot tubuhnya. Kopiah kumalnya terpasang rapi di kepala, jadi satu-satunya benda yang bersih yang menempel di tubuhnya yang ringkih. Di depannya, ada rak agar-agar kecil yang Daniel tebak jadi sumber penghasilan kakek itu sehari-hari. Ada dua rak yang dibawa si kakek. Satunya berisi agar-agar dan agak buram. Satunya berisi buku-buku yang entah untuk apa si kakek bawa.

Saat melihat foto itu, hati Daniel tergerak. Cowok itu miris melihat keadaan si objek foto, sekaligus memuji si fotografer karena berhasil memotret foto itu dengan sepenuh hati. Atau setidaknya, begitulah yang Daniel rasakan. Di bawah foto itu, seperti selazimnya foto yang dipajang di media, ada sebuah caption. Ditulis dengan tulisan tangan yang cukup rapi.

Udin (72), penjual agar-agar di daerah Pasar Baru yang menolak menghabiskan waktu tuanya dengan meminta-minta ini berniat menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca bagi semua orang. Dengan gerobak kecil tuanya, Kakek Udin membawa buku-buku yang dia punya untuk dibaca pembeli agar-agar jualannya secara gratis.

Caption yang tidak sempurna, memang. Tapi foto yang dihasilkan orang itu sarat akan makna.

“Ini siapa yang jepret?” tanya Daniel pada cewek di sebelahnya.

Si cewek megap-megap. Bingung harus menjawab apa saat ditanya cowok ganteng sekelas Daniel. “A-anu… i-ini di bawah foto ad-ada inisialnya,” cewek itu menunjuk sudut foto. Delfiya, ditulis dengan tinta hitam yang nyaris tidak terlihat.

Delfiya? Siapa Delfiya?

***

Bel pulang sekolah hari Jumat itu jadi penanda tak resmi bahwa ujian kenaikan kelas sudah berakhir. Beberapa siswa di ruangan ujian Daniel masih sibuk berkutat dengan kertas jawaban mereka. Sibuk memberi tanda apa saja pada pilihan jawaban mereka yang masih kosong sementara pengawas sudah berkeliling menarik satu persatu lembar jawaban. Daniel sudah menyelesaikan ujiannya sejak—setidaknya, lima belas menit yang lalu. Dan selama lima belas menit itu, yang ada di pikiran Daniel hanyalah bagaimana caranya ia menemukan orang berinisial Delfiya itu secepat mungkin.

“Kamu sudah selesai, Daniel?” tanya Pak Sidi, guru Kimia yang mengajar di kelas Daniel. Daniel mengangguk.

“Kalau begitu silahkan keluar,” ujar pria tua itu sopan. Daniel menurut. Ia mengambil alat tulisnya yang sangat seadanya, menyampirkan tas sebelum berjalan keluar dari ruangan.

“Daniel!” sebuah suara cempreng memaksa Daniel menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal.

Adis berlari kecil ke arah adik kelasnya sambil nyengir lebar. “Kumpul dulu bentar di ruang klub, ya? Kita mau ngomongin program makrab, nih.”

“Makrab?” Daniel mengangkat satu alisnya.

“Iya, makrab,” kata Adis cepat sambil menganggukkan kepala. “Kan minggu lalu si Herman udah ngebahas. Lo gak dengerin ya?”

“Oh iya, lupa. Yaudah, deh. Gue ke kantin dulu beli minum.”

“Oke, jangan sampe telat, ya!”

Makrab atau malam keakraban adalah acara rutinan klub yang diadakan setahun sekali. Tidak hanya fotografi, ada beberapa klub yang juga melaksanakan kegiatan ini. Klub jurnalistik, ekskul basket, futsal, taekwondo dan musik contohnya. Khusus fotografi, kegiatan ini biasa dilakukan di setiap libur semester genap. Kata Herman, selain karena senior sebentar lagi naik ke kelas dua belas, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mencari kandidat ketua klub yang baru.

Daniel menyedot es kopi yang dibelinya di kantin tadi sambil mendengarkan penuturan Herman. Beberapa anggota lain memutuskan mencatat sementara Daniel sendiri memilih mengandalkan kemampuan memorinya.

“Jadi kita kumpul tangga 25 di depan gerbang sekolah. Pake baju bebas, bikini juga boleh,” cewek-cewek menyoraki Herman, hanya Koko yang diam saja. “Berhubung semua cowok disini punya kendaraan, gue bagi-bagi aja ya siapa sama siapa.”

Semua kepala mengangguk, setuju. Tidak mau repot juga kalau nanti ada yang tidak terangkut. Mendapat persetujuan begitu, Herman bergegas menyebutkan nama demi nama.

“Adis sama gue.”

“Lho? Kok gue sama lo sih? Nggak ada yang lain, apa?” Adis protes. Dia dan Herman, kan, sudah seperti kucing dan anjing. Sekarang Herman malah mau bareng Adis. Meski harus ia akui, jarak dari sekolah mereka ke villa di daerah Cilengkrang tidak terlalu jauh juga.

“Si Herman punya agenda terselubung euy. Geus kanyahoan ku urang mah,” timpal Jerry diikuti siulan menggoda.

Wajah Adis memerah, malu. “Yaudah, deh.”

Alah maneh mah, Dis, malu-malu anjing,” ledek Wildan.

“Heh! Wildan ngomongnya kasar,” omel Yuli. Cewek ini memang paling anti kalimat-kalimat kasar.

“Wildan,” Koko, yang sedari tadi diam, angkat bicara. “Kalo ngomong mulutnya suka kayak sampah.”

Seketika, ruangan menjadi hening. Daniel sendiri harus mengakui kalau ia agak kaget. Pertama, Koko tidak biasanya bicara dalam forum saat mereka sedang kumpul begini. Kedua, ia tidak mengira cewek itu akan mendengarkan obrolan tidak penting mereka. Ketiga, mulutnya itu, lebih dingin dari kulkas, rupanya!

“Buset, Koko. Kalo ngomong suka right to my kokoro,” timpal Wildan, bersikap lebay dengan memegang jantungnya dan pura-pura tertusuk sesuatu.

“Ah alay lu,” maki Daniel, menyuntrung pelan kepala Wildan yang kebetulan duduk di sebelahnya.

“Gak di kelas, gak di sini, si Koko sekalinya ngomong tetep aja nyelekit,” kekeh Tirta, anggota baru yang kebetulan sekelas dengan gadis bermulut tajam itu. Koko mengangkat bahunya, tidak peduli. Cewek itu kembali mengutak-atik kameranya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Daniel sama Koko.”

Mendengar pengumuman Herman (yang rupanya masih belum selesai) itu, Daniel otomatis langsung menoleh. Matanya melotot, tidak terima. Ia harus menghabiskan waktu setengah jam membonceng cewek aneh itu selama berangkat. Juga, harus mengambil resiko mengantar Koko sampai rumah setelah acara selesai? Ogah.

“Lo kenapa, Dan? Jarang-jarang gue kasih cewek manis begitu sama lo,” tanya Herman.

Daniel mendengus. “Gak apa-apa,” jawabnya. Memutuskan untuk menelan protesnya bulat-bulat. Daripada dikira ada apa-apa sama tuh orang, mending diem deh, batin Daniel.

“Gue sama Ismail aja,” kata Koko, lagi-lagi mengejutkan semua orang termasuk Daniel.

“Lah, kenapa?” tanya Herman heran.

“Lebih enak sama dia naik motornya.”

“Wah, Daniel ditolak,” ledek Fadhli.

“Atit nda kokoronya Mas Dan?” tanya Wildan, meraba dada Daniel yang langsung ditepis cowok itu.

“Daniel kalah sama Ismail, Bung,” timpal Jerry, mengusap dagunya meniru ekspresi detektif saat berhasil memecahkan kasus.

Ismail, yang namanya disebut, jelas kaget. Kapan pula dirinya membonceng Koko sampai cewek itu bisa bilang begitu? Ah, tapi mana mungkin rezeki membonceng cewek manis tapi misterius itu ia lewatkan begitu saja, kan?

“Koko sama urang aja, Kang,” tambah Ismail. Sok pengertian, padahal hanya ingin mengambil kesempatan.

Herman mengangkat bahu. “Yaudah. Daniel sama Yeni aja.”

Daniel benar-benar mau protes sekarang. Seluruh siswa di Garnus tahu kalau Yeni sudah lama menyukai Daniel. Mungkin tidak akan jadi masalah kalau saja gadis itu bersikap seperti kebanyakan penggemar rahasianya, tidak merepotkan dan memilih menyukai Daniel dalam diam. Masalahnya, Yeni tidak sekalem itu.

“Yey! Aku sama kamu, Dan!” yang dibicarakan nyaris memekik saking senangnya.

“Ha ha,” sudut bibir Daniel tertarik ke atas. Entah tertawa atau meringis, tak ada bedanya.

Mata Daniel melirik Koko tajam, menyiratkan ketidak sukaan. Ia tidak suka, gara-gara cewek itu dirinya harus terjebak bersama Yeni selama perjalanan. Dan di atas itu semua, Daniel tidak suka pada Koko yang terang-terangan menolaknya. Menolak Daniel! Ia jelas tidak terima!

***

Kalau bukan karena Adis mengancam akan menyebarkan foto menggelikan Daniel yang cewek itu ambil saat Daniel ketiduran di ruang klub berbulan-bulan lalu, Daniel tidak akan mau ikut kegiatan makrab. Tidak setelah Herman memutuskan kalau ia harus berbagi jok motor dengan Yeni. Tidak setelah si anggota baru yang mirip patung itu menolaknya terang-terangan di depan semua anggota klub.

“Ini tinggal nungguin si Yeni sama si Koko aja, ya,” kata Adis, mengecek jumlah anggota yang sudah sampai di lokasi janjian mereka.

“Tinggalin aja udah,” ketus Daniel. Wajahnya sudah ditekuk-tekuk, malas membayangkan perjalanannya nanti.

“Lo jangan jahat gitu kenapa, Dan,” tegur Yuli. “Segitu gak maunya bonceng si Yeni.”

“Yaelah, Téh, ntar kalo gue gangguan pernafasan gara-gara saluran hidung gue tersumbat sama bedaknya, Teteh mau tanggung jawab?” kata Daniel hiperbolis.

“Alah lebay lu,” timpal Herman, memukul pelan kepala Danie dengan buku catatan tipis miliknya. “Eh, itu si Koko.”

Aiko hari itu memakai sebuah overall warna hitam, berpadu dengan kaos pendek abu-abu dan sepatu converse warna hitam. Rambutnya yang biasa diikat kuda kini dicepol asal di belakang kepala, menyisakan anak-anak rambutnya mengikal di sisi telinga. Cewek itu memakai kacamata bulat tanpa minus. Kata mamanya, biar matanya tidak kemasukan sesuatu saat naik motor nanti.

“Gue kok baru sadar si Koko manis banget, ya,” celetuk Wildan saat yang dibicarakan masih berjalan santai seratus meter di depan rombongan.

“Tapi judes,” kata Herman.

“Terus lempeng banget anaknya. Datar mulu ekspresinya,” kali ini Jerry yang bicara.

“Gue pernah kok, liat dia ketawa-ketawa,” kata Ismail. Ketiga orang lainnya langsung menoleh ke arah cowok itu.

“Ah masa?”

“Iya, beneran. Lucu banget kalo dia lagi ketawa,” Ismail mengangkat kedua jarinya, membentuk tanda swear. “Tanya nih si Tirta.”

Tirta, yang merasa namanya disebut, menoleh. “Iya bener,” jawabnya singkat.

“Lu kok bisa tau?” Herman bertanya pada Ismail.

“Waktu gue abis benerin kamera si Tirta, gue kan ke kelas dia, A. Nah kebetulan si Koko lagi kumpul sama temen-temennya, ketawa-tawa gitu.”

Adis berdecak. Gerah juga mendengar cowok-cowok rumpi di sebelahnya. “Kalian pada gak penting banget deh, ngomonginnya.”

“Iya, rumpi banget lo pada,” kata Daniel sinis.

“Alah bilang aja lu sirik. Abis ditolak Koko kemaren,” ledek Herman, disusul tawa tiga orang lainnya.

“Udah pada lengkap?” baru saja Daniel akan menyuarakan keberatan, Koko menginterupsinya.

“Tinggal nunggu si Yeni nih, Ko,” kata Adis, tersenyum ramah. “Lo bawa kamera?” ia melirik kamera yang menggantung di leher Koko.

Koko mengangguk. “Boleh, kan? Gue sekalian mau cari-cari foto bagus disana, nanti.”

“Boleh, kok. Asal jangan sendirian ya biar gak nyasar,” kata Adis.

“Gue bilang juga tinggalin aja tuh nenek lampir,” Daniel mendengus kesal. Malas membuang waktu berharganya demi menunggu seorang saja.

“Yaudah lu jemput sana ke rumahnya. Biar gak lama,” kata Jerry.

“Gak usah. Tuh orangnya udah datang,” Yuli mengedikkan dagunya, menunjuk gadis yang berlari kecil menghampiri mereka.

“Aduh, aduh. Maafin aku ya. Telat ya?” Yeni nyerocos panjang dengan nafasnya yang tinggal satu-satu. Daniel memaki dalam hati. Baru lari segitu aja udah kayak orang asma.

“Berangkat sekarang aja, yuk. Udah mulai panas, nih,” kata Daniel. Cowok itu buru-buru berjalan ke arah motornya, diikuti Yeni yang masih kelihatan lelah. Moodnya jadi buruk, sekarang. Dan semuanya bermula dari cewek patung itu, si Koko!

***

Villa yang mereka tempati adalah bangunan berlantai satu yang cukup luas dengan dinding kayu gelondongan berwarna coklat tua dan atap genting. Ada lima kamar tidur dengan kasur empuk dan selimut hangat, dua kamar mandi, satu ruang tengah dengan TV dan satu dapur. Halaman villa yang ditumbuhi berbagai tanaman hias juga cukup luas untuk menampung motor mereka dan jadi lokasi api unggun di malam harinya.

Jam di tangan Daniel sudah menunjuk angka sembilan saat semua anggota memutuskan untuk masuk ke dalam villa dan menonton TV. Menyudahi kegiatan api unggun mereka setelah memaksa Herman dan Adis duet diiringi permainan gitar Ismail. Daniel sendiri, jadi korban dengan harus bernyanyi solo dan main gitar. Alhasil, cowok itu membawakan lagu Desember dari Efek Rumah Kaca. Seluruh anggota klub malam itu setuju kalau Daniel tidak boleh dibiarkan menyanyi lagi, dan bahwa tidak ada manusia flawless yang bisa jadi juara tiga sekolah, menguasai karate, jago memotret, pintar debat dan bisa menyanyi sekaligus.

“Bosen, ah. Sinetron mulu,” keluh Adis, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. “Main Truth or Dare, yuk!”

“Ah mainan itu. Udah punya feeling deh gue, bakal ada yang ngusul main itu,” keluh Ismail.

“Perasaan tahun kemarin usulan lo juga itu deh, Dis,” kata Herman, melirik Adis dengan tatapan malas.

“Iya tapi ditolak usulannya sama A Farid,” bibir Adis mengerucut sebal. “Ayo, dong. Kan biar akrab.”

Daniel membuang nafas malas. Ia paling anti main jujur-jujuran atau berani-beranian begini. Cowok itu percaya kalau some things are better left unsaid, dan ia juga tidak mau melakukan hal konyol seperti memakan mie tanpa alat makan dan sebagainya. Kekanakan dan tidak berguna, pikir Daniel.

“Yang setuju main Truth or Dare angkat tangan. Kalau suaranya setengah lebih satu, kita main!” Adis berseru dengan semangat empat lima.

Dari delapan belas orang yang ikut serta, sekitar dua belas orang mengangkat tangan. Yuli, Adis, Jerry, Wildan, Retno, Ismail, Luthfi, Thea, Yeni, Lia, Gumilang dan Rizka adalah orang-orang yang setuju. Sementara Herman, Yoga, Koko, Daniel, Tirta dan Fadhli adalah orang yang diam saja.

“Sip, dua belas berarti jalan, ya!” kata Adis gembira. “Ayo, ayo, bikin lingkaran!”

Mau tidak mau, seluruh anggota bergerak membuat lingkaran yang cukup besar. Herman, Jerry, Daniel dan Tirta mengangkat sofa, memindahkan benda itu merapat ke dinding untuk memperluas ruang kosong tempat mereka bermain. Entah takdir atau bukan, satu-satunya tempat kosong yang tersisa bagi Daniel adalah di sisi Koko. Cowok itu duduk, memutuskan bersikap cool dan dewasa dengan menyudahi acara sebal-sebalannya.

Alat penentu yang digunakan Adis adalah sebuah botol kaca kecil bekas minuman vitamin yang tadi dibeli Yuli. Cewek itu meletakkan botol di tengah ruangan, memutarnya, lalu dengan sabar menunggu sampai benda itu menunjuk seseorang.

“Herman!” pekiknya saat mulut botol mengarah pada tempat Herman duduk. Herman mendesah kecewa.

Truth or dare?” tanya Adis, yang entah kenapa berperan sebagai admin dalam permainan ini alias orang yang tidak akan kena pertanyaan alias si pemutar botol.

Truth.”

“Ah payah lu, man,” ejek Jerry.

“Bacot lu,” Herman membalas. Kelihatan tidak cukup senang jadi target ToD.

Adis memutar botol lagi, berupaya mencari siapapun yang akan menanyai Herman. Botol berhenti dengan mulut mengarah pada Ismail.

“Gue?” cowok itu menunjuk dirinya sendiri.

Adis mengangguk semangat.

Dahi Ismail berkerut-kerut saat cowok itu berpikir keras tentang apa yang akan ditanyakannya pada Herman. “Dua bulan lalu, katanya A Herman dipanggil ke ruang guru abis razia. Itu ngapain?”

Mata Herman melotot. Tidak percaya Ismail akan menanyakan hal itu padanya. “Ah kampret lu, Mail,” ujarnya. Yang dimaki malah cengar-cengir tidak jelas.

“Jawab jujur, Man. Lu kan laki,” kata Yoga, nyengir kuda.

“Gue dipanggil gara-gara…” Herman menelan ludah, “ketauan melihara bokep di HP.”

“WAH HERMAN PARAH,” teriak Daniel heboh.

“Anjir geli gue sama lo,” Adis ikut-ikutan. Sok-sok bergidik ngeri.

“Parah lo, Man. Ngeres ternyata otak lo,” komentar Jerry.

“Heh. Laki wajar kali melihara gituan di HP. Lu kayak gak pernah aja, Jer,” Herman mendengus tak terima. “Gue tau lu sering ke warnet downloadin video Miyabi.”

“Heh enak aja. Lu kali tuh, penerus Kakek Sugheo!” Jerry memekikkan protes.

Tawa meledak seketika, mentertawakan aib-aib yang terbuka dan wajah lucu Jerry saat rahasianya dibeberkan. Tak terkecuali Koko. Cewek itu sudah tertawa kencang sambil memegangi perutnya, tidak mengira kalau anggota klub yang ia masuki bisa segila ini kadang-kadang.

“Yaila Daniel,” suara Retno yang duduk tepat di sebelah Daniel menginterupsi kegiatan cowok itu memandangi Koko.

“Biasa aja kali liatin si Kokonya. Mupeng banget muka lo,” lanjut Retno lagi.

“Apaan sih Teh,” elak Daniel.

“Sok-sokan malu-malu anjing lo, Cumi.”

Daniel tidak menjawab karena Adis sudah kembali memutar botol. Ia punya firasat buruk saat melihat putaran botol itu memelan. Dan sesuai dugaannya, mulut botol kaca itu tepat mengarah padanya.

“Wah Daniel kebagian, wah,” ledek Tirta, nyengir lebar ke arah Daniel.

“Ah sialan banget tuh botol,” maki Daniel pelan. “Gue dare aja, dare.”

“Widih, beranian nih Mas Dan,” giliran Wildan yang meledeknya.

“Emangnya Daniel cemen kayak yang tadi,” Adis ikut-ikutan, meski ledekan cewek itu lebih ditujukan untuk Herman yang sudah sok-sokan tidak dengar. Botol berputar lagi. Kali ini giliran Jerry.

“Jer, kasih yang susah Jer!” Herman mengompori.

“Suruh striptis aja,” usul Yoga.

“Heh, sembarangan. Mata gue masih suci dan gue gak niat menghapus kesuciannya dalam waktu dekat, ya,” kata Retno.

“Suruh goyang aja, A,” kali ini Lia yang usul. Daniel melotot.

“Jer, lu ngasih gue yang aneh-aneh awas aja,” ancam Daniel sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Jerry.

Menghabiskan beberapa detik berpikir, Jerry akhirnya angkat bicara. “Gue mau Daniel nembak cewek yang dia anggap paling cantik disini.”

“Whooooooo,” hampir seluruh anggota menyoraki dare yang dibuat Jerry.

“Aduh gue males deh kalo udah asmara-asmaraan begini,” keluh Rizka.

“Basi banget,” komentar Koko. Sedikit takut juga kalau ia nanti diberi tantangan semacam itu.

“Ah bodo amat kan suka-suka gue,” kata Jerry, acuh. “Ayo buruan, Dan. Masa’ kita harus nunggu sampe besok cuman buat lu doang.”

“Yang ditembak jangan baper ya,” kata Herman. “Gue tau si Daniel banyak fansnya. Tapi tolong gausah alay,” matanya melirik Yeni yang sudah mupeng.

Daniel meneguk ludahnya sendiri. Matanya menyusuri satu persatu wajah anggota perempuan. Berpikir mana di antara mereka yang akan jadi objek nembaknya. Daniel mana pernah berpikir kalau cewek ini lebih manis dari cewek ini dan tetek bengeknya. Dan kenapa pula menentukan siapa yang paling manis lebih sulit ketimbang menyelesaikan soal trigonometri Bu Tami!?

“Ganti aja deh, darenya,” keluh Daniel. “Lu gitu sama gue, Jer. Jahat amat.”

“Daripada gue suruh lu goyang itik disini, mau?”

Daniel mendecih. Tepat saat itu, satu buah nama muncul di kepalanya. Dia pasti sudah gila kalau memutuskan nembak cewek itu. Tapi bagaimana lagi? Hanya nama itu yang terlintas dipikirannya, dan seperti kata Jerry tadi, ia tak bisa membuang waktu.

Inget, Dan. Ini mainan doang, batinnya.

“Ko,” Daniel memutar posisi duduknya, menghadap Koko, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya lembut. Senyuman lembut terbit di wajahnya, bersiap melelehkan siapapun yang ada di hadapannya kali ini, termasuk Koko.

Mari kita liat lo bisa nolak gue nggak, kali ini.

I fell in love with your laughs, with your eyes, with your rude-mouth, with your gestures, with everything that makes you as you are right now. And I don’t mind repeat it again and again, everyday, in the rest of my life. So would you mind, falling for me so I’m not falling alone?

Jeritan dan sorakan membahana saat Daniel selesai mengucapkan kalimat manis yang bisa membuat gadis manapun diabetes itu. Ditambah tatapan teduh yang jarang sekali mampir di kedua mata cowok itu, menambah kesan romantis yang sesaat melingkupi dirinya dan Koko.

Adis bergumam panjang. Retno, Yuli dan Thea sudah sibuk menyoraki keduanya bersama anggota lain kecuali Yeni, yang gigit jari ingin bertukar tempat dengan Koko saat itu juga. Hampir semua anggota bersorak, dan semua gadis merasa hampir lumer. Tapi Koko tidak. Mata cewek itu hanya melebar sebentar sebelum kembali pada ekspresi datarnya yang biasa. Seolah kata-kata manis Daniel tidak berefek apa-apa pada dirinya. Dan entah kedua orang itu sadari atau tidak, kedua mata mereka masih saling menatap.

“Jadi cewek yang menurut Daniel paling cantik disini itu, Koko,” kata Fadhli, menggoda.

“Alah padahal tadi siang kesel banget gara-gara ditolak,” kali ini giliran Herman meledek.

“Jawab dong, Ko!” Adis berseru.

“Jawab! Jawab! Jawab!”

Koko menarik nafas panjang, menutup matanya guna mengakhiri kontak mata dengan Daniel yang mendadak jadi gugup. Ini kan becandaan doang, Dan, batin Daniel, berupaya mengingatkan dirinya sendiri.

Di sisi lain, Koko benci main-main begini. Apalagi kalau dirinya jadi korban. Cewek itu membuang nafasnya kasar sebelum berkata: “Then, don’t fall for me.”

“ANJIR DANIEL DITOLAK LAGI SAUDARA-SAUDARA,” Herman nyaris berteriak saking hebohnya.

Tawa meledak kembali, menertawakan Daniel yang masih cengo sehabis ditolak Koko. Oke, cowok itu kaget. Dia tidak berharap Koko akan menerimanya, karena bagaimanapun, ia percaya cewek itu cukup pintar untuk menganggap kalau semua pengakuan Daniel hanya rekayasa belaka. Tapi masa’ dia sampai tidak blushing atau salah tingkah sama sekali. Ini Daniel! Daniel Putra Kusumaatmadja yang baru saja nembak dia!

“Yah, sorry not sorry nih, Dan,” Adis menepuk bahu Daniel, berusaha menahan tawa. “Pesona lo kayaknya gak mempan deh sama si Koko.”

“Yah, turun pamor deh pangeran kita,” ledek Retno di sela-sela tawanya.

Daniel mendengus, berusaha bersikap seolah ia tidak terganggu meski pada faktanya dia benar-benar malu. Dua kali! Dua kali cewek berwajah datar itu berhasil mempermalukan Daniel di depan anggota klub mereka.

Saat itu, Daniel bersumpah akan meletakkan nama Koko di daftar hitamnya.

***

Foto itu ada lagi. Kali ini menampilkan seorang anak kecil yang membantu nenek-nenek menyebrang jalan, entah dimana. Mungkin di daerah Soekarno-Hatta, karena jalanannya cukup lebar dan mobil yang berlalu lalang cukup banyak. Foto diambil lanskap, masih dengan efek hitam putih. Daniel menebak, siapapun Delfiya ini, ia pasti sering menghabiskan waktu berjalan sendiri sambil menenteng kamera.

Tak bisa dipungkiri, Daniel merasa penasaran pada sosok bernama Delfiya ini. Setelah secara sengaja bertanya pada ketua setiap angkatan, hampir semua orang yang ia tanyai mengaku tidak pernah bertemu sosok bernama Delfiya di sekolah mereka. Ia ingin tahu, sosok macam apa yang sudah merekam sudut-sudut kehidupan seperti ini di Bandung dalam selembar foto.

“Si Delfiya ini, gue penasaran deh siapa,” kata Daniel suatu siang saat ia, Gending, Arya dan Damian menghabiskan waktu istirahat di warung Teh Yuli.

“Lo udah tanya sama ketua angkatan?” Damian bertanya sambil menggulung mie rebus miliknya.

“Udah,” jawab Daniel lesu. “Tapi gak ada yang tau.”

“Udah nanya anak mading?” tanya Arya, masih setia menatap layar ponselnya sambil makan mie rebus.

“Udah juga. Mereka bilang itu kan spot bebas. Jadi siapa aja bisa nempel, jadi mereka gak tau.”

“Dih,” Gending mendecih. “Buat apa ada klub mading kalo itu ada yang nempel gak ketauan. Ntar kalo ditempel gambar Miyabi lagi ena-ena, gimana?”

“Heh, lu,” Damian menggetok kepala Gending dengan sendok. “Sembarangan aja kalo ngomong. Gak disaring dulu.”

“Yakali, Dam, gue harus bawa-bawa saringan depan mulut kaya gini,” Gending mempraktekkan ucapannya seolah-olah ia sedang menggenggam sesuatu di depan mulut.

“Bacot, ah. Lu pada gak ngebantu gue sama sekali,” dengus Daniel.

“Lagian emang mau lo apain kalo udah ketemu?” tanya Damian, mengangkat sebelah alisnya.

“Gak diapa-apain.”

Gending mendengus. “Terus buat apa lu capek-capek nyariin itu orang?”

“Ya pengen tau aja,” jawab Daniel sambil mengangkat bahu. “Fotonya dia tuh, somehow, bikin gue ngerasa tergerak gitu, Ding. Nggak cuman lembaran foto doang, tapi punya makna.”

“Kenapa nggak lo dateng lebih pagi tiap Selasa? Lo bilang dia udah dua kali nempel foto pas hari Selasa, kan?” usul Arya.

Saran sobatnya itu bisa diterima juga, pikir Daniel. Sosok bernama Delfiya ini pasti akan menempelnya lima hari dari sekarang, tepat Selasa pagi. Jadi kalau dirinya benar-benar penasaran, kenapa Daniel tidak coba menghadangnya sebelum foto ditempel saja?

***

Selasa pagi. Bandung masih berkabut saat Daniel keluar dari pintu rumahnya di kawasan Kiara Condong. Setelah memanaskan motornya, cowok yang sudah berstatus sebagai siswa Garnus kelas sebelas itu berangkat ke sekolah. Empat puluh lima menit lebih awal dibanding jam berangkatnya yang biasa. Ia sampai harus meyakinkan adiknya, Tere, berkali-kali kalau Daniel tidak sedang setengah sadar saat sarapan. Ia juga harus merelakan nasi goreng kunyit Mamanya yang belum masak dan sarapan hanya dengan roti isi keju.

Kegilaan pagi ini disponsori oleh rasa penasaran Daniel pada orang bernama Delfiya. Pokoknya hari ini, Daniel harus tahu siapa orang itu. Harus!

Pintu gerbang sudah terbuka saat Daniel sampai di sekolah. Sekitar jam enam lewat lima. Masih terlalu pagi untuk siapapun kecuali satpam dan petugas kebersihan berlalu-lalang di sekolah.

A Daniel geuning tos angkat ka sakola jam sakieu,” kata Pak Deden, satpam Garnus. “Biasana langganan telat wae, A.”

“He he. Kesambet setan rajin, Pak,” timpal Daniel sekenanya. “Ti payun, Pak!”

’Nya, A. Mangga.”

Selesai memarkir motor, Daniel berjalan cepat menuju lorong lantai dua, tempat dimana mading tempat Delfiya menempel foto berada. Jantungnya tidak bisa berhenti berdebar-debar, tak sabar ingin mengetahui sosok dibalik nama Delfiya yang sebenarnya. Daniel menaiki tangga dua-dua, ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuan.

Lorong masih sepi saat ia sampai di sekolah. Mading juga masih memasang foto yang sama dengan yang minggu lalu Daniel lihat. Cowok itu sampai pada kesimpulan bahwa Delfiya mungkin belum sampai. Lagipula, masih pukul enam lewat tujuh. Terlalu pagi untuk siapapun berkeliaran di sekolah.

“Kalo dia ternyata libur nempel hari ini, gimana?” Daniel bergumam sendiri.

Cowok itu buru-buru menggeleng. Ia harus menunggu, pikirnya. Untuk itu Daniel memutuskan duduk di kursi besi yang diletakkan di depan kelas X MIA-5. Kalaupun Delfiya tidak menempel foto hari ini, Daniel sudah memutuskan ia akan menunggu setiap hari sampai ia tahu siapa Delfiya sebenarnya.

Wah, Daniel mendadak merasa dirinya seperti Sherlock Holmes.

Lima menit berlalu. Sudah pukul enam lewat dua belas saat suara langkah kaki di tangga membuat Daniel kembali gugup. Mata coklatnya melirik ke arah mading, menunggu siapapun mendekati area itu. Lebih baiknya lagi, kalau ada yang mengganti foto di mading, yang pasti akan dilakukan siapapun Delfiya sebenarnya.

Seseorang muncul dengan wajah kentara sekali masih mengantuk. Rambutnya diikat asal, sedikit berantakan tapi masih bisa ditolerir. Tas punggung hitamnya disampirkan di bahu kanan. Rok yang dia pakai membuat Daniel yakin kalau orang itu berjenis kelamin perempuan. Sesekali, orang itu akan mengucek matanya sambil menguap. Semua gerakan itu, tidak luput dari mata Daniel.

Tiba di depan mading, orang itu merogoh ke dalam tas, mengeluarkan sebuah buku agenda kecil tebal bersampul hitam. Tidak perlu menebak dua kali untuk tahu apa yang cewek itu keluarkan dari sana, sebuah foto. Si cewek mengibas-ngibaskan fotonya sebelum mengeluarkan sebuah selotip. Seperti yang Daniel duga juga, dia mengganti foto di mading!

“Woi!” tidak sabar, Daniel berjalan cepat menghampiri si cewek. Hanya tinggal lima langkah tersisa saat gadis itu memutar tubuh, menghadap orang yang memanggilnya.

Dan rahang Daniel jatuh. Ekspresi terkejut dan tidak percaya terpampang jelas di wajahnya saat ia menatap wajah Delfiya. Orang yang selama ini memukaunya lewat foto. Orang yang selama ini mengusik rasa ingin tahunya ternyata orang yang sama yang mengusik harga dirinya berminggu-minggu lalu.

Delfiya adalah Koko. Dan Koko adalah Delfiya. Kenyataan sederhana itu, entah kenapa sulit diterima akal sehat Daniel.

“Koko?” Daniel mengucap nama Koko seolah ia tidak mau percaya cewek itu berdiri di depannya.

“Hm,” Koko menggumam singkat sebagai jawaban.

“Lho? Ta-tapi masa iya… lo orang yang masang foto di mading?”

Koko mengangguk.

Jadi kira-kira begini singkatnya. Daniel tidak menyukai Koko. Lebih tepatnya, cowok itu merasa terganggu terhadap kehadiran Koko. Pertama, karena Koko sudah menolaknya. Dua kali, kalau boleh ditambahkan. Kedua, karena cewek itu tidak normal. Bagaimana bisa dia tidak tunduk pada Daniel sebagaimana lazimnya cewek-cewek lain? Apalagi setelah Daniel nembak dia dengan sangat sangat sangat manis.

Dan Daniel mengagumi Delfiya. Ia sangat menyukai jepretan orang itu yang tampak berisi di matanya. Karena foto Delfiya mengandung pesan yang seolah-olah ingin fotografernya sampaikan ke orang-orang lewat karyanya. Ada unsur empati yang tinggi dari potret sudut-sudut Bandung yang orang itu ambil.

Dan Koko adalah Delfiya. Delfiya adalah Koko. Bagaimana bisa Daniel mengagumi sekaligus tidak menyukai orang yang sama di saat yang sama!?

“Lo mau ngomong sama gue?” Koko bicara. “Jangan megap-megap kayak ikan lohan, deh.”

TUH, KAN! Masa iya Koko itu Delfiya! Orang dengan common sense nol ini punya empati yang tinggi? Nggak mungkin banget!

“Beneran Delfiya itu lo?” Daniel bertanya lagi, memastikan.

“Iya,” Koko menjawab dengan baik kali ini karena entah kenapa, ia punya firasat kalau Daniel tidak akan puas kalau ia tak bicara.

“Kok bisa!?”

“Ya bisa, lah,” Koko memutar bola matanya.

“Nama lo siapa?”

“Aiko.”

Daniel berdecak. “Nama lengkap.”

“Aiko Fidelya Engrasia.”

Fidelya.

F-i-d-e-l-y-a. D-e-l-f-i-y-a.

Daniel rasanya mau membenturkan kepalanya ke tembok sekarang juga.

***

[END]

 

 

Cerita Cinta Lama

(pict of: www.lovesove.com)

“We accept the love we think we deserve.”

Agasthya menghembuskan nafasnya keras-keras. Berlembar-lembar tugas Analisis Investasi di hadapannya terlihat rapi, belum tersentuh sama sekali. Lembarnya masih bersih, putih, kontras dengan isi kepalanya yang bising dan berantakan. Di atas meja belajar, cangkir kedua kopinya sudah hampir tandas setengah. Aga, panggilan cowok itu, menyesap isinya sekali lagi. Berharap setelah itu ia akan kembali fokus dan menyelesaikan perannya sebagai mahasiswa dengan cepat. Tapi tidak. Bahkan setelah menandaskan sisa kopinya, Aga masih resah seperti tadi.

Sudah satu tahun lewat setengah berlalu sejak gadis itu pergi meninggalkannya dan Aga masih terkurung dalam lingkaran masa lalu yang sama. Rivailla Aletta Dalbert adalah semua aspek dalam hidup yang Aga inginkan. Atau setidaknya, ia berpikir begitu selama bertahun-tahun ke belakang. Ia masih tidak beranjak pergi. Bukan karena Aga tidak bisa, tapi ia tidak mau. Gadis itu sempurna. Dan kesempurnaannya itulah yang Aga idam-idamkan seumur hidupnya.

Aga kembali menghela nafas. Entah sudah ke berapa kalinya hari ini. Punggungnya menyandar lelah di sandaran kursi. Matanya menerawang, memandang apa-apa yang bisa dipandang sambil kepalanya memutar kembali momen-momen indah antara dirinya dan Rivailla yang rasanya sudah berabad-abad berlalu. Ia rindu. Dan Aga tidak bisa apa-apa soal itu.

***

Five years ago

“Aga, kenalkan ini anak teman Papa,” Rudi Muryada mendorong pelan bahu seorang gadis ke hadapan Aga yang masih asyik dengan PSP barunya. Aga melirik, tampak tidak tertarik.

“Namanya Rivailla. Nanti kamu ajak dia main, ya,” Rudi kembali melanjutkan sebelum meninggalkan Aga dan gadis bernama Rivailla itu di ruang keluarga. Selang beberapa detik kemudian, para orang tua sudah terlibat percakapan serius perihal bisnis dan tetek bengeknya sementara Aga duduk canggung bersama gadis asing yang namanya baru ia ketahui beberapa waktu lalu.

Rupanya Rivailla yang disebut Papanya juga orang yang pendiam. Gadis itu hanya duduk di ujung sofa sambil memelintir pinggiran gaunnya. Sesekali melirik takut ke arah Aga, atau melempar pandangan pada perabot ruang keluarga Muryada. Kentara sekali, gadis itu kelihatan bosan. Tapi terlalu takut memulai sebuah percakapan.

“Sekolah dimana?” tanya Aga, masih memandang layar PSPnya.

Disemprot pertanyaan dadakan begitu, jelas Rivailla kaget. Tapi gadis itu selalu belajar untuk mengendalikan diri. Jadi, ia tersenyum lantas menjawab lugas; “SMP 2.”

“Oh, elit, ya?” komentarnya lugas, melirik Rivailla kali ini.

“Kamu sendiri dimana?” kata Rivailla, balik bertanya.

“14.”

Aga tidak berkata apapun lagi. Ia sedang berusaha naik level dan bicara dengan Rivailla ternyata membuyarkan konsentrasinya. Rivailla, juga, tidak bertanya lagi setelah lawan bicaranya menjawab begitu singkat. Mereka diam lama sekali dan keheningan itu baru berhenti saat ayah Rivailla mengajak gadis itu pulang.

***

Semestinya Aga tahu kalau ia harus melewatkan makan malam hari ini seperti rencananya semula. Meja makan mereka terasa dingin saat Papa dan Mamanya tidak mengobrol seperti biasa. Sebagai anak sulung di keluarganya, ia sudah cukup besar untuk mengerti masalah apa yang membelit kedua orang tuanya.

“Bagaimana Rivailla menurut kamu, Ga?” Papanya buka suara. Tidak biasanya. Rudi tidak suka ada orang yang bicara saat sedang makan. Tapi tentu Papanya merasa punya otoritas untuk melanggar aturan yang dibuatnya sendiri.

Aga mengangkat sebelah alisnya. “Biasa saja.”

Rudi tampak tidak puas mendengar penuturan anaknya. “Hanya segitu? Papa kira Rivailla nggak buruk.”

Mengerti maksud Papanya, Aga memilih untuk tidak menggubris pendapat Rudi. Ia menatap piringnya tanpa minat. Nafsu makannya sudah sepenuhnya hilang sekarang.

“Aga masih muda, Rud. Biarkan dia menikmati masa remajanya dulu, dong,” protes Mega, Mamanya. Mega adalah orang yang selalu berdiri di sisinya saat Ayahnya mulai menuntut Aga ini-itu. Mungkin, Mamanya itu orang paling manusiawi yang kejatuhan sial harus terlibat dengan keluarga Muryada. Ia begitu hidup, begitu bebas. Sikap yang kemudian Aga sesali.

“Tahu apa sih, kamu? Saya begini juga kan demi anak saya!” suara Rudi meninggi. Matanya yang hitam memandang Mega penuh sorot ketidak sukaan.

Mega mengernyit tak suka. “Anakmu ya anak saya juga!”

Aga melirik Razakki, yang tampak kesal di tempatnya duduk. Matanya lantas beralih pada Rayan. Adik terkecilnya itu menatap orang tua mereka penuh sorot ketakutan. Lain dengan Aga yang sudah bisa menyikapi pertengkaran Rudi dan Mega dengan tenang, kedua adiknya masih terlalu kecil untuk mengerti.

“Rayan, Zakki, ikut abang main game di atas yuk?” ajaknya, memberi senyum paling menenangkan yang bisa dibentuk bibirnya saat ini.

***

Upaya Rudi untuk terus menjodohkan Aga dan Rivailla rupanya tak berhenti sampai disitu. Pria itu muncul dengan si gadis di akhir pekan. Mereka duduk manis di ruang tamu dengan secangkir teh dan setoples kukis coklat saat Aga turun dengan pakaian rapi. Siap pergi.

“Mau kemana kamu?” Rudi bertanya. “Rivailla datang kok malah pergi.”

Aga memutar bola matanya bosan. “Ke toko buku,” jawabnya ringkas. Tanpa menunggu jawaban dari Papanya, Aga langsung melengos pergi.

“Ajak Rivailla sekalian,” kata Rudi lagi sebelum punggung Aga hilang di pintu depan. Nadanya santai, tapi Aga bisa mengerti betul kalau Papanya tidak sedang dalam mood yang baik untuk dibantah setelah semalam bertengkar hebat dengan sang Mama.

Aga berdecak, tidak bisa membantah. Di belakangnya, Rivailla berjalan cepat mengekor. Sejujurnya, gadis itu malas terjebak bersama Aga yang jutek dan irit bicara. Tapi apa mau dikata. Ayahnya sendiri bersikeras sekali ingin dirinya mengakrabkan diri dengan cowok dingin itu.

Sejujurnya hari ini Aga ingin menghabiskan sepanjang hari di luar rumah dibanding harus melihat pertengkaran Papa dan Mamanya lagi. Jadi setelah selesai membeli buku, cowok itu berencana mampir ke rumah Bagas dulu untuk main play station atau menonton F1 nanti sore. Tapi gadis bernama Rivailla ini sukses menghancurkan hampir separuh jadwal yang ia buat. Dan tentu saja, Aga tidak mengapresiasi hal itu.

“Kamu mau beli buku apa?” tanya Rivailla saat mereka sudah duduk di kursi belakang taksi. Aga tidak suka naik taksi. Buang-buang uang, pikirnya. Tapi tentu saja gadis seperti Rivailla tidak mungkin diajak naik Damri, atau panas-panasan naik ojek.

“Latihan soal,” jawab Aga, lagi-lagi seringkas yang ia bisa.

“Maaf ya,” tiba-tiba Rivailla menunduk. Wajahnya tampak jelas seperti merasa bersalah.

“Gara-gara aku datang kamu jadi harus pergi sama aku,” lanjutnya lagi dengan suara pelan.

Sial, Aga jadi tidak tega.

“Nggak apa-apa,” ujarnya sembari menghela nafas. “Karena udah terlanjur, jadi sekalian aja jalan-jalan. Kamu mau beli buku?”

Mendengar jawaban bersahabat dari Aga, Rivailla kembali ceria seperti sedia kala. Gadis itu tersenyum lebar, kemudian mengangguk. “Aku nggak kepikiran, sih. Tapi nanti pasti beli.”

“Buku apa?” tanya Aga, berupaya agar Rivailla tidak merasa diabaikan lagi.

Not literally a book. Aku mau beli majalah, sih. Paling CosmoGirl atau HET.”

Aga menggumam panjang, tidak tahu majalah yang disebut Rivailla. Ia selalu mampir di comic corner, novel corner atau rak buku pelajaran kalau mampir ke toko buku. Jadi rasanya wajar saja kalau judul-judul tadi asing di telinganya.

“Itu majalah fashion?” tanya Aga, lagi-lagi ingin menyambung percakapan.

Rivailla terkekeh. “Nggak juga, sih. Ya, majalah remaja gitu deh. Ada fashion, ulasan make-upinfotainment news dan kadang ada juga ulasan soal tips-tips bermanfaat gitu. Banyak, deh.”

“Kamu tertarik sama gitu-gituan?”

Mendengar Aga mengategorikan hal-hal yang disukainya sebagai ‘gitu-gituan’ membuat Rivailla mengerutkan dahi. Tapi gadis itu tidak protes. “Aku kepingin banget jadi designer. Jadi ya harus melek fashion. Masih lama, sih. Tapi kan nggak ada salahnya dimulai dari sekarang,” tuturnya ditutup kekehan kecil.

Aga selalu menganggap perempuan perlu bersikap sangat feminin untuk mempertahankan kodrat mereka sebagai wanita. Karena itu, meski tidak mengerti hampir sembilan puluh persen hal yang dibicarakan Rivailla, Aga tidak membencinya. Mendengar gadis itu bercerita jadi hiburan tersendiri baginya dalam perjalanan menuju toko buku.

Mungkin kali ini Papanya benar. Rivailla tidak seburuk yang ia pikir.

***

Berawal dari perjalanan singkat itu, Rivailla hadir hampir dalam setiap fase hidupnya. Gadis itu ada saat dirinya terpuruk karena perceraian kedua orang tuanya. Gadis itu menemaninya saat Aga mencetak berbagai sejarah penting di masa putih abu-abunya. Gadis itu selalu ada sampai Aga terlalu nyaman tinggal dengan keberadaannya. Ditambah pikiran tentang betapa ideal Rivailla bersama dengannya, Aga sungguh tak bisa melupakan gadis itu.

Pintu di belakang punggungnya mengayun terbuka, memperlihatkan Razakki dalam balutan santai di baliknya. Adiknya itu pasti belum mandi.

“Papa bilang jangan lupa datang ke bakti sosial hari ini. Kita kan sponsor,” kata Zakki, sapaan akrab putra kedua Rudi Muryada.

Aga mendengus. Ia memutar tubuh, kembali memandang tugas-tugasnya yang masih kosong. Cowok itu menghela nafas, menarik jaket bomber miliknya sebelum meninggalkan kamar.

Aga harus melupakan Rivailla, dan kesibukan jadi solusinya. Hari itu, Aga menyesap dua cangkir kopi paginya sambil memikirkan Rivailla. Ia membawa mobil miliknya sambil memikirkan Rivailla. Ia bertahan tiga jam di bakti sosial yang diadakan SMA 20 sambil bernostalgia tentang Rivailla. Ia memikirkan Rivailla terus, kemudian bertemu Tika.

[END]


This is a prequel from Secangkir Kopi dan Sepotong Hati.

Setangkai Dandelion

Image by: www.tiki-toki.com

“Sometimes you don’t see that the best thing that’s ever happened to you is sitting there, right under your nose.”

Buat gue, cinta-cintaan itu masalah basi. Bukannya berhati batu, atau sok keren, atau sebagainya. Dari pengalaman, gue belajar kalau masalah hati kadang bikin sebagian besar orang kehilangan akal sehat. Seolah otak mereka gak bisa dipake untuk memikirkan sesuatu secara lebih rasional lagi. Semua takarannya berubah jadi sesuai hati. Sebagai orang yang masih waras, gue jelas menolak ketidakrasionalitasan ini. Jatuh cinta bikin kebanyakan temen gue tidak lagi punya banyak quality time dengan orang terdekat mereka. Bahkan dengan diri mereka sendiri.

Heri, contohnya, tidak pernah bisa ikut main playstation 3 di rumah Rangga setiap malam minggu karena harus secara rutin datang ke rumah pacarnya Intan. Gue tidak mengerti kenapa semua cewek minta malam minggu mereka dihabiskan bersama pacar. Apalagi dalam kasus Heri dan Intan. Maksud gue, mereka bertemu setiap hari di sekolah, dengan bangku yang berjarak kurang dari lima meter dan masih merasa belum cukup juga?

Lalu ada Tito, yang setiap hari minggu tidak pernah bisa diajak futsal. Hari minggu adalah jadwal nontonnya bersama Farah, pacarnya yang sedikit genit dan kelewat manja. Tipe cewek macam Farah adalah tipe terakhir yang akan gue jadikan pacar kalau suatu saat gagasan itu lewat di kepala gue. Buat apa punya pacar cantik dan lucu kalau bisanya cuma ngabisin duit doang setiap minggu? Nope. Gue lebih memilih beli Gundam dibanding harus jalan dan keluar uang tiap weekend.

Intinya, jatuh cinta itu merepotkan.

Dan gue menolak direpotkan.

“Put, minggu ke Gramedia, yuk. Gue mau beli komik Nakayoshi edisi bulan ini.”

Itu, yang barusan bicara sama gue, adalah si nenek lampir k.a Hayan Habibi Azhar. Cewek yang selama 3 tahun gue di SMA 20 jadi orang paling dekat gue dengan gender berbeda. Rambut hitam Hayan yang agak kemerahan dan diikat asal berbentuk ekor kuda bergoyang-goyang saat cewek itu ambil posisi di samping gue. Di sisi lain, gue masih sibuk memegangi ponsel, main game sambil sesekali melirik ke arahnya.

Kalau sedang duduk berdua seperti ini, tidak jarang gue berpikir, kenapa cewek tipe Hayan cocok bersama gue yang notabene sedikit–oke, banyak–aneh. Cewek itu sibuk mengipas-ngipas salah satu buku catatan gue demi mengusir gerah. Hayan adalah tipe cewek yang biasa ditemukan sedang duduk di ruang OSIS bareng beberapa anak eskul lain atau berjemur di lapangan untuk latihan Paskibraka. Indeed, dia adalah jenis cewek aktif yang ikut banyak kegiatan sekolah. Berkebalikan sekali dengan gue yang jelas-jelas lebih memilih tidur di kamar dibanding harus datang ke pensi sekolah.

“Lo kan punya kaki dua, punya duit, punya mata, anggota badan masih utuh, bisa kali pergi sendiri,” cerocos gue, bentuk protes secara tidak langsung.

Hayan mendengus keras, jenis perilaku yang tidak akan gue temukan di cewek-cewek lain. “Yaelah, nganterin doang lo banyak protes. Ntar gue traktir creepes di kantin belakang, deh.”

Harus gue akui, Hayan memang paling jago nyogok orang.

“Oke.”

Deal, then,” lalu dia pergi sambil nyengir. Diam-diam gue mengamati pergerakan Hayan. Badannya bagus, sebenarnya. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Dia juga tidak gemuk. Bagi gue, Hayan seperti setangkai dandelion. Liar, tapi punya keindahannya sendiri. Gue punya semacam firasat, kalau saja Hayan tidak tomboy dan tidak terlalu sering berjemur di lapangan, dia bisa saja kelihatan secantik Eva.

Tunggu. Apa?

***

“Jadi, OSIS rencananya bakal ngadain prom night gitu setelah upacara kelulusan. Dress codenya black and white. Tapi kalian wajib pake topeng,” Wahyu, dengan muka malasnya mengumumkan pagelaran pesta perpisahan sekolah di depan kelas. Entah kenapa, setiap ngeliat Wahyu gue mendadak ingat Shikamaru di anime Naruto. They really look alike.

“Itu namanya pesta topeng dong, bukan prom night,” kata Anwar. Gue mengiyakan dalam hati.

Kebanyakan anak kelas (terutama cewek) kelihatan kelewat semangat mendengarkan pengumuman Wahyu yang–sejujurnya–bikin gue ngantuk setengah mampus. Gue melirik ke meja di sebelah kiri gue, tepat ke meja Heri dan Intan. Heri mungkin lagi modus megangin tangan pacarnya di bawah meja sekarang. Lirik lagi, ke meja Juni. Cewek genit itu tidak berhenti bicara (lebih tepatnya, kayak orase) kalau siapa tahu Jovan mau ngajak dia ke prom. Gue mendengus. Semua anak eskul futsal tahu Jovan sudah naksir sama Amanda dari dulu. Gue salah satunya by the way.

Gue melirik ke beberapa meja secara random. Findi, Valen, Avantika, Helen, Oliv dan Hayan. Setidaknya ada cewek seperti Tika dan Hayan yang nggak lebay menanggapi pengumuman ini.

Wahyu sudah kembali lagi ke tempatnya, kursi di samping gue saat gue memutuskan untuk meletakkan kepala di atas meja dan tidur. Gue tidak benar-benar tidur, sebenarnya. Harus gue akui agak sulit tidur di kelas berisi cewek bermulut berisik macam Juni dan cowok-cowok yang sibuk taruhan siapa yang bisa ngajak Amanda ke prom.

We talked about Amanda Palma Muryada, anyway.

Amanda, seperti kebanyakan Muryada yang lainnya, masuk jajaran cewek paling beken di sekolah sejak dia pertama kali masuk 20. Rambut coklat tua, mata hijau dan muka bule cukup jadi modal untuk membuat setengah dari populasi cowok di 20 menggila. Harus gue akui, dia memang gorgeous. Bahkan cowok sekelas Jovan saja dibuat minder. Dan supernya lagi, gue bukan tipe cowok yang akan menyukai cewek seperti dia.

Gue lebih suka tipe cewek seperti Yunia. Supel, asik, tidak banyak gaya dan enak diajak ngobrol. Oke. I have a crush on her.

Bel pulang berbunyi tepat saat gue mulai merasa mengantuk.

***

Suara teriakan anak-anak Paskibraka sudah jadi makanan sehari-hari semua anak 20 setiap sabtu sore. Biasanya, mereka akan latihan di lapangan tiga karena lapangan satu dan dua sudah di booking Basket dan Futsal. Itu pun kalau mereka bisa menang debat bareng anak Pramuka yang kadang ikut latihan di lapangan juga. Perdebatan mereka–kata Hayan–terjadi setiap rapat perwakilan eskul. Sebulan sekali. Di rapat itulah ditentukan siapa yang berhak pakai lapangan tiga setiap sabtu sore selama sebulan ke depan.

Gue bukan anak OSIS, pun anak eskul yang sering hadir rapat. Jadi gue cuma tahu dari cerita Hayan saja.

Hari ini sesuai perjanjian, gue harus menemani Hayan ke Gramedia di seberang BIP (Bandung Indah Plaza). Cewek itu jadi agak beringas kalau sudah menyangkut komik kesukaannya dan melihat Hayan jadi beringas adalah hal terakhir yang gue inginkan terjadi dalam hidup gue.

Baru beberapa menit duduk di pinggir lapangan, harus gue akui, gue mulai bosan. Apalagi Hayan kelihatan terlalu asyik ‘main’ di lapangan sehingga tidak sempat bahkan untuk menoleh melihat gue. Dering ponsel rasanya jadi melodi paling indah yang berhasil membunuh kebosanan gue di sore panjang ini.

[Yunia R.]

Putra?

Untuk beberapa detik setelahnya, gue menahan nafas. Kalau tidak ada masalah pada mata gue (dan gue yakin seratus persen memang tidak ada), pesan yang barusan gue baca di aplikasi LINE ponsel gue memang berasal dari Yunia.

Yeah, Yunia yang itu.

Jari gue mengetik cepat di atas layar ponsel. Sebisa mungkin tidak membuat cewek itu menunggu. Eh, atau sebaiknya membiarkan dia menunggu biar gue terkesan cuek? Ah, masa bodoh soal itu. Gue terlalu senang untuk menunda balasan.

[Putra Julian]

Kenapa yun?

Tidak sampai tiga menit, Yunia kembali membalas.

[Yunia R.]

Anter gue ke butik, yuk. Bentar lagi kan prom. Gue minta anter Kak Dion, dia ga bisa

[Putra Julian]

Boleh. Kapan?

[Yunia R.]

Sekarang. Lo lg dimana?

[Putra Julian]

Sekolah. Bentar lg gw jemput

Mungkin ini yang namanya keberuntungan, pikir gue. LINE singkat dari Yunia seketika membuat mood gue kembali baik. Apalagi, hari ini cewek itu menghubungi gue khusus untuk menemani dia ke butik. Segera setelah meletakkan ponsel gue di saku tas, gue menarik jaket biru tua gue dan segera menghampiri Hayan. Beruntung cewek itu sedang dalam sesi istirahat meski masih harus duduk di tengah lapangan, di dalam barisannya.

“Yan,” gue memanggil namanya. Membuat Hayan langsung menoleh.

“Eh, Put. Sabar, ya. Gue bentar lagi sele–”

Gue menggeleng pelan. Masih tidak bisa melunturkan senyuman gila di wajah gue. Efek LINE Yunia tadi. “Gue gak bisa, nih. Next time aja, ya. Atau lo bisa minta anter Lukas.”

Lukas adalah anak Basket yang juga tetangga Hayan. Biasanya, kalau gue mendadak tidak bisa menemani cewek itu, Lukas lah yang dia cari. Harus gue akui, Hayan memang bergantung pada kami berdua sejak kakak kandungnya meninggal dalam kecelakaan motor.

“Yunia lagi?” Hayan mengelap peluh di dahinya menggunakan pinggiran baju olahraga. Meninggalkan noda kecoklatan di baju berwarna biru muda itu. “Ini udah entah-ke-berapa kalinya lo batalin janji sama gue buat nemenin Yunia, lho, Put.”

“Iya,” jawab gue, mendadak dingin. Entah kenapa gue tidak suka menangkap nada Hayan yang terdengar tidak suka. Gue bukan orang yang senang mengingkari janji. Tapi kadang ada satu atau beberapa hal yang harus diutamakan karena punya skala prioritas yang lebih tinggi. “Lo tau kan, gue lagi–”

“Masa PDKT sama Yunia. Yeah, I get that. Mending lo pergi sekarang aja, deh. Gue bisa minta temenin Lukas.”

Gue menepuk kepalanya. “Thanks, Yan!”

“Dan, Put…” gue menghentikan langkah saat Hayan memanggil nama gue lagi. Saat gue menoleh, entah kenapa gue punya firasat yang buruk tentang cewek itu. “…nggak akan ada lain kali.”

Gue tidak mengerti maksudnya, jadi gue memutuskan mengangkat bahu dan kembali berjalan.

***

Prom sudah tinggal menghitung hari. Sekolah gue sedang dihebohkan dengan kabar jadiannya Tika dan Guntur. Wajar, sih. Guntur termasuk aktivis yang punya banyak penggemar rahasia. Terlebih, dia juga mantan kapten futsal dua tahun berturut-turut. Di sisi lain, Tika justru cewek yang biasa-biasa saja. Manis, sih. Dan pernah ditembak dua orang kakak kelas sewaktu kelas sepuluh dan sebelas dulu. Tapi cewek itu lebih tertarik sama isu kebakaran nasional atau korupsi dibanding ngurusin pacar. Jadi semua orang–termasuk gue–bingung kenapa mereka bisa jadian.

Cowok-cowok di eskul basket belakangan ini selalu nangkring di kelas gue. Apa lagi kalau bukan mencoba mengajak Amanda ke prom. Tapi dari delapan orang yang mengajaknya, sejauh ini semuanya ditolak.

Belakangan ini, Hayan tidak lagi merecoki gue dengan cerita-cerita tidak pentingnya. Atau memaksa gue mengantarnya kesana kemari seperti gojek langganan. Cewek itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan Lukas atau teman-teman ceweknya yang lain dan tidak lagi mengajak gue bicara. Bahkan saat berpapasan di koridor atau lapangan sekolah, dia cuma akan menepuk bahu gue sambil berkata: “Woi, Put!” lalu berlalu.

Gue bohong kalau gue bilang tidak ada yang hilang.

Hayan dan gue (ditambah Lukas juga) adalah tiga sekawan yang sudah bersama sejak kecil. Sejak gue masih ngompol di celana dan sejak Hayan masih berebut lollipop sama Lukas. Gue paling tahu kalau Hayan tidak suka makan nasi sewaktu kecil, kalau Lukas pernah hampir makan kotoran ayam dan mereka paling tahu kalau gue pernah suka menjilati ujung obeng.

Jadi berjauhan begini rasanya agak aneh. Ralat, sangat aneh.

“Put!” tepukan pelan di bahu menyadarkan gue dari lamunan sialan yang belakangan ini sering mampir. Rupanya Jovan. Cowok itu menenggak minuman isotonik yang dibawanya sebelum duduk di samping gue. “Udah nemu pasangan yang mau lo bawa ke prom?”

Gue menggeleng. “Gue rencananya mau ngajak Hayan.”

Salah satu alis Jovan terangkat. “Bukannya lo lagi deket sama–siapa, itu? Yunia?”

Mendengar nama Yunia keluar dari mulut Jovan mau tak mau membuat gue meringis pelan. “Tadinya gue mau ngajak dia,” tukas gue, menggaruk tengkuk gue yang tidak gatal sama sekali.

“Terus kenapa lo nggak ngajak dia aja?” tanya Jovan lagi. Kelihatan tertarik.

“Cuma nggak tertarik aja. Gue rasa dia bukan teman yang pas buat diajak ke prom.”

“Dan menurut lo, Hayan pas?” ada nada menggoda dalam suara Jovan yang ditangkap telinga gue.

Gue tidak menjawab.

Sebenarnya, alasan kenapa gue tidak mengajak Yunia adalah karena cewek itu meminta bantuan gue agar Jovan mengajaknya ke prom. Which is impossible mengingat Jovan sudah pasti pasang badan untuk mengajak Amanda. Cowok itu sudah diceramahi berminggu-minggu oleh Lukas tentang ‘lo akan menyesal kalau nggak start sekarang’ dan sebagainya. Dan saat Yunia mengutarakan niatnya itu, gue baru sadar kalau selama ini gue tidak pernah benar-benar kasat di matanya.

Secara tiba-tiba gue ingat kata-kata Hayan beberapa minggu lalu. Saat gue dengan entengnya kembali membatalkan janji karena mengurus Yunia.

“Nggak akan ada lain kali.

Gue terkesiap, menggelindingkan bola basket ke tengah lapangan sebelum buru-buru meraih tas punggung. “Van, gue duluan, ya!”

Tanpa menunggu jawaban Jovan, gue langsung berlari pergi.

***

Hayan sedang ada di meja yang sama dengan Tika, Findi, Amanda, Oliv dan Valen. Minus Helen yang biasanya ngumpul bareng mereka. Sesekali gue bisa mendengar nama Jovan dan Guntur keluar dari mulut mereka dan Tika dan Amanda akan pura-pura menulis atau memalingkan wajah mereka ke arah lain. Sikap salah tingkah yang cukup keren, menurut gue.

Gue berjalan santai menghampiri cewek-cewek itu. Sedikit deg-degan, padahal gue hanya mau mengajak Hayan ke prom bareng. Beberapa langkah sebelum benar-benar sampai di meja itu, Hayan menoleh, menatap gue dengan tatapan heran.

“Putra?” nada heran keluar dari mulut Hayan saat cewek itu memanggil nama gue.

“Boleh gue pinjem Hayannya sebentar?” tanya gue, menggaruk tengkuk karena gugup.

Amanda mengangkat bahunya sementara sisa cewek lainnya (kecuali Hayan) berkata ‘Boleh,’ sambil menganggukkan kepala. Mendapat persetujuan, gue menarik tangan Hayan dan membawanya keluar kelas. Berdiri di koridor yang cukup sepi.

“Ada apa, Put? Tumbenan amat lo nyariin gue,” tukas Hayan sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Gue mau ngajak lo ke prom. Mau, gak?” tanya gue dalam satu tarikan nafas.

Untuk beberapa detik selanjutnya, Hayan cuma memandang gue dalam-dalam. Gue baru sadar sudah lama sekali rasanya sejak gue tidak melihat mata hitam Hayan. Atau kulit kecoklatannya yang belakangan ini mulai kelihatan lebih bersih. Pada dasarnya, Hayan memang punya kulit yang sawo matang dan sangat bersih. Hanya saja, keseringan berdiri di bawah terik membuat kulitnya sedikit kusam.

Gue baru ingat fakta kecil itu.

“Sori, Put…” dua patah kata dari Hayan sukses membuat gue merasa jadi cowok paling tolol di seantero SMA 20. “Gue udah diajak orang lain.”

Rasanya tenggorokan gue tercekat. “Siapa?”

Entah hanya bayangan gue saja atau wajah Hayan sedikit tersipu. “Lukas,” jawabnya. Sukses membuat gue menganga.

“Lo sama Lukas dari kapan?”

“Kapan apanya?” alis Hayan bertaut bingung.

“Jadian.”

Hayan tertawa kencang. “Gue nggak jadian sama Lukas, Put. Jangan ngaco, ah. Lagian kenapa lo nggak ajak Yunia aja? Bukannya selama ini lo ngejar-ngejar dia, ya?”

Gue tidak menjawab.

“Gue tau Yunia cuma manfaatin lo aja. Keliatan sih dari mukanya. Lagian, dia selalu ngeliatin Jovan kalau anak basket latihan. Ya iyalah, ya. Anak pramuka kan suka pada nongkrong gak jelas gitu di samping lapangan basket,” Hayan mulai nyerocos. “Tapi lo keliatan semangat banget pas lagi suka sama dia. Gue jadi gak tega ngomongnya. Apalagi nggak ada jaminan lo bakal percaya sama gue kalo gue ngomong.”

Hayan benar. Sudah seberapa buta gue sewaktu Yunia berkali-kali manfaatin gue demi kepentingan dia sendiri. Tanpa gue sadari, gue dijadikan ojek dan teman saat dia bete. And after all of that, dia ternyata cuma liat Jovan seorang dan gue tidak lebih dari seorang teman. Yang paling gue sesali dari semua itu, adalah saat dimana gue harus mengorbankan waktu berharga gue bersama sahabat-sahabat gue.

Sialan. Tanpa sadar gue jadi manusia bodoh yang sesungguhnya. Lebih bodoh dari Heri atau Tito.

Hayan mengangkat kedua bahunya. “Tapi setidaknya lo udah belajar sesuatu,” pungkasnya sebelum dia berjalan memasuki kelas lagi.

Saat melewati pintu, dia menoleh, menatap gue sambil tersenyum teduh.

“Lo tau, gak, Put?” katanya. “Kalau lo ngajak gue seminggu lebih awal, gue mungkin bilang iya.”

Dan Hayan meninggalkan gue yang masih sibuk mencerna apa maksud kalimatnya barusan.

***

END

Suatu Hari

(images from: www.eshphotography.com.au)


Dear, Ahmad.

Saya tidak akan pernah bisa melupakanmu. Tidak bahkan dalam tidur-tidur saya yang lelap. Tidak juga dalam lamunan-lamunan saya yang tidak pernah kosong. Meski saya ingin, saya tidak bisa. Lebih tepatnya, tidak kuasa melakukannya. Entah kamu yang terlalu pandai memasuki hati saya, atau saya yang terlalu bodoh sampai jatuh terlalu dalam untukmu, saya tidak mengerti. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, saya menikmatinya.

Kamu ingat, malam itu saat pertama kalinya saya mengirimkan SMS padamu. Now when I think about it, selalu saja saya yang memulai segalanya. Bukan kamu. Kamu seperti medan magnet bagi saya, Ahmad. Dan saya adalah logam yang tidak peduli mau lari sejauh apa, pasti selalu tertarik ke aramu.


Desember, 2012

Aku harus melakukan sesuatu.

Dua minggu yang lalu, bertepatan satu pekan sebelum Ujian Akhir Semester dilaksanakan, guru PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) kami memberi tugas yang bernilai sosial sangat tinggi tapi sangat merepotkan juga. Mewawancarai seorang anak jalanan. Selesai wanita tiga puluhan tahun itu bicara, kelas kami langsung heboh. Menyuarakan keberatan dengan lantang. Masalahnya, kurang dari sepekan setelahnya, kami harus dibombardir dengan berbagai jenis soal UAS. Jelas tidak akan memiliki waktu mengurusi tugas merepotkan ini.

“Gak bisa, Bu. Nggak akan sempet. Minggu depan kan, udah mulai UAS,” Vero, cowok gempal yang duduk di pojokan kelas angkat bicara.

“Kayak lo bakal belajar aja, Tet,” komentar teman sebangkunya, Andri.

Aku terkekeh, berpikiran hal yang sama dengan Andri.

Guru kami mengetuk meja dengan ujung spidol, membuat sekretaris kelas, Valen, meringis pelan. Takut inventaris kelas kesayanannya itu mendadak rusak. Ya, paling hanya sulit dibuka tutupnya saja.

“Sudah, ya. Tidak ada bantahan. Setiap tahun juga, saya ngasih tugas ini tidak pernah ada masalah. Jadi kerjakan saja dan kumpulkan laporannya ke saya setelah UAS.”

Entah kami yang sedang apes atau memang dia yang tidak kreatif memberi tugas yang sama dari tahun ke tahun, aku tidak tahu.

Jadi, kurasa sumber kegalauanku sekarang sudah jelas penyebabnya. Tugas menyebalkan sang guru dan teman-teman yang tidak kooperatif dan sulit dihubungi. Padahal deadline pengumpulan tugas tinggal empat hari lagi. Sebagai orang yang tidak pernah terlambat mengumpulkan tugas, tentu saja aku ketar-ketir sendiri.

[ Incoming Call from Valen ]

“Halo?” sapaku, mengangkat telepon bahkan sebelum dering kedua.

“Ngapain neleponin gue mulu? Nggak tau apa tadi lagi ibadah?” suara di seberang terdengar keki.

Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamar. Jam sebelas siang. Pantas saja, pikirku. Ini hari Minggu, jadi Valen pasti sedang menghadiri ibadah di gereja dekat rumahnya.

“Sori, oke? Gue butuh bantuan banget,” ujarku, tidak benar-benar meminta maaf. “Lo inget tugas wawancara dari Bu Erna?”

Aku tidak benar-benar bisa melihat Valen sekarang, tapi aku yakin ia mengangguk. “Iya, kenapa?”

“Jadi harusnya lo tahu kalau deadlinenya itu empat hari lagi, kan? Hari kamis?”

Valen terkesiap. “Anjir! Iya, bener! Wah, parah. Lo kenapa baru inget, sih!?

Aku memutar bola mata. “Jadi? Lo bisa bantu hubungin anak-anak yang lain? Teressa, Andri, Rega, Luki, Farah sama Dion?”

“Bisa, deh. Gue bisa nge-whatsapp Teressa, Luki sama Farah. Nanti biar Farah kasih tau Dion. Lo SMS Andri sama Rega, ya?”

Aku menghela nafas. “Gue gak ada nomor Rega.”

“Bisa tanya sama Andri. Atau suruh Andri SMS. Atau lo tanya ke Okky aja. Dia, kan, Ketua Kelas. Pasti tau.”

What the heck!?

Baru akan menyanggah, Valen memotong lagi. “Ayolah. Gue kan SMS tiga orang sekaligus. Fifty-fifty, oke?”

“Ya, ya. Udah, ya. Janjian di Pasar X jam dua. Jangan ngaret!”

Valen menutup sambungan telepon secara sepihak setelah mendengar perkataanku. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung mengirimkan pesan pada Andri dan Okky dengan isi yang berbeda.

[ Messages from Okky_IPA2 ]

Nih nomornya Rega. 0878xxxxxxxx

[ Messages to Okky_IPA2 ]

Makasih ky!

Tergesa-gesa, karena takut membuang waktu, aku langsung mengetik cepat mengirim pesan pada Rega. Cowok itu kadang sering sulit dihubungi. Wajar saja kalau aku cemas. Aku tidak mungkin mengerjakan tugas berdua Valen saja, kan?

[ Messages to Rega_IPA2 ]

Assalamualaikum. Ini rega bukan?

[ Messages from Rega_IPA2 ]

iy. bener. knp?

Singkat banget jawabannya, pikirku.

[ Messages to Rega_IPA2 ]

Ini gue, maulia. Kita mau ngerjain tugas wawancara bu erna. Kumpul di pasar X jam dua bisa ga?

[ Messages from Rega_IPA2 ]

Pake baju apa

[ Messages to Rega_IPA2 ]

Bikini

[ Messages from Rega_IPA2 ]

Oke

[ Messages to Rega_IPA2 ]

Eh, bukan! pake baju biasa.

[ Messages from Rega_IPA2 ]

ya lo pikir gw bakal beneran pake bikini?


Saya heran kenapa hal-hal kecil dan ingatan tidak penting itu tetap terpatri jelas di kepala saya bahkan setelah nyaris empat tahun berlalu. Setelah itu, saya mengirimi kamu SMS dengan isi yang kelewat singkat, padat dan jelas. Tapi kamu bertanya lagi. Hal-hal tidak penting seperti ‘pakai baju apa’, ‘kesana naik apa’, ‘janjian dimananya’, dan sebagainya.

Tapi saya senang. Sebenarnya, semua yang kamu lakukan selalu membuat saya senang. Entah itu datang terlambat ke kelas dan langsung tertidur di mejamu. Atau tertawa sendiri menonton anime di ponselmu. Atau menghabiskan waktu taruhan main flappy bird dengan Revan. Kamu dan semua perilakumu selalu membuat saya senang bahkan ketika saya hanya bisa melihat saja.


“Ga, gue minta minum, ya.”

Rega menoleh ke arahku. Sejenak melupakan apapun itu yang ia lihat di layar ponselnya. “Beli sendiri, dong.”

Aku cemberut.

“Gue gak bawa duit,” pungkasku, melipat kedua lengan di dada. “Sedikit doang, kok. Serius.”

Ia mengangkat kedua bahu sebelum kembali memandang layar ponselnya. Kuanggap itu sebagai jawaban iya, jadi kusedot saja jus alpukat yang baru saja ia beli. Kalau saja aku tak begitu ceroboh dengan meninggalkan dompet di rumah, aku tak perlu meminta pada Rega dengan wajah pernuh permohonan seperti itu.

Beberapa menit berlalu. Tasya sudah dua kali menangis mendengar keterangan anak kecil yang kami wawancarai. Seorang penjual plastik dengan dua orang adik dan orangtua yang kerja serabutan. Aku tidak menangis. Terharu, memang. Tapi ada banyak sekali orang dengan kesulitan yang sama yang kehilangan perhatian. Anak kecil di hadapan kami semua adalah salah satu contohnya.

“Ini yang ngabisin jus gue siapa, sih!?” suara berat Rega memecahkan hening yang agak mencekik di antara kami. “Gue baru minum satu sedot, anjir.”

Aku terkekeh pelan. Berusaha menyembunyikan ringisan bersalah di antara cengiran. “Sori, ya, Ga. Gue aus banget.”

“Bayar,” Rega berkata singkat.

“Gue gak bawa duit…”

“Bodo amat. Bayar.”

“Amal. Anggap aja amal.”

“Bayar.”

Aku menghela nafas. “Yaudah, berapa? Gue ngutang dulu aja.”

“Dua milyar.”

Rega tertawa kecil, tanda kalau ia tak serius dengan perkataannya barusan. Sementara aku malah terbengong-bengong. Bingung harus bereaksi seperti apa.

“Sialan.”


Sampai sekarang, Ahmad. Bayangan tentang kamu masih sering sekali mampir di kepala saya. Mengingatkan saya pada betapa saya sangat mencintai kamu dahulu. Saat saya begitu naif memandang cinta. Saat saya begitu bodoh terus memperjuangkan kamu dalam dua tahun yang panjang. Yang pada akhirnya tak bertahan selamanya seperti yang saya harapkan. Saya tidak pernah lupa.

Mencintai kamu butuh banyak sekali kesabaran, Ahmad. Tidak semudah menulis cerita ini. Tidak segampang membacanya juga. Membaca hati kamu yang abu-abu sungguh menyulitkan saya. Apalagi, dengan banyak sekali perempuan di sekitar kamu yang bisa saja sudah mencuri hatimu sejak lama. Saya tak pernah berani bayangkan kemungkinan itu. Saya tidak bisa.


“Ini payung siapa, woy!?” Rega berteriak. Tak terlalu kencang tapi cukup membuat beberapa turis melirik padanya dengan tatapan aneh. Tapi bukan Rega namanya kalau ia sempat mempedulikan tatapan orang lain. Sang objek malah sibuk mengacungkan sebuah payung berwarna shocking pink tinggi-tinggi.

Payungku.

Seharusnya aku menghampirinya, mengatakan bahwa itu payungku dan menawarinya berjalan menuruni bukit bersama sambil berbagi payung. Selazimnya teman sekelas, aku sudah seharusnya melakukan itu. Tapi sayang sekali, berada dalam radius dua meter di dekat Rega saja cukup membuatku salah tingkah.

“Payung gue, tuh! Siniin!” aku meruntuk nada ketus yang kukeluarkan.

Rega tampak tak senang. Terbukti dari wajah heran bercampur kesalnya. Ia menyodorkan payungku sambil menimpali ketus: “Biasa aja, kali.”

Aku tahu peristiwa itu akan kusesali seumur hidup. Apalagi, saat Rega akhirnya memutuskan menuruni bukit sambil berbagi payung dengan Prita. Orang yang–aku tahu–pernah punya ketertarikan khusus pada Rega.

Aku menghela nafas.


Perjuangan saya, mungkin tidak terlihat. Karena pada dasarnya saya berjuang melawan rasa sayang yang begitu besar. Untuk kamu. Saya bertahan melawan sakit yang saya buat sendiri saat melihat perempuan lain menyentuh kamu, bicara denganmu, saat saya hanya bisa melihat kamu dari kejauhan. Tak berani menyapa, bahkan bercengkrama lebih jauh.

Pada akhirnya saya menyerah pada kebertahanan yang sudah saya tahan lama. Pada akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan kamu tahu, alih-alih menyembunyiknnya selama bertahun ke depan. Saya menolak menerima perasaan menyesal karena kamu tak bisa tahu bagaimana saya memandang kamu selama hari-hari kebersamaan kita terajut. Saya ingin kamu mengerti, bahwa perasaan saya adalah rasa yang tenggelam dalam percakapan-percakapan singkat kita di dunia maya, pandangan mata kamu, senyuman kecil dan wangi tubuhmu yang samar-samar saya cium dari jok belakang. Saya ingin kamu tahu, arti dirimu dalam hidup saya yang tak berharga.


Entah sudah berapa kali aku melemparkan remasan kertas ke tong sampah plastik di ujung kamar. Cukup banyak untuk memenuhi setengah benda berwarna hijau itu. Rata-rata, semuanya berhenti di kata pertama. Dan karena pada dasarnya aku tak menyukai coretan, aku memilih mengganti kertas berisi kata salah itu ketimbang meneruskan menulis.

“Gue pasti udah gila,” gumamku, meremas rambut di sisi kanan kepala.

“Emangnya lo rela? Bertahun-tahun dari sekarang, lo bakal mikir: apa cinta pertama lo pas SMA kelewat gitu aja cuma karena lo ga berani bilang?”

Perkataan Valen terngiang kembali di kepalaku. Sedikit mengutip perkataan Cindy di film besutan Raditya Dika: Marmut Merah Jambu. Film yang tempo hari kami tonton di bioskop. ‘Kami’ yang kusebutkan disini termasuk juga Rega. Dan kebetulan sialan yang tidak kusengaja membuatku harus berada di kursi bioskop tepat di sampingnya.

Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena membiarkan perasaanku pada Rega dibiarkan tak terkatakan. Dipendam, dibiarkan menghilang bersamaan dengan berjalannya waktu. Dikubur dalam-dalam karena aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Aku tidak ingin menyesal menemukan fakta (meski kemungkinannya sangat sangat kecil) kalau Rega memiliki perasaan yang sama. Kalau kebersamaan kami pernah mencapai titik kemungkinan yang tinggi.

Aku hanya tak ingin melewatkan kesempatan. Dan lewat surat cinta yang susah payah kutulis ini, dengan kalimat paling payah yang otakku bisa pikirkan, aku ingin Rega tahu. Bahwa ia sudah berdiam dalam hatiku cukup lama. Bahwa caranya membuatku jatuh cinta sangat sangat sederhana. Bahwa selama dua tahun ini ada gadis yang tetap bersitahan terhadap rasa cinta yang apa adanya.

Graduation ceremony

“Titipin ke gue aja. Nanti gue kasih Rega,” kata Valen di tengah suara penyambutan kepala sekolah. Aku menggeleng. Sebenarnya, aku sudah berniat membakar surat itu sesampainya di rumah nanti.

“Tanggung banget, sih. Lo udah bikin surat. Tinggal kasih aja!” nada Valen meninggi. Tanda kalau ia mulai gemas.

“Malu, Val,” jawabku, menghela nafas panjang.

“Lo emangnya gak takut apa kalo suatu hari nanti–”

“Gue nyesel karena nggak biarin Rega tau? Gue udah mikirin ini dan kedengerannya surat cinta itu bodoh banget.”

At least, minimal Rega tahu kalau lo sayang sama dia buat waktu yang lama. Dan sekalipun dia gak bisa ngebalas perasaan lo, lo gak akan ketemu dia lagi untuk waktu yang sama. Setidaknya, cukup lama buat lupain dia.”

Aku menghela nafas. Berpikir selama beberapa menit sebelum akhirnya menyerahkan selipat kertas ke tangan Valen.


Awal dari hubungan kita sangat lucu, Ahmad. Dan membuat saya lagi-lagi berpikir kenapa harus saya yang memulai semuanya. Percakapan pertama, gerakan pertama, sampai orang yang pertama kali menyampaikan rasa. Selalu saya. Tapi kamu tidak perlu merasa bersalah karena saya tak sedikitpun merasa menyesalinya. Bagi saya, harga untuk mencintai kamu sangat mahal dan kamu layak mendapatkannya.

Kamu ingat hari itu? Jam empat, kamu mengirimi saya pesan singkat. Sangat singkat tapi cukup membuat saya menahan nafas selama beberapa detik setelah membaca. Membuat saya mengutuk diri saya sendiri setelah dengan beraninya berkata saya mencintai kamu untuk waktu yang lama. Waktu itu, kamu berkata: Mau gue balas gak suratnya? dalam pesan singkat yang kamu kirimkan pada saya. Kalau boleh jujur, Ahmad, saya ingin sekali mengubur diri saya sendiri saat itu.

Pada akhirnya kamu ada dalam genggaman tangan saya yang lemah dan nyaris terlepas. Menguatkan jari-jari saya. Membuat saya percaya bahwa saya bisa menggenggam kamu erat-erat semau saya mengingat kamu sudah menjadi milik saya.

Tapi hubungan kita rupanya harus berhenti karena seratus tiga puluh lima kilometer yang membentang di antara kita membuat kamu tak lagi menganggap saya cukup berharga untuk dipertahankan. Saya tak bisa berhenti menangis malam itu. Menangisi kenapa saya tak cukup sabar menghadapi kamu. Kenapa saya tak mencoba mempertahankan hubungan kita. Kenapa jarak seratus tiga puluh lima kilometer itu bisa mengalahkan penantian saya selama bertahun sebelumnya?


Sudah entah-ke-berapa kalinya Rega menghilang. Tak ada berita, tak ada kabar bahkan tak lagi ada ucapan selamat pagi seperti yang biasa ia tuliskan dalam pesan singkat di antara kami. Aku terus menunggu, di tengah kesibukan yang mulai terasa mencekik. Di antara tumpukan tugas dan jadwal pertemuan mahasiswa yang mulai tak terkendali. Tapi Rega tak juga memberi kabar. Ia bahkan menolak menelepon atau ditelepon karena alasan tak jelas yang tak kumengerti.

Kesal, jelas. Aku bukan tak percaya padanya. Rega memang terlalu malas selingkuh, dan aku tahu ia tak berbohong. Tapi jarak kami tak lagi sedekat dulu. Aku tak bisa lagi bertemu dengannya kapanpun aku ingin dan itu sangat mengganggu. Tanpa kusadari, ia mulai melebarkan jarak, membiarkan kami jauh secara tak kasat mata dan saat aku mulai peka, Rega tak lagi bisa kujangkau.

[ Messages to Ahmad ]

Mau gini terus sampai kapan, Ga? Aku capek

[ Messages from Ahmad ]

Gini gimana?

[ Messages to Ahmad ]

Ya kamu hilang. Nggak ngabarin aku berhari-hari. Tiap aku tanya selalu aja ngalihin topik, atau marah. Ditelepon gak mau. Aku nggak ngerti.

[ Messages from Ahmad ]

Terus kamu maunya gimana?

[ Messages to Ahmad ]

Aku sayang sama kamu. Tapi sayangku nggak bisa dijadikan alasan buat kamu kayak gini ke aku.

[ Messages from Ahmad ]

Kita udahan aja, ya? Gak enak aku giniin kamu terus.

[ Messages to Ahmad ]

Jadi gitu, mau kamu?

[ Messages from Ahmad ]

Iya. Kalau kamu?

[ Messages to Ahmad ]

Aku nggak mungkin nyuruh kamu tetap stay sementara kamu mau pergi, kan? Makasih buat semuanya, Rega. 🙂


Saya bisa mengawali semuanya, Ahmad. Saya bisa mengawali percakapan pertama kita tentang jam janjian wawancara kelompok. Saya bisa mengawali interaksi antara kamu dan saya setiap saya ingin–dan gatal rasanya–bicara padamu meski lewat deretan huruf. Saya bisa mengawali jadi orang yang pertama kali membuka diri. Membiarkan kamu menilik ke dalam novel buatan saya yang secara tak kamu sadari, berisi ungkapan cinta saya kepadamu yang tak bisa saya katakan secara verbal. Saya bisa mengawali semuanya kecuali satu hal.

Meninggalkan kamu.

Jadi kenapa ketika kamu pada akhirnya mengawali sesuatu bersama saya, kamu justru jadi orang yang pertama kali menyerah? Jadi orang yang pertama kali pergi? Saya tidak mengerti.

Sampai sekarang, Ahmad. Sampai detik ini saya masih ingin tahu apa arti saya di matamu. Apa arti diri saya saat itu, empat belas Mei dua ribu empat belas. Saat kamu membaca surat cinta berisi kalimat payah yang setengah mati saya rangkai. Saat kamu akhirnya memutuskan menelepon saya dan meminta saya jadi pacarmu. Saya ingin tahu.

Saya ingin tahu apa arti saya untuk kamu saat kamu bawakan saya sekotak penuh puding coklat buatan sendiri. Saat kamu rela hujan-hujanan mengantar saya pulang dari tempat les. Saat kamu menggenggam tangan saya atau saat kepala kamu menyandar pada bahu saya di dalam bioskop. Saya ingin tahu arti dari semua perlakuan manis yang kamu lakukan pada saya, Ahmad. Sedikit saja, saya ingin berpikir bahwa kamu membutuhkan saya.

Kisah saya dan kamu adalah sebuah memoar menyakitkan yang seringkali saya buka-buka. Hanya untuk melihat betapa naifnya saya saat jatuh cinta padamu. Sekedar mengingatkan diri saya bahwa saya pernah begitu jatuh untuk seorang laki-laki seperti kamu. Yang meskipun sudah memecahkan hati saya menjadi serpihan kecil, tetap menjadi laki-laki paling manis yang pernah singgah di hati saya. Cinta pertama saya.

Semoga kamu bahagia selalu.

 

Salam sayang,

Maulia Syarif.

Kesempatan Kedua

(pict by: www.viewbug.com)

“I have had enough. Maybe the word ‘happiness’ didn’t match with us.”

Tasya Ilyas Mahardika mengusap pinggiran gelas Ice Cafe Latte miliknya. Matanya menatap lurus, nyalang dan penuh luka. Beberapa kali air matanya menggenang, dan Tasya menyesap lagi kopi pahit itu untuk mengalihkan kesedihannya. Lidahnya mengkerut. Ia tidak suka kopi, tapi minuman pahit itu menemaninya di saat-saat terburuk dalam hidupnya.

Di depan sana, Darryl sibuk memainkan rambut Martha, membuat gadis blasteran Indonesia-Australia itu berkali-kali tersipu malu.

Ya, Darryl Muhammad. Kekasihnya.

Ini bukan pertama kalinya Tasya memergoki Darryl duduk di cafe dengan Martha. Kebanyakan merupakan ketidak sengajaan yang menurutnya agak gila. Dua bulan lalu, saat mamanya meminta ditemani ke salon, Tasya bertemu mereka. Darryl dan Martha tampak sedang memesan dua gelas kopi tepat di seberang salon tujuannya. Dua minggu kemudian, saat Tika memaksanya ke Gramedia demi berburu novel serial kesukaannya, ia bertemu mereka lagi. Saat itu Darryl malah kepergok sedang mencium pelipis Martha penuh sayang.

Tepukan di bahu Tasya membuyarkan lamunan gadis itu, memaksa air matanya melesak keluar dan membuat jejak di pipi kanannya. Avantika, partner-in-crime nya, menarik kursi empuk tepat di depan Tasya. Alis gadis itu mengerut memandang jejak air mata di pipi Tasya; yang tidak keburu ia hapus.

“Tas? Lo kenapa?” tanya Tika, menyentuh lengan Tasya lembut. Tasya menggeleng.

“Tas..”

“Gue gak apa-apa, Tik.”

Tika tidak percaya, tentu saja. Ada banyak arti dalam kalimat ‘tidak apa-apa’ yang Tasya lontarkan dan instingnya bilang, apapun itu, bukan hal yang baik. Tika menoleh, menatap arah seratus delapan puluh derajat dari posisinya dan mendapati Darryl sedang terkekeh geli, bersama Martha.

“Bangke!” maki Tika, beranjak dari kursinya berniat membuat perhitungan dengan cowok brengsek itu.

Tasya menyambar salah satu tangan Tika, menggeleng kuat-kuat sambil menggigit bibir. “Jangan, Tik. Ini tempat umum!”

Tika menatap Tasya dengan tatapan tidak percaya. “Tas! Ini udah ketiga kalinya lo mergokin mereka berdua! Selama ini lo diem aja, terus aja percaya kalau Darryl cuma khilaf, khilaf. Ini namanya kebablasan!”

Seruan Tika tanpa sadar malah menarik perhatian nyaris semua pengunjung cafe kecil itu. Termasuk Darryl dan Martha yang kemesraannya terganggu; setidaknya begitulah pikiran Tasya. Ia memiringkan kepalanya, memandang kedua orang yang berjarak dua kursi dari mereka itu dengan tatapan terluka. Wajah Tasya pucat pasi, kontras sekali dengan matanya yang sembab dan memerah. Mungkin Tika benar. Mungkin diam kadang bukan aksi yang tepat. Tidak akan pernah ada perubahan apapun selama dirinya masih diam saja.

“Sekarang lo kesana, ngomong sama Darryl kalo kalian udah cukup sampai disini aja. For God’s sake, Tasya! You deserves somenone’s better than that jerk!

Tasya mengangguk. Setelah dua bulan mengabaikan koar-koar Tika soal hubungannya yang sudah hancur sejak lama, Tasya akhirnya setuju. Ia akhirnya memutuskan berjalan maju ketimbang terus berdiri memandang Darryl yang jelas-jelas sudah meninggalkannya.

Dada Tasya naik, tanda ia sedang menarik nafas panjang demi menenangkan dirinya sendiri. Siapkah dia melepas Darryl sekarang? Setelah tiga tahun hubungan mereka yang jatuh bangun? Setelah perjuangannya yang tidak bisa dibilang main-main?

Tasya harus bisa. Dengan langkah mantap, ia berjalan ke arah dua orang yang selama dua bulan ini menjadi penghias mimpi-mimpi buruknya. Suara ketukan langkah sepatu Tasya terdengar seperti genderang kematian di telinga Darryl. Ia tidak pernah mengira Tasya akan memergoki perselingkuhannya seperti ini, secepat ini.

“Halo, Dar,” sapa Tasya diiringi senyuman pahit yang mati-matian ia sunggingkan. “Halo juga Mar.”

“Tas…aku bisa jelasin ini…” Darryl bangkit dari kursinya, melepaskan pelukan Martha di lengannya.

Alis Tasya terangkat sebelah. “Jelasin apa lagi, Dar? Mataku masih berfungsi dengan baik. Memang ada bedanya kalau aku dengar penjelasan kamu?”

Darryl panas dingin.

For your information, aku sudah tahu hubungan kalian sejak dua bulan yang lalu. Waktu kamu nganter Martha ke salon lalu mampir ke d’Lotéire setelahnya,” Tasya mengangkat bahu. “Padahal kukira kamu beneran mau latihan futsal waktu itu.”

Mata Tasya melirik Martha yang seolah mengekerut di kursinya. “Mar, kamu cantik banget, sih,” pujinya tulus. “Sayangnya suka sama cowok orang, ya?”

Ketiga orang itu, tanpa sadar jadi tontonan semua pengunjung cafe. Tasya tidak peduli. Ia ingin urusannya disini segera selesai agar ia bisa menangis di bahu Tika sepuasnya saat sampai di rumah nanti.

“Kita sampai sini aja, ya, Dar. I’m too good for a jerk like you.”

Tasya langsung berbalik dan berjalan menjauh. Tidak berniat sama sekali memandang Darryl yang terpaku di belakangnya. Mungkin setelah ini ia akan memaksa Tika menemaninya menonton He’s Just Not That Into You sambil menangis sesegukan, meski yakin air matanya tidak ditujukan untuk film yang dia tonton. Mungkin untuk sementara, Tasya tutup rapat dulu saja hatinya sambil membersihkan kotoran yang Darryl tinggalkan dan menyembukan luka yang mantan pacarnya itu torehkan.

***

Tasya sibuk merapikan buku-bukunya, menyusunnya dengan rapi di dalam tas sambil mendengarkan gerutuan Tika yang tidak berujung. Sahabatnya itu baru saja kena damprat Oktaluki, senior mereka yang juga senior Tika di UKM majalah kampus. Tasya menimpali sesekali, menekankan kalau Okta hanya ingin menarik perhatian gadis itu. Senior normal mana yang akan terus-terusan memarahi junior yang sama setiap minggu?

Kedua sahabat itu baru saja akan keluar dari kelas saat Darryl berjalan masuk. Cowok dari Fakultas Psikologi itu kelihatan kacau dengan janggut yang mulai panjang, berewok acak-acakan dan rambut lepek. Kantung matanya lebih hitam dibanding terakhir kali Tasya bertemu dengannya, di cafe, saat mereka putus secara resmi. Ia berusaha mengusir gagasan kalau mungkin saja Darryl kacau karena mereka putus.

Kedengarannya lucu.

“Tas, aku mau ngomong…”

“Eh, cowok brengsek. Lo gak ngerti arti dari kata putus, ya? Itu artinya ‘never show your fucking face in front of me again’,” Tika mendengus keras sambil menatap Darryl sengit. Tasya berusaha menahan tawanya.

“Mau ngomong apa?” Tasya menatap Darryl datar. Ada luka yang terbuka di hati Darryl saat melihat tatapan gadis itu.

“Aku…khilaf, Tas. Aku udah nggak berhubungan lagi sama Martha sekarang. Aku mau kita ngulang semuanya dari awal lagi…”

Kediaman Tasya, harus ia akui, membuat Darryl menahan nafas.

“Dar, kamu itu buku yang udah selesai aku baca. Kalaupun aku baca ulang, endingnya akan tetap sama. Mungkin…” Tasya menarik nafas. “…mungkin kata bahagia memang nggak pernah ada buat kita, Dar. It was over.”

“Kasih aku kesempatan kedua..”

“Kesempatan kedua kamu datang di masa dua bulan kediamanku, Dar. Dan kamu menyia-nyiakannya.”

Setelah mengucapkan itu, Tasya berjalan begitu saja melewati Darryl. Meninggalkan semua kenangan mereka di belakang. Ia sudah memutuskan untuk berjalan maju. Darryl adalah masa lalu yang patut ia hargai, Tasya mengakui itu. Tapi kesempatan kedua selalu datang pada mereka yang memang layak mendapatkannya, dan Darryl bukan salah satunya.

***

END

***

Sekelam Malam

“The pain of love is the pain of being alive.”

Dua bulan, bagi Tika berjalan terlalu cepat. Sebenarnya waktu-waktu yang ia lewati bersama Guntur memang selalu terasa begitu cepat. Tapi anehnya, semua kenangan dan momen yang sudah mereka lewati bersama seolah melekat erat dalam memorinya. Tika tidak berniat melupakannya, juga tidak berniat mengabadikannya. Baginya, momen indah selalu terasa berharga saat dikenang sendiri. Ada harga yang tak bisa diganti saat ia sadar, kenangan-kenangan itu tidak bisa lagi diulang.

Tika ingat dengan jelas wangi Guntur yang seperti lemon bercampur dengan mint. Mereka duduk di kursi bioskop sore itu, menunggu pemutaran film Transfrmers 4: Age of Extinction yang sudah masuk dalam list EXTREMELY-MUST-TO-WATCH nya sejak lama. Beberapa tetes air hujan yang sempat mengguyur mereka di jalan masih menggantung di ujung rambut Guntur yang lurus dan sedikit kaku. Entah mendapat dorongan dari mana, Tika mengeluarkan beberapa lembar tisu dan menarik kepala itu mendekat, menggosok rambutnya dengan lembut dan hati-hati.

Guntur tersenyum, puas karena diperhatikan begitu rupa. Tika sendiri malah sibuk menebak wangi apa yang lagi-lagi menguar dari tubuh cowok itu, pacarnya, selain lemon dan mint. Selesai menggosok, Tika sadar kalau Guntur memakai sampo yang sama dengan ayahnya. Sampo berbau mentol. Dan ia suka.

Kenangan-kenangan mereka berputar lagi seperti gasing. Memusingkan, mendebarkan, juga membuatnya rindu. Dua bulan terakhir yang ia habiskan dengan Guntur terasa begitu indah sampai Tika mengira semuanya hanya mimpi. Mereka bergandengan tangan, tersenyum, tertawa karena hal konyol dan menonton film bersama. Tidak ada yang salah kecuali kebahagiaan yang datang bertubi-tubi.

Tika menggulingkan tubuhnya ke kanan, telentang di atas ranjangnya. Tangan kanannya menjangkau ponsel yang tergeletak di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya. Ia harus; lagi-lagi; mendesah kecewa karena tidak menemukan notifikasi apapun dari ponsel pintar itu. Sudah seminggu. Ya, sudah seminggu Guntur menghilang tanpa pemberitahuan apapun. Tidak meneleponnya, tidak muncul di rumahnya, bahkan tidak memberinya satu katapun dalam pesan. Ia menghilang, seperti mimpi musim semi yang tiba-tiba menguap di musim panas selanjutnya.

“Jangan ingat-ingat, Tik. Dia aja mungkin gak inget sama lo,” bisiknya pada dirinya sendiri. Tika tahu dirinya tidak bisa menutup mata. Kalau mengabaikan Guntur begitu mudah, ia sudah melakukannya sejak dulu.

***

“Hari ini kamu kondangan ke Pak Ruben, ya. Papa males kesana. Mamamu kebetulan lagi di rumah Tante Vera, baru lahiran kemarin soalnya,” ajak Bambang pada anak keduanya yang sejak tadi sibuk mengunyah keripik kentang di depan televisi.

Tika mengerutkan kening. Kenapa dirinya tiba-tiba terjebak dalam tanggung jawab menghadiri pesta kondangan orang tua?

“Lha, Pak Ruben? Papanya Findi? Emang Mamanya kenapa Pa? Kok udah nikah lagi aja?!” Tika heboh sendiri. Pak Ruben yang dimaksud Papanya adalah teman beliau sewaktu PKL dulu. Keluarga mereka menetap di Bandung sudah sejak lama. Siapa sangka pula Tika dan anaknya, Findi, bisa bersahabat sangat dekat sejak keduanya menginjakkan kaki di SMA Mandala.

“Hush, ngawur kamu!” Bambang mendesis. “Itu anaknya ada yang tunangan katanya.”

Tika mengangguk-angguk. Seingatnya, Findi memang punya seorang kakak laki-kaki. Bang Alpen, begitu ia biasanya menyebut cowok itu. Dan seingatnya juga, Alpen memang sudah punya pacar. Jadi mungkin Alpen lah yang dijodohkan dalam kasus ini mengingat ia juga sudah punya pacar.

“Terus aku datang sendiri? Dih ogah banget. Berasa jones banget, Pa!”

Bambang terkekeh pelan. “Sama Arya aja, gih. Daripada dia duduk terus di depan PS, mending kamu ajak.”

Tika mengangguk lagi. Mengajak Arya berarti harus menyediakan sogokan banyak. Seperti makan siang di Double Steak atau ngopi di Coffee and Dan’s Jalan Naripan, mungkin. Tika mengankat bahu tidak peduli. Ini, kan, permintaan Papanya. Jadi beliau juga harus menanggung biayanya.

“Nanti Papa kasih uang buat ngopi, deh,” kata Bambang seakan mengerti isi kepala anaknya.

Tika nyengir lebar.

***

Malamnya Tika sudah siap dengan sebuah kaos rajut panjang putih gading dan celana batik dengan potongan sempit di pinggang dan melebar sampai kakinya yang dibungkus sandal kulit bertali dengan model santai yang tetap feminin. Rambut hitamnya diikat kuda di belakang kepala, menyisakan poni menyamping rapinya yang ia selipkan di belakang telinga. Khusus hari ini, Bambang mengizinkan anak bungsunya, Arya, mengendarai mobil meski usianya masih 14 tahun. Dan bisa ditebak, Arya langsung menyetujui permintaan sang Papa tanpa mendebat apapun lagi.

“Untung yang ke pesta sama gue itu lo,” kata Arya santai sambil mengendarai mobilnya. “Kalo Kak Alka, duh gila. Bisa berjamur gue nunggu dia dandan doang.”

Tika tergelak. “Ngatain kakak sendiri, dosa lo!”

“Emang bener, kan?” timpal Arya, tidak mau kalah. “Ngomong-ngomong Pak Ruben ini bukannya bokapnya temen lo, ya? Siapa itu namanya?”

“Findi.”

“Nah, iya. Dia.”

Tika mengangguk. “Gue ngesms dia tadi pagi, tapi dia gak bales. Ribet ngurusin tunangan kakaknya kali, ya?”

“Emang kakaknya yang tunangan?” tanya Arya lagi.

Tika termenung sebentar. “Kalo bukan Bang Alpen, terus siapa, dong? Pak Ruben?”

“Ya bisa aja si Findi itu,” timpal Arya ringan.

Tawa Tika mendadak terlantun. “Masa iya! Dia punya pacar aja nggak! Taksiran sih, ada. Tapi gue gak dikasih tau siapa namanya.”

“Ya gue bilang kan bisa aja,” Arya misuh-misuh sendiri. Kebiasaan Tika kalau sudah bicara, tidak akan berhenti. Sepanjang jalan kakaknya itu tidak berhenti bercerita; lebih tepatnya mendumel; tentang pacarnya yang sudah beberapa hari tidak memberinya kabar. Arya berusaha sekuat tenaga menahan dorongan dalam dirinya sendiri untuk menginjak rem dan menghantamkan kepala Tika ke dasbor mobil. Beruntung, mereka sampai beberapa menit kemudian. Minimal, Arya sudah berhasil mencegah dirinya sendiri menjadi kriminal atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap kakaknya.

Konsep pesta pertunangan yang diadakan adalah sebuah Garden Party sederhana yang tetap kelihatan elegan. Arya berjalan santai dengan setelan formalnya, tidak sadar kalau dirinya sudah mengundang beberapa tatapan penasaran dari para gadis yang hadir. Tika mendecih dalam hati. Dirinya mau tidak mau harus mengakui kalau adiknya memang tampan, sih.

Setelah mengambil dua gelas pouch, Tika berniat langsung menghampiri Arya ketika suara nyaring dari mikrofon di atas panggung menarik perhatiannya. Ruben, sang tuan rumah, berdiri disana dengan senyum sumringah. Di sisi panggung, Tika bisa melihat Alpen berdiri bersama kekasihnya, menatap sang ayah dengan tatapan bahagia.

“Selamat malam, hadirin sekalian,” sapa Ruben sopan. Tika mengurungkan niatnya menghampiri Arya yang berada tak jauh darinya. Tika menggerakkan jari, menyuruh adiknya itu mendekat sementara ia sendiri memasang telinga baik-baik, mendengar pengumuman Ruben.

“Saya sangat tersanjung atas ketersediaan kalian semua hadir di acara keluarga kami malam ini. Dengan bahagia, saya, Ruben Ruri Tanjung mengumumkan bahwa hari ini putri saya, Findi Fahasya Tanjung akan melangsungkan pertunangan!”

Terdengar suara tepuk tangan di berbagai arah. Tika sendiri tak bisa menahan keterkejutannya. Findi bertunangan dan ia tidak memberitahu Tika? Bukankah mereka sahabat?

Findi berjalan sambil tersenyum manis ke atas panggung. Ia jelas sekali merasa bahagia. Tubuhnya dibalut gaun pendek berbahan sutra berwarna putih susu dengan kerah berlipat dan tanpa lengan. Rambutnya disanggul rapi ke atas, menyisakan anak rambutnya mengikal di kedua sisi wajahnya. Ia cantik, tapi Tika tidak punya waktu memuji kecantikannya sekarang. Pertanyaan tentang kenapa Findi bertunangan tanpa memberinya kabar lebih dulu cukup mengejutkannya.

“Baiklah, saya mengerti anda semua pasti sudah mengenal calon tunangannya. Putra dari Bapak Jovan Gumilang..”

Arya sampai di sisi Tika ketika kakaknya itu mendadak limbung, menjatuhkan gelas pouch yang dibawanya ke rumput hijau di bawah kaki mereka. Beruntung, ia cukup sigap menahan punggung gadis itu agar tidak menghantam meja.

“Kak, lo kenapa?” tanyanya khawatir. Meski sempat merencanakan pembunuhan; yang tentu saja tidak serius; terhadap kakaknya tadi, Arya tetap saja adik manis yang khawatiran.

“…Guntur Gumilang!” iris coklat susu Tika mengawasi pergerakan cowok itu, masih sambil berusaha mengontrol emosinya. Cowok yang beberapa menit lalu masih ia ketahui berstatus sebagai pacarnya. Dan detik ini berubah menjadi tunangan dari sahabatnya sendiri. Tika tidak habis pikir dunia bisa sedrama ini.

“Lho, Kak. Guntur itu bukannya…” Arya menggantungkan kelimatnya saat melihat tatapan membunuh Tika, yang begitu kontras dipadukan dengan wajah pucat pasinya.

“Anter gue pulang, Ya,” pinta Tika, nyaris seperti bisikan angin.

Arya mengangguk, tidak bertanya apapun lagi. Ia meraih pinggang Tika, merapatkan gadis itu di dekatnya berniat menjaga keseimbangan sang kakak. Tapi tangan Tika menahannya, sorot matanya masih tajam. Dari gerakan tubuhnya, Tika seolah menyiratkan kalau Arya harus menunggu dulu. Tapi menunggu apa?

Tika menatap lurus pada mata Guntur, yang sibuk mengawasi gerak-gerik malu-malu dari Findi yang berjarak beberapa meter darinya, hanya dibatasi tubuh Ruben yang cukup gempal. Ia ingin Guntur melihatnya. Ia ingin cowok itu tahu kalau dirinya ada disini, dengan mata dan telinga yang masih berfungsi sempurna, menangkap dan mencerna semua kejadian dengan cepat.

Harapan Tika bersambut. Mata hitam Guntur melebar saat menangkap sosok Tika berdiri dalam rangkulan Arya, menatapnya dengan tatapan sengit bercampur luka. Ia mundur selangkah, menjaga keseimbangannya. Kata-kata yang terlontar dari mulut Ruben tak lagi bisa ia cerna dengan baik. Tika disana, berdiri memandangnya.

“Ayo, Ya,” Tika memalingkan wajah, tak sanggup bertatapan lebih lama lagi dengan mata hitam milik pengkhianat itu. Tangannya meremas lengan jas yang Arya pakai, pelampiasan dari air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Tika akan pergi, batin Guntur. Ia benar-benar pergi sekarang.

Guntur muak dengan semua ini. Tanpa menghiraukan apapun atau siapapun, ia berlari menuruni panggung, mengejar Tika yang masih berusaha berjalan secepat ia bisa.

“TIKA!” panggilnya saat gadis itu sudah berada di gerbang depan.

Tika tidak menoleh, tapi ia berhenti berjalan. Tangannya dengan lembut melepaskan rangkulan Arya dan menyuruh adiknya itu mengambil mobil.

“Yakin?” tanya Arya.

Tika mengangguk. Ia membalikkan tubuhnya saat Arya pergi. Tidak ada air mata yang turun, karena ia tidak akan membiarkan Guntur dan Findi menang. Ia tersenyum tipis, menyembunyikan kegetirannya.

“Hai, Tur,” sapanya sopan. “Bukannya lo mau tuker cincin, ya? Kok disini?”

Guntur merasa ada sesuatu yang menghantam dadanya saat Tika tidak lagi memanggilnya Lang seperti dulu.

“Tik, gue bisa jelasin…”

“Lang!” sebuah suara menginterupsi kalimatnya. Findi, terengah-engah di belakang cowok itu. “Kamu kenapa…Tika?”

“Hai, Fin. Maaf ya, bokap gue gak bisa datang. Dia galau ditinggal nyokap di rumah Tante Vera. Dia titip salam, selamat katanya,” Tika nyengir lebar, menertawakan dirinya sendiri. Mungkin setelah ini ia harus ikut audisi pemain film. Aktingnya bagus sekali.

“Tik, gue…” Findi kelihatan merasa bersalah.

“Santai aja,” Tika mengangkat bahu. “Gue sibuk banget tadi mikir kenapa lo tunangan dan nggak ngabarin gue sama sekali. Eh taunya…” Tika melirik Guntur.

“Sama Guntur, rupanya,” ia terkekeh.

Guntur merasa dunianya runtuh saat itu juga. Ia lebih baik melihat Tika menangis dan memakinya ketimbang menatap wajah riang gadis itu. Ia tahu Tika bohong, tapi perasaan terbuang dan bersalah ini terus mengganggunya. Kenapa Tika begitu ahli berbohong? Bahkan matanya…matanya begitu kosong seolah ia memang tidak masalah mendapati Guntur siap bertunangan dengan Findi sekarang.

TIN TIN!

Klakson mobil membuyarkan lamunan Tika. Ia menoleh ke belakang, Arya sudah berdiri di samping mobil, menunggunya.

“Eh, gue harus cabut sekarang. Sekali lagi selamat, ya! Have a very long lasting relationship!”

Setelah Tika mengucapkan itu, ia berbalik dan berjalan santai menuju mobil. Guntur diam, terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak mengira Tika akan tahu kebenarannya secepat ini. Di belakangnya, Findi malah sudah tidak bisa membendung tangis. Satu sisi dalam dirinya merasa begitu bersalah pada Tika. Sahabatnya yang selama tiga tahun ini mengisi hari-harinya dengan berbagai emosi. Sisi lainnya, kekeuh ingin memiliki Guntur bagaimanapun caranya. Sudah cukup ia mengalah pada Tika perihal cowok itu selama ini.

“Lang…”

“Jangan panggil gue dengan nama itu!”

Dan air mata Findi makin deras saat Guntur berjalan melewatinya begitu saja tanpa melirik.

Di dalam mobil, Tika memejamkan matanya dan cairan bening itu meluncur turun dengan indahnya. Makin lama makin deras. Tika mengigit bibir, menahan isakannya. Arya paham kakaknya memang tidak mau terlihat lemah, jadi ia memutuskan untuk mengencangkan volume radio.

“Nangis aja, Tik. Gue bakal menanggap semua ini tidak pernah terjadi,” kata Arya sebelum mengencangkan volume, menelan mereka dalam melodi sendu The Carpenters.

Tika mengisak, ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan terus menangis. Ia harus menangis untuk menghapus Guntur dari memorinya. Ia harus menangis untuk melupakan kalau dirinya pernah begitu mencintai cowok itu sampai merasa tergila-gila. Ia harus menangis untuk mencoret nama Findi dari daftar sahabatnya. Ia harus menangis untuk melegakan hatinya yang sesak.

Tika menangis dan terus menangis. Menghapus semua memori masa lalu indahnya yang hancur dalam semalam.

***

END

***

 

Jiwa Masa Lalu

( pict of: wall.alphacoders.com )

Maulia bermimpi tadi malam. Ia terjebak di dalam sebuah ruangan gelap. Seberapa jauh pun ia berjalan, atau melompat, atau mencoba meraba sisi sisi dinding, ruangan itu tidak berujung. Tidak juga bersisi. Ruangan itu adalah tempat yang dibuat memori masa lalunya. Memerangkap Maulia, seolah tidak membiarkan gadis itu lupa akan peristiwa peristiwa yang membentuk dirinya menjadi seperti ini.

Beberapa hari belakangan ini, dirinya terlalu sering memimpikan Hardit. Laki-laki itu adalah serupa setangkai mawar di kebun kaktus. Indah, mencolok sekaligus memikatnya dengan cara yang sangat menawan. Bagi Maulia, mendamba Hardit adalah kesalahan besar. Maulida sadar diri, ia tidak cukup pantas menyandingkan diri di balik Hardit. Ia sadar betul akan posisinya. Tapi toh, ia cuma gadis biasa. Dan seperti gadis-gadis lainnya, yang memiliki perasaan dan kepekaan tinggi, Maulia tidak bisa berhenti. Ia sampai di titik, dimana keberadaan Hardit selalu ingin diketahuinya. Dimana wajah dan namanya saja mampu membuat kepalanya pening dan perutnya tergelitik.

Maulia sadar diri, karena itu ia memilih untuk menyimpan segalanya sendiri.

Restia bilang, ia pintar sekali menyembunyikan perasaan. Maulia mengakui itu. Sejak kecil, ia belajar bahwa menunjukkan perasaan pada orang lain kebanyakan berujung sia-sia. Do not ever tell your problems to anyone. Most of them aren’t care, the rest, are glad you have them. Maulia tidak senang melakukan hal yang sia-sia. Jadi ia menyembunyikan semuanya. Menutupinya di balik topeng datar yang dilatihnya selama bertahun-tahun. Ia sembunyikan perasaannya untuk Guntur selama dua tahun. Ia sembunyikan juga rasa sukanya pada Hardit sekarang. Ia kemas dengan baik, ia segel dengan label terbaik. Maulia tidak membiarkan sedikitpun cela membocorkan rahasianya.

Di sebuah sore, ditemani dua botol moccha yang sudah kosong dan sepiring chicken twist yang sudah tak bersisa, Maulia menghabiskan waktunya dengan Restia. Bicara tentang pribadi masing-masing. Tentang diri mereka yang tidak diketahui orang lain. Tentang kebiasaan mereka, juga tentang masa lalu.

Masa lalu Maulia adalah sebuah kotak yang dipenuhi wajah Guntur Gumilang. Ia tidak punya masa lalu sebelum itu, tidak berminat menciptakan kenangan baru di masa sekarang dan belum memikirkan masa depan. Terjebak, adalah keadaan paling menyedihkan bagi Maulia. Tapi rasanya jelas berbeda saat ia terjebak di masa lalunya sendiri. Masa lalu, yang ia rajut dengan hati-hati bersama Guntur. Meski harus Maulia akui, akhir ceritanya tetap berupa benang kusut yang belum bisa diurai.

Sampai sekarang.

Cerita Maulia dan Guntur adalah sebuah drama. Dengan ending yang tragis, tentunya. Bagi Maulia, tidak banyak laki-laki di dunia ini, yang mencintainya apa adanya. Maulia tidak punya sisi menarik, cenderung membatasi diri, tidak ramah, tidak manis dan sedikit tomboi. Tapi semua kesan tidak menyenangkan yang ia timbulkan luluh, luntur, lantak saat ia bicara pada Guntur. Maulia lucu, seperti gadis kebanyakan, ia manis. Ia bersikap kekanakan, manja dan sensitif. Bedanya, ia hanya menunjukkan sisi manisnya itu pada orang-orang tertentu. Dan selama 16 tahun hidup di dunia, Guntur adalah orang pertama yang membuka topengnya.

Lewat percakapan sore itu, Maulia makin menyadari posisinya di hadapan Hardit. Ia begitu kecil, begitu kerdil di hadapan pemuda itu. Tidak ada peluang. Dan sebelum Maulia mulai sakit hati, ia memilih berhenti.

Saat Maulia berhenti, tempat perhentiannya adalah masa lalu. Tempat dimana ia meninggalkan sebagian jiwanya, seluruh cintanya. Tempat dimana ia memaku Guntur Gumilang sebagai jiwa yang tak tergantikan. Guntur adalah rumahnya, sekalipun Maulia yakin kalau pemuda itu tidak menjadikannya tempat yang sama. Tempat kembali.


“Aku bukannya tidak bisa lupa. Aku hanya memilih tinggal di masa lalu ketimbang mengulang luka yang sama.”


Maulia tidak peduli apa kata orang. Maulia tidak peduli meski dirinya hidup di masa lalu. Maulia tidak peduli meski ia harus menetap di kotak gelap itu selama beberapa bulan, atau beberapa tahun lagi. Ia tidak peduli.

Karena ia sudah tinggalkan jiwanya disana. Bersama Guntur, dengan sejuta asa dan cinta.

 

Bandung,  20 Maret

Dengan mata yang sudah menyipit.